Mentan Amran Tegaskan Harga Beras Harus Terjangkau dan Sesuai HET di Seluruh Indonesia

“Stok tertinggi selama Republik ini berdiri adalah pada zaman Pak Prabowo. Sekarang aman. Kalau ada yang membutuhkan beras, keluarkan ke pasar. Lakukan pasar murah di mana dibutuhkan,” katanya.

Aspirasi Mahasiswa Bawa Mentan ke Alor

Kunjungan kerja Amran ke Alor bermula dari aspirasi mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, yang menyampaikan langsung tingginya harga beras dan masalah distribusi di wilayah kepulauan saat kuliah umum di Universitas Diponegoro, Jawa Tengah.

Alih-alih menunggu laporan berjenjang, Amran mengaku memilih datang langsung untuk melihat situasi di lapangan.

Ia bahkan membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta untuk terbang ke Alor dari Jawa Tengah.

“Saya terima dengan senang hati karena teriakannya membawa aspirasi rakyat. Saya bangga dengan Andriano. Ini putra terbaik NTT. Mereka membaca denyut nadi masyarakat, apa yang menjadi keinginan masyarakat, bukan kepentingan pribadi,” ungkapnya.

“Insyaallah kami langsung turun. Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta. Dari Jawa Tengah kami langsung ke Alor. Kami sudah lihat, dan semua permintaan yang berada dalam kewenangan pertanian kami penuhi,” lanjut Mentan Amran.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Kementan Gelontorkan Rp5 Triliun untuk Papua, Dorong Pesta Panen di Seluruh Tanah Papua

Tak Hanya Beras, Benih Padi dan Jagung Juga Disiapkan

Intervensi Kementan di Alor tidak berhenti pada stabilisasi harga beras.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan produksi agar ketergantungan masyarakat terhadap pasokan dari luar daerah bisa dikurangi secara bertahap.

Dalam kunjungan itu, Amran menyebut Kementan menyiapkan benih padi untuk pengembangan 3.000 hektare dan benih jagung untuk 3.000 hektare lain.

Dukungan itu akan diperkuat dengan alat dan mesin pertanian serta pompa pada wilayah yang memiliki sumber air.

“Yang sekarang, beras sudah masuk. Yang kedua benih padi. Tadi minta, kami kasih untuk 3.000 hektare. Kemudian jagung juga 3.000 hektare,” ujarnya.

Menurut Amran, pengembangan padi dan jagung dipilih karena hasilnya bisa lebih cepat dirasakan masyarakat dalam hitungan bulan, sekaligus menjadi jalan untuk menekan ketergantungan Alor pada pasokan pangan dari luar wilayah.

“Stok tertinggi selama Republik ini berdiri adalah pada zaman Pak Prabowo. Sekarang aman. Kalau ada yang membutuhkan beras, keluarkan ke pasar. Lakukan pasar murah di mana dibutuhkan,” katanya.

Aspirasi Mahasiswa Bawa Mentan ke Alor

Kunjungan kerja Amran ke Alor bermula dari aspirasi mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, yang menyampaikan langsung tingginya harga beras dan masalah distribusi di wilayah kepulauan saat kuliah umum di Universitas Diponegoro, Jawa Tengah.

Alih-alih menunggu laporan berjenjang, Amran mengaku memilih datang langsung untuk melihat situasi di lapangan.

Ia bahkan membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta untuk terbang ke Alor dari Jawa Tengah.

“Saya terima dengan senang hati karena teriakannya membawa aspirasi rakyat. Saya bangga dengan Andriano. Ini putra terbaik NTT. Mereka membaca denyut nadi masyarakat, apa yang menjadi keinginan masyarakat, bukan kepentingan pribadi,” ungkapnya.

“Insyaallah kami langsung turun. Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta. Dari Jawa Tengah kami langsung ke Alor. Kami sudah lihat, dan semua permintaan yang berada dalam kewenangan pertanian kami penuhi,” lanjut Mentan Amran.

BACA JUGA:  Mentan Amran Dorong Hilirisasi Kakao, Peneliti Rubiyo Siapkan Lima Varietas Unggul Baru

Tak Hanya Beras, Benih Padi dan Jagung Juga Disiapkan

Intervensi Kementan di Alor tidak berhenti pada stabilisasi harga beras.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan produksi agar ketergantungan masyarakat terhadap pasokan dari luar daerah bisa dikurangi secara bertahap.

Dalam kunjungan itu, Amran menyebut Kementan menyiapkan benih padi untuk pengembangan 3.000 hektare dan benih jagung untuk 3.000 hektare lain.

Dukungan itu akan diperkuat dengan alat dan mesin pertanian serta pompa pada wilayah yang memiliki sumber air.

“Yang sekarang, beras sudah masuk. Yang kedua benih padi. Tadi minta, kami kasih untuk 3.000 hektare. Kemudian jagung juga 3.000 hektare,” ujarnya.

Menurut Amran, pengembangan padi dan jagung dipilih karena hasilnya bisa lebih cepat dirasakan masyarakat dalam hitungan bulan, sekaligus menjadi jalan untuk menekan ketergantungan Alor pada pasokan pangan dari luar wilayah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru