Kategori: News

Mortaza Soroti Kedaulatan Yaman Usai Serangan Istana Aden

SulawesiPos.com — Dosen Magister Biologi Universitas Nasional sekaligus Ketua Umum PB HMI MPO periode 2001–2003, Dr. Mortaza A. Syafinuddin Hammada, M.Si., menyerukan penataan kekuatan internal dan penguatan kedaulatan Yaman dengan mengurangi keterlibatan kekuatan asing, ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Jumat, 16 Oktober 2026, menyusul serangan rudal dan pesawat nirawak Houthi terhadap Istana Kepresidenan al-Maashiq di Aden yang menurut pemerintah Yaman menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya.

“Perang Saudi-Yaman sangat patut disayang,” ujar Mortaza, yang menilai perkembangan konflik tersebut perlu dilihat melalui persoalan kedaulatan, keterlibatan pihak luar, dan pertarungan narasi mengenai sasaran serangan.

Mortaza mempertanyakan kemungkinan keberadaan unsur militer asing di pusat kekuasaan Yaman karena, menurut penilaiannya, keadaan semacam itu dapat meningkatkan risiko serangan terhadap lingkungan pemerintahan.

Pandangan tersebut berkaitan dengan klaim Houthi bahwa sasaran mereka merupakan pusat operasi militer Saudi di kompleks istana, tetapi keberadaan dan fungsi fasilitas yang disebut kelompok itu belum terverifikasi secara independen.

Mortaza juga menduga adanya keterkaitan perkembangan konflik dengan operasi intelijen Amerika Serikat dan Israel, meskipun ia tidak menyertakan bukti yang dapat diverifikasi untuk mendukung dugaan tersebut.

Laporan mengenai serangan yang menjadi dasar berita ini tidak membuktikan keterlibatan operasi intelijen kedua negara tersebut, sehingga dugaan itu harus dibedakan dari fakta kejadian.

Sasaran Diperdebatkan, Korban Sipil Teridentifikasi

Serangan terhadap kompleks al-Maashiq terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026, sementara Perdana Menteri Shaya al-Zindani dan anggota kabinet dilaporkan selamat, sebagaimana diberitakan Reuters pada 15 Oktober 2026 dan ABC pada 16 Oktober 2026.

Menteri Kesehatan Qasim Mohammed Buhaibeh menyatakan korban mencakup petugas keamanan dan pegawai sipil, sedangkan CNN dalam laporan 15 Oktober 2026 menyebut dua korban meninggal merupakan anggota pengamanan perdana menteri.

Menteri Informasi Moammar al-Eryani menyatakan lima rudal ditembakkan ke kompleks istana, sementara kabinet Yaman menyebut pesawat nirawak turut digunakan dalam serangan tersebut.

Serangan rudal mengguncang istana Aden, sementara warga menghadapi ketakutan, kelaparan, dan ancaman perang berkepanjangan. (Ilustrasi: ChatGPT).

Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengklaim pihaknya menyerang pusat operasi militer Saudi sebagai bagian dari kebijakan menyasar pengerahan pasukan negara tersebut di mana pun berada.

Mortaza mengingatkan bahwa perbedaan antara klaim sasaran militer dan pemberitaan mengenai serangan terhadap istana dapat membentuk persepsi publik yang berbeda mengenai peristiwa yang sama.

Namun, kekhawatirannya mengenai kemungkinan terbentuknya narasi bahwa petinggi pemerintah tewas perlu diluruskan karena laporan yang tersedia justru menyatakan perdana menteri dan anggota kabinet selamat.

Pemerintah Yaman menegaskan serangan tidak akan menghentikan pelaksanaan tugas pemerintahan maupun menjadikan Aden kehilangan fungsinya sebagai pusat kegiatan lembaga negara.

“Kita berharap berbagai elemen negara sebagai perangkat penjaga kedaulatan Yaman memilih untuk mengusir anasir kekuatan musuh dan kembali menata kekuatan internal negaranya demi kedaulatan negara,” kata Mortaza.

Razaq Soroti Beban Perang bagi Masyarakat

Secara terpisah, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar sekaligus Ketua Alharamain Indonesia untuk Pembebasan Masjidil Aqsha Palestina, Dr. Abd. Rahim Razaq, M.Pd., menyoroti kerugian sosial dan ekonomi akibat konflik ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Dr. Abd. Rahim Razaq menyoroti perang Yaman yang melemahkan umat Islam, menguras sumber daya, dan memperberat penderitaan. (Foto: Dok. Pribadi).

“Perang ini melemahkan umat Islam,” ujar Razaq, yang mengkhawatirkan terkurasnya sumber daya kawasan dan bertambahnya korban di tengah permusuhan berkepanjangan.

Menurut Razaq, pengaruh kekuatan luar terhadap kebijakan negara-negara kawasan perlu dikritisi karena dapat memperpanjang persaingan dan memperbesar beban yang ditanggung masyarakat.

Ia memandang hubungan Arab Saudi dengan Amerika Serikat sebagai salah satu unsur yang perlu diperhitungkan dalam membaca konflik, meskipun penilaiannya mengenai kendali pihak luar atas keputusan negara-negara kawasan merupakan interpretasi politik yang memerlukan pembuktian tersendiri.

Kekhawatiran mengenai terkurasnya sumber daya itu beriringan dengan meluasnya serangan terhadap infrastruktur Saudi, sementara pertempuran di Yaman terus mengganggu akses masyarakat terhadap pangan dan pelayanan dasar.

Koalisi pimpinan Saudi menyatakan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh mengalami 20 serangan Houthi selama Oktober, dengan 17 orang meninggal dan 333 lainnya terluka, menurut laporan Reuters pada 15 Oktober 2026.

Di pihak lain, Houthi menyatakan serangannya merupakan respons terhadap operasi Saudi di Yaman, sementara sejumlah angka mengenai serangan balasan dan korbannya belum dapat diverifikasi secara independen.

Perbedaan klaim tersebut membuat informasi mengenai sasaran, korban, dan dukungan persenjataan perlu disampaikan dengan atribusi yang jelas agar pendapat politik tidak berubah menjadi kepastian faktual.

Kedaulatan Menghadapi Ujian Kemanusiaan

Di tengah perdebatan mengenai keterlibatan asing, dampak yang telah didokumentasikan lembaga kemanusiaan menunjukkan semakin sempitnya akses warga terhadap kebutuhan pokok.

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa atau WFP, dalam pernyataan resmi 14 Oktober 2026, melaporkan sekitar 800.000 orang di Yaman tidak lagi dapat dijangkau bantuan akibat pergeseran garis pertempuran, jalan yang terblokir, dan meningkatnya ketidakamanan.

Lebih dari 600.000 orang di antaranya berada di Taiz, termasuk lebih dari 200.000 perempuan dan anak-anak yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Pemantauan WFP menunjukkan persediaan tepung gandum di wilayah Taiz yang diperiksa hampir habis, sementara pangan yang tersisa di pasar dikhawatirkan tidak bertahan lama apabila hambatan akses berlanjut.

WFP juga memperingatkan bahwa kekurangan pendanaan dapat memaksanya mengurangi bantuan secara signifikan mulai November, ketika pengungsian dan kebutuhan masyarakat justru meningkat.

Seruan Mortaza mengenai penataan kekuatan internal serta kekhawatiran Razaq terhadap terkurasnya sumber daya bertemu pada persoalan mendasar yang diperlihatkan data kemanusiaan tersebut, yakni semakin beratnya beban masyarakat ketika konflik berkepanjangan mengganggu keselamatan, pangan, dan keberlangsungan kehidupan sehari-hari.

Ali Daneshgar

Bagikan
Diterbitkan oleh
Ali Daneshgar
Tag: Aden Houthi Kedaulatan Kemanusiaan Yaman