Masjid Rp1 Triliun Andi Amran: Dari Ritual Membangun Peradaban. Tulisan Toto Izul Fatah.
Oleh: Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
SulawesiPos.com – Di tengah kehidupan yang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta yang dikumpulkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan satu pesan yang patut diapresiasi. Bahwa kekayaan akan menemukan makna tertingginya ketika dikembalikan untuk kepentingan umat.
Pesan itulah yang dapat dibaca dari pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi di Panaikang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid tersebut mulai dibangun pada Oktober 2023 dan kini dilaporkan telah mencapai tahap penyelesaian.
Menurut pengelolanya, nilai pembangunannya mencapai sekitar Rp1 triliun dan seluruh pembiayaannya berasal dari dana pribadi Andi Amran Sulaiman, tanpa sponsor ataupun sumbangan pihak lain. Masjid berkapasitas sekitar 20 ribu jemaah itu ditargetkan mulai dapat digunakan paling lambat pada 2027.
Nama Hajjah Andi Nurhadi yang diabadikan sebagai nama masjid ternyata adalah nama almarhumah ibunda Andi Amran Sulaiman.
Dengan demikian, masjid tersebut bukan hanya sebuah wakaf pribadi untuk umat, melainkan juga persembahan seorang anak kepada ibunya—sebuah ikhtiar untuk mengalirkan pahala dan amal jariyah kepada perempuan yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidiknya.
Ada cinta seorang anak di balik kemegahan bangunannya. Ada bakti kepada ibu di balik besarnya anggaran yang dikeluarkan. Dan yang lebih penting, ada kesadaran bahwa harta yang dimiliki manusia pada hakikatnya hanyalah titipan Allah SWT.
Pembangunan masjid ini patut dilihat sebagai salah satu cara Amran mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas rezeki, kesempatan, dan berbagai nikmat yang diterimanya.
Rasa syukur itu tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi diwujudkan dalam sebuah tindakan besar yang manfaatnya diharapkan melampaui usia biologis pemilik hartanya. Allah SWT berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS Ibrahim: 7)
Tentu kita tidak berwenang menghakimi atau memastikan niat terdalam seseorang. Niat adalah ruang sunyi antara manusia dan Tuhannya.
Namun, secara lahiriah, kesediaan mengeluarkan kekayaan pribadi dalam jumlah sangat besar untuk membangun rumah Allah merupakan tindakan yang layak dihargai.
Kita harus jujur bahwa tidak banyak orang kaya yang memiliki keberanian spiritual seperti itu. Banyak orang sanggup menghabiskan uang untuk membangun rumah mewah dan membeli kendaraan mahal.
Namun, belum tentu mereka bersedia mewakafkan sebagian besar hartanya untuk suatu fasilitas yang manfaatnya dinikmati masyarakat luas. Karena itu, tindakan Amran layak menjadi inspirasi.
Bukan berarti semua orang harus membangun masjid bernilai Rp1 triliun. Ukuran keteladanan itu bukan terletak pada nominalnya, melainkan pada kesediaan berbagi menurut kemampuan masing-masing.
Dalam pandangan Tuhan, kemuliaan pemberian tidak hanya ditentukan oleh besarnya angka, tetapi juga oleh ketulusan hati dan besarnya pengorbanan. Sebab, apa arti harta berlimpah jika tidak melahirkan manfaat? Apa arti kekayaan jika hanya menambah angka dalam rekening, tetapi tidak mengurangi penderitaan dan kebodohan di sekeliling kita?
Namun, apresiasi juga perlu disertai sebuah catatan dan pengingat. Tantangan terbesar pembangunan Masjid Hajjah Andi Nurhadi justru akan dimulai setelah bangunannya selesai.
Membangun masjid yang megah memang butuh biaya besar. Akan tetapi, menghidupkan masjid juga membutuhkan visi, ketekunan, sumber daya manusia, dan tata kelola yang jauh lebih panjang.
Jangan sampai masjid bernilai Rp1 triliun itu hanya ramai ketika salat Jumat, Ramadan, Idulfitri, Iduladha, atau saat pejabat datang berkunjung.
Kita telah memiliki cukup banyak contoh masjid yang sangat indah secara arsitektur, tetapi belum sepenuhnya hidup secara sosial. Kubahnya menjulang tinggi, karpetnya tebal, pendingin ruangannya sejuk, lampunya gemerlap, tetapi program pemberdayaan umatnya justru tipis.
Jangan sampai masjid berhasil dibangun secara fisik, tetapi gagal dibangun secara fungsi. Inilah pekerjaan rumah terbesar Amran beserta AAS Foundation dan seluruh calon pengelola masjid tersebut.
Memang, sesuai dengan spirit awalnya, Masjid Hajjah Andi Nurhadi dirancang bukan hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat kegiatan umat dan pengembangan peradaban Islam di Kawasan Timur Indonesia.
Pada zaman Rasulullah SAW, masjid bukan hanya tempat melaksanakan salat berjemaah. Masjid menjadi pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, penyelesaian persoalan masyarakat, penguatan ekonomi, hingga pembentukan karakter umat.
Dari masjid lahir manusia-manusia berilmu, berakhlak, berani, dan peduli kepada sesama. Masjid bukan sekadar bangunan suci, melainkan jantung kehidupan masyarakat.
Di sanalah iman dipertemukan dengan ilmu, ibadah dipertemukan dengan pengabdian, dan kesalehan ritual dipertemukan dengan kesalehan sosial. Semangat itulah yang seharusnya dihadirkan kembali di Masjid Hajjah Andi Nurhadi.
Dan yang tak kalah penting, masjid juga harus mencerminkan spirit ekoteologi. Melalui masjid yang dibangun itu tercermin pesan untuk merawat lingkungan.
Salah satunya, diwujudkan dalam bentuk tumbuhnya aneka tanaman hijau di sekitar masjid, Termasuk, tanaman bambu dengan jenis tertentu yang bukan saja indah secara artistik, tetapi juga bermanfaat secara ekologi.
Dengan begitu, orang datang ke masjid bukan hanya untuk menunaikan salat, tetapi juga untuk sehat. Yang harus diingat, keberhasilan masjid ini kelak tidak cukup diukur dari tinggi menaranya, luas halamannya, mahal materialnya, atau banyaknya orang yang mengagumi arsitekturnya.
Masjid yang besar harus melahirkan manfaat yang besar. Masjid yang mahal harus menghasilkan nilai sosial yang jauh lebih mahal. Masjid yang indah harus memperindah akhlak manusia di sekitarnya.
Karena itu, Amran tidak cukup dikenang sebagai orang yang membangun masjid senilai Rp1 triliun. Jauh lebih mulia apabila kelak ia dikenang sebagai orang yang menghidupkan sebuah masjid hingga menjadi pusat kebangkitan umat di Indonesia Timur.
Dari praktik ritual ubudiyah berupa salat dan sejenisnya, Andi Amran membangun peradaban. Dan Masjid Hajjah Andi Nurhadi pada saatnya akan menjadi pusat gerakan peradaban yang membawa manfaat dan maslahat bagi umat, bangsa dan negara.
Jika itu berhasil diwujudkan, maka Masjid Hajjah Andi Nurhadi bukan hanya akan menjadi persembahan seorang anak kepada ibunya. Ia juga akan menjadi persembahan seorang manusia kepada umat dan Tuhannya.
Jakarta, September 2026