Categories: Opini

Jangan Paksa Appi Pindah

Oleh: Muhammad Randhy Akbar

Dosen Ilmu Pemerintahan Unismuh Makassar

SulawesiPos.com – Munafri Arifuddin mungkin tidak menyangka kegagalannya maju dalam Musda Golkar Sulsel akan membawa pembicaraan ke mana-mana. Soalnya kemudian tidak lagi berhenti pada siapa yang memimpin Golkar Sulsel. Orang mulai bertanya tentang masa depan Appi sendiri di partai itu.

Ada yang menyarankan pindah saja.

Saran itu tentu punya alasan. Appi dianggap telah memiliki modal politik yang cukup besar untuk menentukan jalannya sendiri. Ia Wali Kota Makassar. Elektabilitasnya cukup kuat. Jaringan politik dan sosialnya sudah terbentuk. Pengalaman panjang mengikuti beberapa kali Pilwali Makassar juga membuatnya bukan lagi pemain baru dalam politik.

Ada pula yang melihat persoalan ini dari dinamika Musda Golkar Sulsel. Appi sebelumnya menjadi salah satu figur yang diperhitungkan untuk memimpin Golkar Sulsel. Namun jalan menuju kursi ketua akhirnya tertutup. Ia tidak mengembalikan formulir pencalonan setelah terganjal salah satu persyaratan administrasi, sementara Musda kemudian menetapkan Ilham Arief Sirajuddin sebagai ketua secara aklamasi.

Dari situlah spekulasi berkembang.

Demokrat kemudian ikut disebut. Apalagi Musda Demokrat Sulsel akan berlangsung dan nama Appi mulai dibicarakan sebagai salah satu figur yang mungkin masuk dalam bursa kepemimpinan partai itu. Kehadiran Appi dalam beberapa kegiatan Demokrat semakin membuat spekulasi tersebut hidup. Sejumlah pengamat bahkan menilai Appi memiliki modal yang cukup jika memilih jalan itu.

Saya justru melihatnya dari sisi lain.

Jangan paksa Appi pindah.

Politik memang penuh kalkulasi. Pindah partai bukan sesuatu yang haram. Sejarah politik Indonesia penuh dengan tokoh yang berpindah partai karena perbedaan kepentingan, perubahan konfigurasi kekuasaan, atau karena ruang politiknya di tempat lama semakin sempit.

Tetapi Appi belum tentu berada dalam keadaan yang mengharuskannya melakukan itu.

Kekecewaan terhadap hasil sebuah proses politik juga sebaiknya tidak segera diterjemahkan menjadi keputusan meninggalkan partai. Dalam politik, keputusan yang lahir ketika emosi masih bekerja sering kali membuat kalkulasi menjadi pendek.

Hari ini orang mungkin merasa pintunya telah ditutup. Enam bulan kemudian konstelasi bisa berubah.

Begitulah politik.

Karena itu, keputusan penting seharusnya dibuat dengan kepala dingin. Apalagi bagi seorang politisi yang sedang memegang jabatan publik dan masih mempunyai perjalanan politik panjang.

Bertahan di Golkar justru bisa menjadi pesan politik yang lebih kuat.

Appi dapat memperlihatkan bahwa kekalahan atau kegagalan memperoleh posisi dalam partai tidak serta-merta mengubah loyalitas politiknya. Ada kedewasaan di situ. Orang kemudian melihat seorang Munafri Arifuddin yang mampu membedakan kepentingan sesaat dengan tujuan politik jangka panjang.

Apalagi Appi sendiri sebelumnya sudah menegaskan bahwa dirinya masih kader Golkar. Ketika isu kepindahannya muncul setelah Musda, ia mengatakan masih tetap berada di Golkar. Pernyataan itu penting karena menunjukkan bahwa setidaknya sampai saat ini belum ada keputusan resmi darinya untuk meninggalkan partai.

Tentu bertahan bukan berarti Appi harus melupakan apa yang terjadi.

Ia berhak melakukan evaluasi. Ia juga berhak membaca siapa kawan politiknya, siapa yang konsisten memberikan dukungan, dan bagaimana kepentingannya ditempatkan dalam struktur Golkar ke depan. Politik tidak meminta orang menjadi pelupa.

Tetapi mengingat perlakuan politik dan mengambil keputusan karena sakit hati adalah dua hal berbeda.

Justru di sinilah kematangan seorang politisi diuji.

Seorang politisi akan beberapa kali mengalami kemenangan dan kekalahan. Hari ini mendapat dukungan, besok bisa ditinggalkan. Orang yang pernah berjanji mendukung bisa berubah arah ketika konfigurasi kekuasaan bergeser. Munafri tentu sudah cukup lama berada dalam politik untuk memahami kenyataan seperti ini.

Bahkan pengalaman Pilwali Makassar memberikan pelajaran yang jauh lebih keras.

Appi pernah dua kali gagal menjadi wali kota sebelum akhirnya menang pada Pilwali 2024. Kalau setiap kekalahan membuatnya mengambil keputusan terburu-buru, mungkin perjalanan politiknya sudah mengambil arah berbeda sejak lama.

Ketahanan menghadapi kekalahan itulah salah satu modal politik Appi.

Ada alasan lain mengapa bertahan di Golkar layak dipertimbangkan. Appi sudah mempunyai investasi politik di partai tersebut. Ia Ketua DPD II Golkar Makassar. Jaringannya dengan kader telah terbentuk. Identitas politiknya selama beberapa tahun terakhir juga melekat pada Golkar.

Semua itu tidak terbentuk dalam satu malam.

Pindah partai berarti memulai proses adaptasi baru. Memang mungkin tersedia posisi yang lebih tinggi. Mungkin pula karpet merah dibentangkan. Tetapi politik tidak mengenal jaminan permanen. Sambutan hangat hari ini bisa berubah setelah kepentingan berubah.

Bahkan pengamat yang melihat peluang Appi pindah mengingatkan bahwa dukungan elektoral seorang figur tidak otomatis berpindah secara utuh bersama kepindahannya ke partai lain. Politik jauh lebih rumit daripada memindahkan saldo dari satu rekening ke rekening lain.

Karena itu pertanyaannya seharusnya bukan sekadar: partai mana yang bersedia menerima Appi?

Pertanyaan yang lebih penting adalah: di mana kepentingan politik jangka panjang Appi paling mungkin dibangun?

Jawabannya tidak harus diberikan sekarang.

Appi masih memiliki waktu. Masa jabatan Wali Kota Makassar juga baru berjalan. Ada pekerjaan pemerintahan yang jauh lebih konkret menunggu penyelesaian. Sampah, kemacetan, pelayanan publik, persoalan sosial dan berbagai masalah kota pada akhirnya akan lebih menentukan bagaimana publik menilai kepemimpinannya. Appi sendiri mengatakan bahwa saat ini ia memilih fokus mengurus persoalan masyarakat.

Sikap seperti itu justru menguntungkan secara politik.

Biarkan orang lain sibuk menghitung Appi akan pindah ke mana. Biarkan partai-partai membuka pintu. Tidak perlu buru-buru masuk.

Kalau Golkar masih memberikan ruang, bertahanlah. Bangun kembali kekuatan dari Makassar. Rawat jaringan yang sudah ada. Tunjukkan bahwa kegagalan dalam Musda tidak mengganggu konsentrasi sebagai wali kota.

Dalam politik, kemampuan menunggu kadang sama pentingnya dengan kemampuan bergerak.

Saya bahkan melihat bertahan di Golkar dapat memberikan keuntungan simbolik bagi Appi. Ia bisa berdiri sebagai orang yang pernah gagal memperoleh posisi tertinggi di tingkat provinsi, tetapi tidak marah lalu pergi. Ia tetap bekerja, tetap membesarkan partai, dan tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang mungkin sebelumnya berada di kubu berbeda.

Itulah kedewasaan politik.

Tentu akan berbeda ceritanya jika suatu hari Golkar benar-benar menutup seluruh ruang politik Appi. Jika kepentingan politiknya terus-menerus dibatasi dan masa depannya memang tidak lagi mendapat tempat, pilihan pindah partai sah untuk dipertimbangkan. Tetapi keputusan seperti itu seharusnya lahir dari kalkulasi matang, bukan sebagai reaksi terhadap satu peristiwa.

Politik adalah perjalanan panjang.

Munafri Arifuddin sudah membuktikannya sendiri. Dua kali kalah dalam Pilwali Makassar tidak membuatnya berhenti. Pada percobaan berikutnya ia akhirnya menang.uu

Maka satu kegagalan dalam perebutan kepemimpinan Golkar Sulsel seharusnya juga tidak membuat arah perjalanan berubah secara tergesa-gesa.

Tidak semua pintu yang tertutup harus dibalas dengan mencari rumah baru.

Kadang yang diperlukan hanya sedikit kesabaran untuk menunggu pintu berikutnya terbuka.*

 

 

Andi As

Share
Published by
Andi As
Tags: Appi Golkar Makassar Golkar Sulsel Munafri Arifuddin