Ilustrasi Mobil melintasi jalan beraspal dengan sisi jalan berupa tanah dan kerikil.
SulawesiPos.com – Ban mobil perlu mendapat perhatian ketika digunakan untuk perjalanan dengan kondisi jalan yang beragam, termasuk saat pengendara melintasi jalur beraspal maupun permukaan kerikil dan tanah di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Perbedaan permukaan jalan tersebut terlihat dari data panjang jalan di Selayar yang mencatat 637,24 kilometer jalan beraspal, 138,14 kilometer jalan berkerikil, dan 198,92 kilometer jalan bertanah.
Kondisi itu menjadi pengingat bagi pengendara untuk menjaga ban tetap dalam keadaan baik, tanpa menganggap jalan berkerikil atau bertanah selalu rusak maupun pasti menyebabkan kerusakan kendaraan.
Sebelum bepergian, pengemudi sebaiknya memeriksa tapak ban untuk memastikan tidak terjadi keausan berlebihan yang dapat memengaruhi daya cengkeram pada permukaan jalan.
Pemeriksaan bisa dimulai dari indikator keausan tapak atau Tread Wear Indicator (TWI), yaitu penanda pada ban yang membantu menunjukkan kapan ketebalan tapak sudah mencapai batas penggantian.
Kedalaman tapak minimum 1,6 milimeter menjadi acuan umum penggantian ban dalam panduan Michelin, sedangkan tapak yang sudah sejajar dengan indikator keausan menandakan ban perlu diganti.
Pemeriksaan juga perlu dilakukan di beberapa bagian karena keausan bisa berbeda antara sisi dalam, bagian tengah, dan sisi luar tapak ban.
Selain kondisi tapak, tekanan angin perlu diperiksa menggunakan alat ukur ketika ban dalam keadaan dingin, dengan mengikuti rekomendasi pada label kendaraan atau buku manual.
Tekanan yang tidak sesuai dapat memicu keausan tidak merata dan memengaruhi pengendalian, sehingga pengemudi sebaiknya tidak memperkirakannya hanya dari tampilan ban atau mengubah tekanan tanpa mengikuti petunjuk pabrikan.
Bagian dinding ban juga perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada retakan, sayatan, sobekan, atau benjolan yang menunjukkan kemungkinan kerusakan.
Saat melintasi jalan berlubang atau permukaan tidak rata, benturan keras dapat merusak struktur ban, sehingga pengemudi perlu menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan dan ruang yang tersedia.
Jika benturan tidak dapat dihindari, perhatikan perubahan setelahnya, seperti getaran yang tidak biasa, tekanan angin yang berkurang, atau kemudi yang terasa berbeda.
Gejala tersebut tidak selalu berarti ban mengalami kerusakan, tetapi pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi ban dan bagian kendaraan lainnya.
Apabila ditemukan benjolan atau kerusakan serius, hentikan perjalanan di tempat yang aman dan mintalah pemeriksaan teknisi sebelum menggunakan kendaraan kembali.
Kondisi jalan yang dilalui sehari-hari dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan seberapa rutin pengemudi memeriksa keadaan ban, terutama ketika perjalanan melewati permukaan yang berbeda.
Meski demikian, perawatan tetap perlu mengikuti rekomendasi pabrikan kendaraan, termasuk tekanan angin yang sesuai dan pemeriksaan berkala terhadap kondisi ban.
Variasi permukaan jalan di Selayar tidak berarti seluruh ruas mengalami kerusakan, tetapi menjadi alasan bagi pengendara untuk memperhatikan kondisi kendaraan sebelum dan selama perjalanan.
Menjaga ban dalam kondisi baik serta segera menindaklanjuti tanda kerusakan merupakan langkah penting untuk mendukung keselamatan berkendara, baik di jalan beraspal maupun di permukaan kerikil dan tanah.