Dari Kritik Demokrasi hingga Perdamaian, JK Bawa Indonesia ke Kampus AS

SulawesiPos.com – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla membawa pengalaman Indonesia dalam mengelola demokrasi, otonomi daerah, konflik, ekonomi hijau, dan bencana ke tiga universitas di Amerika Serikat.

Rangkaian agenda akademik itu berlangsung pada 13-23 Oktober 2026, dimulai dari Northern Illinois University (NIU), lalu berlanjut ke Harvard University dan Yale University.

Kunjungan tersebut menempatkan pengalaman praktis JK dalam pemerintahan dan proses perdamaian sebagai bahan diskusi bagi mahasiswa serta akademisi internasional.

Di NIU, JK mendapat status Distinguished Global Leader in Residence dan mengikuti Vice President Kalla Lecture Series.

Dalam kuliah perdana di NIU, DeKalb, Illinois, Selasa (13/10/2026) waktu setempat, JK membahas dampak otonomi daerah melalui tema “Power Closer to the People: The Impact and Consequences of Regional Autonomy in Indonesia”.

Forum itu dihadiri 65 mahasiswa program magister dari berbagai negara.

JK menjelaskan, desentralisasi memberi ruang lebih besar bagi daerah untuk mengambil keputusan dan mengembangkan potensi lokal setelah sebelumnya pemerintahan Indonesia sangat sentralistik.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla Hadiri Peletakan Batu Pertama Masjid Hajjah Yuliana di Melbourne, Tekankan Masjid sebagai Pusat Peradaban

Namun, ia juga menyoroti tantangan demokrasi pascareformasi, terutama ketika popularitas dan kekuatan finansial lebih menentukan daripada kapasitas calon pemimpin.

“Popularitas dan kemampuan finansial cenderung lebih menentukan dibandingkan kompetensi dan kualitas kepemimpinan,” ujar JK dalam kuliahnya.

Menurut JK, demokrasi tidak cukup hanya memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memilih.

Sistem politik juga harus mampu melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan menjalankan pemerintahan.

Lima Topik di NIU

Rangkaian kuliah JK di NIU berlanjut pada 15 Oktober melalui tema “Indonesia at a Crossroads: What’s Changing in Its Politics—and Why”.

Materi ini membahas perubahan politik Indonesia, dinamika demokrasi, serta faktor yang memengaruhi arah tata kelola pemerintahan.

Pada 19 Oktober, JK dijadwalkan membagikan pengalaman dari proses pencarian perdamaian di Aceh, Afghanistan, dan Thailand Selatan melalui tema “Lessons from the Search for Peace”.

Pembahasan itu mencakup negosiasi, dialog, pembangunan kepercayaan, dan pencarian titik temu dalam konflik berkepanjangan.

BACA JUGA:  Kuliah Umum di AS, JK Soroti Otonomi Daerah dan Tantangan Demokrasi Liberal

Agenda NIU kemudian beralih ke isu ekonomi hijau pada 20 Oktober.

JK akan membahas tantangan negara berkembang dalam menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi lingkungan.

Ia juga dijadwalkan mengulas hubungan transisi hijau dengan industri, teknologi, lapangan kerja, dan ekonomi politik Indonesia.

Bicara Kepemimpinan di Harvard

Setelah menyelesaikan agenda di NIU, JK dijadwalkan menyampaikan kuliah umum di John F. Kennedy School of Government, Harvard University, Cambridge, Massachusetts, pada 22 Oktober 2026.

Kuliah tersebut mengangkat tema “Leadership Amidst Uncertainty: Lessons from Experience” atau “Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian: Pelajaran dari Pengalaman”.

Forum itu akan membahas pengambilan keputusan dalam situasi politik, ekonomi, sosial, dan hubungan internasional yang sulit diprediksi.

Pengalaman JK selama berada di pemerintahan menjadi pijakan utama dalam diskusi tersebut.

Yale Bahas Konflik dan Bencana

Rangkaian kunjungan akademik ditutup di MacMillan Center, Yale University, New Haven, Connecticut, pada 23 Oktober 2026.

Dalam forum “Distinguished Public Lecture & Discussion”, JK dijadwalkan membawakan tema “Conflict Resolution and Peacebuilding, Humanitarian and Disaster Response in Pluralistic Indonesia”.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla: Jangan Netral, Indonesia Harus Tegas Berada di Pihak Iran

Topik tersebut mengangkat pengalaman Indonesia dalam mengelola konflik, membangun perdamaian, serta menangani krisis kemanusiaan dan bencana di tengah masyarakat yang beragam.

SulawesiPos.com – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla membawa pengalaman Indonesia dalam mengelola demokrasi, otonomi daerah, konflik, ekonomi hijau, dan bencana ke tiga universitas di Amerika Serikat.

Rangkaian agenda akademik itu berlangsung pada 13-23 Oktober 2026, dimulai dari Northern Illinois University (NIU), lalu berlanjut ke Harvard University dan Yale University.

Kunjungan tersebut menempatkan pengalaman praktis JK dalam pemerintahan dan proses perdamaian sebagai bahan diskusi bagi mahasiswa serta akademisi internasional.

Di NIU, JK mendapat status Distinguished Global Leader in Residence dan mengikuti Vice President Kalla Lecture Series.

Dalam kuliah perdana di NIU, DeKalb, Illinois, Selasa (13/10/2026) waktu setempat, JK membahas dampak otonomi daerah melalui tema “Power Closer to the People: The Impact and Consequences of Regional Autonomy in Indonesia”.

Forum itu dihadiri 65 mahasiswa program magister dari berbagai negara.

JK menjelaskan, desentralisasi memberi ruang lebih besar bagi daerah untuk mengambil keputusan dan mengembangkan potensi lokal setelah sebelumnya pemerintahan Indonesia sangat sentralistik.

BACA JUGA:  JK Dorong Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT Lewat Skema Gotong Royong

Namun, ia juga menyoroti tantangan demokrasi pascareformasi, terutama ketika popularitas dan kekuatan finansial lebih menentukan daripada kapasitas calon pemimpin.

“Popularitas dan kemampuan finansial cenderung lebih menentukan dibandingkan kompetensi dan kualitas kepemimpinan,” ujar JK dalam kuliahnya.

Menurut JK, demokrasi tidak cukup hanya memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memilih.

Sistem politik juga harus mampu melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan menjalankan pemerintahan.

Lima Topik di NIU

Rangkaian kuliah JK di NIU berlanjut pada 15 Oktober melalui tema “Indonesia at a Crossroads: What’s Changing in Its Politics—and Why”.

Materi ini membahas perubahan politik Indonesia, dinamika demokrasi, serta faktor yang memengaruhi arah tata kelola pemerintahan.

Pada 19 Oktober, JK dijadwalkan membagikan pengalaman dari proses pencarian perdamaian di Aceh, Afghanistan, dan Thailand Selatan melalui tema “Lessons from the Search for Peace”.

Pembahasan itu mencakup negosiasi, dialog, pembangunan kepercayaan, dan pencarian titik temu dalam konflik berkepanjangan.

BACA JUGA:  Kuliah Umum di AS, JK Soroti Otonomi Daerah dan Tantangan Demokrasi Liberal

Agenda NIU kemudian beralih ke isu ekonomi hijau pada 20 Oktober.

JK akan membahas tantangan negara berkembang dalam menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi lingkungan.

Ia juga dijadwalkan mengulas hubungan transisi hijau dengan industri, teknologi, lapangan kerja, dan ekonomi politik Indonesia.

Bicara Kepemimpinan di Harvard

Setelah menyelesaikan agenda di NIU, JK dijadwalkan menyampaikan kuliah umum di John F. Kennedy School of Government, Harvard University, Cambridge, Massachusetts, pada 22 Oktober 2026.

Kuliah tersebut mengangkat tema “Leadership Amidst Uncertainty: Lessons from Experience” atau “Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian: Pelajaran dari Pengalaman”.

Forum itu akan membahas pengambilan keputusan dalam situasi politik, ekonomi, sosial, dan hubungan internasional yang sulit diprediksi.

Pengalaman JK selama berada di pemerintahan menjadi pijakan utama dalam diskusi tersebut.

Yale Bahas Konflik dan Bencana

Rangkaian kunjungan akademik ditutup di MacMillan Center, Yale University, New Haven, Connecticut, pada 23 Oktober 2026.

Dalam forum “Distinguished Public Lecture & Discussion”, JK dijadwalkan membawakan tema “Conflict Resolution and Peacebuilding, Humanitarian and Disaster Response in Pluralistic Indonesia”.

BACA JUGA:  Jusuf Kalla Ajak Donasi Korban Gempa NTT Lewat PMI

Topik tersebut mengangkat pengalaman Indonesia dalam mengelola konflik, membangun perdamaian, serta menangani krisis kemanusiaan dan bencana di tengah masyarakat yang beragam.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru