Bangunan runtuh saat gempa NTT
SulawesiPos.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), meninggalkan duka di sejumlah wilayah. Sedikitnya 25 orang dilaporkan meninggal dunia, berdasarkan kompilasi laporan kepolisian, Pemerintah Kabupaten Manggarai, dan Palang Merah Indonesia (PMI) hingga Sabtu siang.
Jumlah tersebut masih bersifat sementara. Tim di lapangan masih melakukan pencarian korban, evakuasi dari reruntuhan, identifikasi, serta pencocokan data antarlembaga.
Berikut daftar sementara korban meninggal dunia yang telah dilaporkan dari sejumlah wilayah terdampak:
Kecamatan Reok
Kecamatan Reok Barat
Selain delapan korban tersebut, kepolisian masih menangani dua korban yang belum berhasil dievakuasi karena tertimbun material bangunan.
Keduanya berada di rumah milik Hubertus Titi dan kediaman mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate.
Korban lain yang dilaporkan Pemkab Manggarai:
Dengan demikian, laporan kepolisian dan Pemkab Manggarai mencatat sedikitnya 14 korban meninggal dari sejumlah lokasi di kabupaten tersebut.
Posko PMI Manggarai Timur melaporkan 11 korban meninggal dunia yang tersebar di beberapa kecamatan. Rinciannya:
Dua warga lainnya dilaporkan mengalami patah kaki dalam peristiwa tersebut. Salah satunya merupakan ibu dari korban anak perempuan yang meninggal di Pota.
Jumlah 25 korban tersebut merupakan hasil kompilasi data dari sejumlah unsur di daerah. Angkanya masih berbeda dengan laporan resmi BNPB yang diperbarui lebih awal.
Hingga pukul 12.30 WIB, BNPB mencatat 14 orang meninggal dunia, terdiri atas tiga korban di Kabupaten Sikka, enam di Kabupaten Manggarai, dan lima di Kabupaten Manggarai Timur. BNPB juga mencatat dua korban luka berat dan 11 korban luka ringan.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena proses pendataan dan verifikasi korban masih berlangsung. BNPB menyatakan data korban dapat berubah mengikuti hasil validasi BPBD dan unsur terkait di lapangan.
“Data korban masih bersifat sementara dan bisa berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD dan pihak terkait,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dalam keterangannya.
Selain korban jiwa, sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri setelah merasakan guncangan kuat dan menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa.
Proses pencarian, evakuasi, dan pemutakhiran data korban masih terus dilakukan di wilayah terdampak.