NTP Sulbar Melonjak 6,87 Persen, Harga Sawit Jadi Pendorong Tertinggi Nasional

SulawesiPos.com – Sulawesi Barat mencatat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) tertinggi secara nasional pada Agustus 2026. NTP di provinsi tersebut melonjak 6,87 persen, terutama didorong meningkatnya harga kelapa sawit di tingkat petani.

Capaian itu menjadi yang tertinggi di antara 38 provinsi yang dipantau Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Agustus 2026.

Secara nasional, sebanyak 33 provinsi mengalami kenaikan NTP pada periode yang sama.

Kenaikan NTP Sulbar terjadi ketika NTP nasional juga mencapai level tertinggi tahun ini, yakni 129,19, atau meningkat 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka 127,84.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan penguatan NTP nasional terutama dipengaruhi kenaikan harga yang diterima petani.

“Indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,14 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang naik sebesar 0,09 persen,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Selasa (1/9/2026).

Sawit Jadi Penopang

Kenaikan NTP Sulbar tidak terlepas dari pergerakan harga komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit.

BACA JUGA:  Kesejahteraan Petani Terus Menguat, NTP Juli 2026 Sentuh Level Tertinggi 127,84

Komoditas tersebut juga menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga yang diterima petani secara nasional.

Selain sawit, BPS mencatat gabah, karet, dan ayam ras pedaging sebagai komoditas yang dominan memengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani.

Secara nasional, subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat kenaikan NTP sebesar 1,53 persen.

NTP subsektor tersebut mencapai 168,77, sekaligus menjadi yang tertinggi dibandingkan subsektor pertanian lainnya.

Penguatan juga terjadi pada tanaman pangan sebesar 1,62 persen, peternakan 0,96 persen, dan perikanan 0,69 persen. Sebaliknya, NTP hortikultura turun 2,84 persen.

Kesejahteraan Petani Meningkat

Secara keseluruhan, peningkatan NTP menunjukkan harga yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Kondisi tersebut turut terlihat pada sektor tanaman pangan. NTP tanaman pangan naik 1,62 persen, dengan indeks harga yang diterima petani meningkat 1,66 persen.

Harga padi naik 1,77 persen, sedangkan komoditas palawija seperti jagung dan ketela pohon meningkat 1,42 persen.

BACA JUGA:  Aklamasi Bulat di Mubes, Andi Amran Sulaiman Kembali Pimpin IKA Unhas 2026–2030

Secara kumulatif, NTP nasional periode Januari-Agustus 2026 juga tercatat 3,18 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah terus berupaya memastikan peningkatan produksi diikuti dengan membaiknya nilai ekonomi hasil pertanian.

“Kita ingin petani semakin sejahtera,” tegas Mentan Amran.

Menurutnya, peningkatan produktivitas perlu dibarengi dengan perluasan akses pasar, harga yang menguntungkan petani, serta pengendalian biaya produksi.

SulawesiPos.com – Sulawesi Barat mencatat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) tertinggi secara nasional pada Agustus 2026. NTP di provinsi tersebut melonjak 6,87 persen, terutama didorong meningkatnya harga kelapa sawit di tingkat petani.

Capaian itu menjadi yang tertinggi di antara 38 provinsi yang dipantau Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Agustus 2026.

Secara nasional, sebanyak 33 provinsi mengalami kenaikan NTP pada periode yang sama.

Kenaikan NTP Sulbar terjadi ketika NTP nasional juga mencapai level tertinggi tahun ini, yakni 129,19, atau meningkat 1,05 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka 127,84.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan penguatan NTP nasional terutama dipengaruhi kenaikan harga yang diterima petani.

“Indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,14 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang naik sebesar 0,09 persen,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Selasa (1/9/2026).

Sawit Jadi Penopang

Kenaikan NTP Sulbar tidak terlepas dari pergerakan harga komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit.

BACA JUGA:  Stok Pupuk Tak Terganggu Konflik Selat Hormuz, Bukti Arahan Presiden dan Mentan Amran Sangat Tepat

Komoditas tersebut juga menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga yang diterima petani secara nasional.

Selain sawit, BPS mencatat gabah, karet, dan ayam ras pedaging sebagai komoditas yang dominan memengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani.

Secara nasional, subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat kenaikan NTP sebesar 1,53 persen.

NTP subsektor tersebut mencapai 168,77, sekaligus menjadi yang tertinggi dibandingkan subsektor pertanian lainnya.

Penguatan juga terjadi pada tanaman pangan sebesar 1,62 persen, peternakan 0,96 persen, dan perikanan 0,69 persen. Sebaliknya, NTP hortikultura turun 2,84 persen.

Kesejahteraan Petani Meningkat

Secara keseluruhan, peningkatan NTP menunjukkan harga yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Kondisi tersebut turut terlihat pada sektor tanaman pangan. NTP tanaman pangan naik 1,62 persen, dengan indeks harga yang diterima petani meningkat 1,66 persen.

Harga padi naik 1,77 persen, sedangkan komoditas palawija seperti jagung dan ketela pohon meningkat 1,42 persen.

BACA JUGA:  Di Depan Ribuan Maba Unhas, Amran Ungkap Putranya Belajar Bisnis dari Jualan Telur

Secara kumulatif, NTP nasional periode Januari-Agustus 2026 juga tercatat 3,18 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah terus berupaya memastikan peningkatan produksi diikuti dengan membaiknya nilai ekonomi hasil pertanian.

“Kita ingin petani semakin sejahtera,” tegas Mentan Amran.

Menurutnya, peningkatan produktivitas perlu dibarengi dengan perluasan akses pasar, harga yang menguntungkan petani, serta pengendalian biaya produksi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru