Pattallassang Memorial Estate (PME) resmi diperkenalkan kepada publik melalui gelaran soft launching di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, Sabtu (3/10/2026).
SulawesiPos.com — Keterbatasan lahan di pusat kota kini menjadi tantangan nyata bagi warga kawasan perkotaan seperti Makassar. Seiring pesatnya pertumbuhan permukiman dan dinamika kawasan metropolitan Makassar, Gowa, Maros, hingga Takalar (Mamminasata), kebutuhan akan fasilitas pemakaman yang terencana, tertata rapi, dan berkelanjutan semakin mendesak.
Sebelumnya, awal September lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan lahan pemakaman bagi warga.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turun langsung mengecek salah satu lahan yang berpotensi dijadikan Tempat Pemakaman Umum (TPU) di wilayah batas Dusun Arra, terletak di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.
Munafri mengatakan, kebutuhan lahan pemakaman menjadi salah satu persoalan yang harus segera dicarikan solusi jangka panjang. Pasalnya, lahan pemakaman yang selama ini digunakan di kawasan Kota Makassar, sudah semakin penuh.
Menjawab fenomena tersebut, Pattallassang Memorial Estate (PME) resmi diperkenalkan kepada publik melalui gelaran soft launching di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, Sabtu (3/10/2026).
Mengusung konsep Muslim Premium Memorial Estate, PME hadir sebagai pemakaman Muslim terpadu pertama di kawasan Mamminasata yang berlokasi tak jauh dari Kota Makassar.
Founder PME, H. Surachman, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan ini didasari filosofi “Legacy of Love”, yang menempatkan pemakaman bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang bermartabat bagi keluarga untuk merawat ikatan dengan kerabat yang telah berpulang.
“Pemakaman bukan hanya persoalan ketersediaan lahan. Di dalamnya ada nilai penghormatan, kenangan, dan kebutuhan emosional keluarga. Melalui filosofi Legacy of Love, PME hadir memberikan ketenangan jiwa sekaligus kemudahan penuh bagi keluarga di saat duka,” ujar Surachman.
Surachman menambahkan, lokasi PME yang berada di Jalan Poros Provinsi Sulsel, Pacelekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, menjadi salah satu keunggulan utama karena letaknya yang strategis dan berada di tepi jalan utama.
“Posisi di jalan poros ini meminimalkan potensi konflik sosial yang kerap terjadi jika pemakaman masuk ke jalan-jalan sempit di pemukiman warga. Aksesnya sangat mudah dijangkau dari Makassar maupun wilayah penyangga lainnya,” jelasnya.
Dari total perencanaan kawasan seluas 3,2 hektare yang dirancang menampung sekitar 4.000 unit makam, PME membuka tahap awal sebanyak 500 unit kavling. Pengembangannya dilengkapi jalan utama beraspal seluas 8 meter, jalan akses sub-klaster berpaving blok seluas 2 meter, hingga konsep penataan lingkungan berdrainase baik serta area kolam dan danau di bagian belakang untuk mencegah genangan.
Antusiasme masyarakat terhadap kehadiran pemakaman modern ini tergolong sangat tinggi. Pada saat peluncuran, tingkat pesanan tahap pertama telah mencapai sekitar 60 persen atau kurang lebih 300 unit kavling.
Menariknya, pemesan tidak hanya datang dari kalangan lanjut usia, tetapi juga pasangan muda berusia 30-an yang mulai mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.
“Respons masyarakat luar biasa tinggi. Bahkan, ada keluarga yang langsung memesan dalam jumlah besar untuk area pemakaman keluarga,” ungkap Surachman.
Salah satu pemesan kawasan pemakaman keluarga tersebut datang dari rumpun keluarga mantan Gubernur Sulawesi Selatan dan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Ahmad Amiruddin. Cucu Prof Amiruddin, Andella Romelia, mengungkapkan bahwa pihak keluarganya telah memesan 40 unit lubang makam berdekatan di Klaster Firdaus.
“Kami sudah keliling ke beberapa lokasi pemakaman secara mandiri. Pertimbangan utama memilih di PME karena posisinya di jalan poros provinsi, akses jalan tengahnya lebar 8 meter sehingga kendaraan bisa langsung mendekat, ada gazebo, serta penataannya rapi dan nyaman mirip konsep pemakaman premium di Jakarta,” kata Andella yang juga seorang pengusaha bidang properti.
Peluncuran PME turut mendapat perhatian dari tokoh masyarakat sekaligus pakar tata kota, Moh. Ramdhan “Danny” Pomanto. Menurut Danny, pemakaman modern yang terintegrasi merupakan bagian vital dari perencanaan tata ruang kawasan perkotaan yang sedang berkembang.
“Ketika sebuah kawasan berkembang, kita tidak hanya berbicara mengenai jalan, perumahan, atau pusat ekonomi, tetapi juga seluruh kebutuhan masyarakat, termasuk fasilitas pemakaman. Pemakaman harus menjadi bagian dari perencanaan tata ruang kota secara menyeluruh, bukan baru dipikirkan ketika lahan sudah terbatas,” papar Danny.
Sementara itu, Direktur Utama PME, Jumardi Muhiddin, menegaskan bahwa PME menghadirkan layanan all-in-one untuk memudahkan keluarga. Fasilitas yang disediakan meliputi penjemputan ambulans gratis, kendaraan pengantar keluarga, prosesi pemulasaraan, masjid di dalam kawasan, aula serbaguna, hingga area parkir luas yang mampu menampung hingga 200 kendaraan.
Meski menawarkan konsep premium dengan jaminan garansi pemeliharaan dan kebersihan gratis selama 10 tahun, PME mematok harga bersaing mulai dari kisaran Rp10 jutaan per unit. PME juga menawarkan skema paket investasi (pilihan 2, 4, 8, hingga 12 kavling) yang fleksibel dan dapat diperjualbelikan kembali melalui bantuan pengelola.
Selain aspek bisnis, PME juga mengalokasikan 50 lubang makam gratis sebagai program CSR bagi warga sekitar yang kurang mampu berdasarkan rekomendasi pemerintah setempat.