SulawesiPos.com – Kemacetan yang kerap terjadi di Kota Makassar membuat banyak pengemudi menghadapi pola stop-and-go, yakni berhenti, berjalan pelan, lalu berhenti kembali. Kondisi ini ternyata berdampak pada beberapa bagian kendaraan, mulai dari mesin, transmisi, rem, konsumsi BBM, hingga sistem pendingin.
Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Makassar, sebanyak 237 dari total 1.244 ruas jalan di kota ini mengalami kemacetan, dengan pertumbuhan kendaraan mencapai 8 hingga 12 persen per tahun sementara panjang jalan nyaris tidak bertambah.
Sejumlah titik rawan macet tersebar di berbagai kawasan, seperti Simpang 8 Bukit Baruga, Pasar Antang, Jalan Sultan Alauddin, Jalan AP Pettarani, hingga Jalan Perintis Kemerdekaan, dengan waktu rawan terkonsentrasi pada jam sibuk pagi pukul 07.00 hingga 10.00 WITA serta sore hingga malam pukul 16.00 hingga 20.00 WITA.
Pola berkendara stop-and-go yang berulang di tengah kepadatan seperti ini membuat sejumlah komponen kendaraan bekerja dengan cara yang berbeda dibanding kondisi jalan normal.
Mesin dan Oli Bekerja Lebih Berat
Kondisi macet atau stop-and-go termasuk kategori kondisi berkendara berat karena perjalanan pendek dan lalu lintas padat memberi beban lebih besar dibanding kondisi normal.
Perjalanan pendek yang membuat mesin tidak sempat mencapai suhu kerja optimal dapat menyebabkan uap air dan sisa pembakaran menumpuk di oli sehingga oli lebih cepat terdegradasi.
Kondisi berkendara di kota yang tergolong berat ini membuat pemilik kendaraan disarankan memantau indikator umur oli dan mengikuti jadwal penggantian sesuai kategori penggunaan berat.
Transmisi dan Rem Bekerja Lebih Intensif
Karakter transmisi mobil yang berbeda-beda membuat masing-masing jenis merespons kondisi stop-and-go dengan cara yang tidak sama.
Transmisi otomatis konvensional dan CVT pada umumnya dirancang untuk perpindahan tenaga yang halus tanpa hentakan gigi, sehingga secara desain lebih cocok untuk pola berhenti-jalan, meski keduanya tetap menghasilkan panas lebih tinggi saat menahan beban lama di kecepatan rendah.
Transmisi jenis DCT justru berpotensi lebih terdampak, karena pada kecepatan sangat rendah komponen koplingnya bekerja lebih intensif dibanding kondisi jalan normal, sementara mobil bertransmisi manual berisiko mengalami keausan kopling lebih cepat akibat penggunaan berulang saat merayap atau berhenti-jalan.
Selain transmisi, pengereman berulang saat macet membuat kampas dan komponen rem bekerja lebih sering sehingga keausannya dapat berlangsung lebih cepat dibanding kondisi jalan yang lancar.
Kondisi lalu lintas stop-and-go yang identik dengan pola berhenti-jalan berulang di berbagai titik rawan Makassar dapat meningkatkan keausan komponen rem, meski hal ini bukan kepastian kerusakan pada semua kendaraan.
Konsumsi BBM dan Sistem Pendingin Ikut Terdampak
Angka konsumsi BBM dalam kondisi perkotaan umumnya lebih rendah dibanding kondisi jalan bebas hambatan, karena percepatan berulang dari kondisi berhenti membutuhkan lebih banyak energi dibanding mempertahankan kecepatan konstan.
Saat mobil berhenti atau bergerak sangat pelan, aliran udara dari laju kendaraan berkurang sehingga kipas radiator menjadi semakin penting untuk membantu membuang panas mesin.
Kondisi ini tidak berarti setiap mobil akan mengalami overheat saat macet, namun risikonya meningkat apabila komponen pendingin seperti kipas radiator sudah dalam kondisi lemah.
Pemilik kendaraan di Makassar disarankan tetap memperhatikan kondisi oli, transmisi, rem, dan sistem pendingin secara berkala, mengingat pola berkendara stop-and-go yang kerap dihadapi dapat memengaruhi kinerja sejumlah komponen tersebut dari waktu ke waktu.