Categories: News

PM-AAS Kementan Klaim Panen Padi Tembus 13 Ton per Hektare, Ini Kuncinya

SulawesiPos.com — Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong peningkatan produksi padi tanpa harus terus membuka lahan baru melalui metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diklaim mampu mendongkrak hasil panen hingga 13 ton gabah per hektare.

Metode tersebut disebut mampu meningkatkan produktivitas dari rata-rata 5–6 ton menjadi 10–13 ton gabah per hektare, sehingga menjadi salah satu pendekatan pemerintah dalam menghadapi tekanan alih fungsi lahan pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional di tengah keterbatasan lahan.

“Ini adalah solusi. Pertama adalah meningkatkan kesejahteraan petani, yang kedua adalah keberlanjutan swasembada pangan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan. Nah, juga benar alih fungsi lahan, jadi ini dampaknya luar biasa,” ujar Mentan Amran saat meninjau penerapan PM-AAS di Subang, Rabu (2/9).

Menurut Amran, PM-AAS telah melalui uji coba selama sekitar dua tahun sebelum mulai diterapkan di 10–11 provinsi.

Penerapan metode tersebut dilakukan melalui lahan percontohan dengan luas yang berbeda-beda, mulai dari 10 hektare, 50 hektare, 100 hektare hingga 200 hektare di masing-masing daerah.

Hasil uji coba menunjukkan adanya peningkatan produktivitas yang cukup signifikan dibandingkan pola tanam sebelumnya.

Jika sebelumnya produksi padi rata-rata hanya berada di kisaran 5–5,5 ton per hektare, penerapan PM-AAS mampu menghasilkan sekitar 11 ton, 12 ton, bahkan hingga 13 ton per hektare.

Populasi Tanaman Jadi Kunci

Amran menjelaskan peningkatan produktivitas tersebut salah satunya didorong oleh pengaturan populasi tanaman yang dibuat lebih rapat.

Pada pola sebelumnya, populasi tanaman berada di kisaran 360 ribu rumpun per hektare, sedangkan melalui metode PM-AAS jumlah tersebut dapat ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare.

“Produktivitas naik karena populasinya bertambah. Dulu ada jarak 25 sentimeter, 20 sentimeter sehingga populasinya 360 ribu. Sekarang karena rapat, populasinya naik 800 ribu sampai 1 juta. Itulah yang menaikkan dua kali lipat,” jelasnya.

Peningkatan jumlah populasi tanaman tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat hasil produksi dari lahan yang sama dapat meningkat secara signifikan.

Menurut Amran, strategi tersebut semakin penting ketika lahan pertanian menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan.

Dengan produktivitas yang lebih tinggi, produksi pangan dapat digenjot tanpa harus selalu bergantung pada penambahan luas areal persawahan.

“Bagaimana tingkatkan produktivitas, bagaimana tingkatkan planting index. Ini produktivitas naik karena populasinya bertambah,” kata Mentan Amran.

Lahan yang sebelumnya menghasilkan sekitar 5 ton gabah per hektare disebut dapat menghasilkan sekitar 10 ton setelah menerapkan metode tersebut.

Bahkan, di sejumlah lokasi, hasil panen telah mencapai 11 hingga 13 ton gabah per hektare.

Dorong Swasembada dan Kesejahteraan Petani

Peningkatan produktivitas dari lahan yang sama dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

Selain menjaga pasokan pangan, peningkatan hasil panen juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi.

Pendekatan PM-AAS menjadi salah satu upaya Kementan untuk menjawab tantangan produksi pangan di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian.

Dengan produktivitas yang diklaim dapat meningkat hampir dua kali lipat, metode tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan sekaligus mengurangi tekanan terhadap kebutuhan ekspansi lahan pertanian.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Andi Amran Sulaiman Kementan Padi Pertanian Modern PM-AAS