Categories: News

80 Persen Rudal Pencegat Utama AS telah Digunakan dalam Perang dengan Iran

SulawesiPos.com – Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan hampir 80 persen persediaan rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan sekitar separuh pencegat Patriot sejak perang dengan Iran dimulai, sehingga para komandan senior memperingatkan bahwa cadangan amunisi Pentagon berada pada tingkat “sangat berbahaya” serta dapat membatasi kemampuan Washington mempertahankan pasukan dan sekutunya apabila konflik terus meningkat, menurut laporan CNN, Selasa (4/8/2026).

Laporan tersebut, yang diperbarui pada 5 Agustus 2026, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui penilaian terbaru Pentagon, tetapi angka persediaan terperinci itu belum diumumkan secara terbuka oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Sebelum perang pecah, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan Amerika memiliki sekitar 2.200 rudal pencegat Patriot dari dua varian termodernisasi dan 452 pencegat THAAD.

Namun, estimasi sumber CNN mengenai penggunaan hampir 80 persen THAAD berbeda dari perhitungan terbuka CSIS pada 27 Juli 2026 yang memperkirakan persediaan Amerika tersisa sekitar 250 unit, sehingga angka sebenarnya masih bergantung pada definisi persediaan operasional, rudal cadangan, produksi baru, dan amunisi yang dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Patriot merupakan sistem pertahanan berlapis untuk menghadapi pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik, sedangkan THAAD dirancang mencegat rudal balistik pada fase terminal di dalam atau tepat di luar atmosfer dengan metode tumbukan kinetik.

Sekutu Teluk Takut Menjadi Sasaran Balasan Iran

Negara-negara Arab di kawasan Teluk yang mengoperasikan sistem pertahanan buatan Amerika mengkhawatirkan kelangkaan pencegat dapat melemahkan perlindungan terhadap serangan rudal dan pesawat nirawak Iran jika Washington kembali meningkatkan operasi militernya.

Kekhawatiran itu menjadi semakin serius karena pangkalan militer, pelabuhan, kilang minyak, terminal ekspor, dan jaringan listrik di kawasan tersebut berpotensi menjadi sasaran balasan yang menimbulkan dampak ekonomi jauh melampaui medan perang.

Menurut sumber CNN, persoalan menipisnya amunisi telah dibahas sedikitnya dua kali dalam beberapa pekan terakhir ketika penasihat militer Presiden Donald Trump mengevaluasi rencana eskalasi terhadap Iran.

Trump semula merencanakan serangan besar pada Jumat dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah menerima persetujuan akhir, tetapi presiden membatalkan operasi itu setelah berbicara dengan sekutu-sekutu Teluk pada Sabtu yang mengkhawatirkan serangan balasan terhadap infrastruktur energi mereka.

Pembatalan tersebut juga dipengaruhi informasi intelijen mengenai risiko kerusakan infrastruktur penting Iran, potensi korban sipil dalam jumlah besar, dan konsekuensi regional yang sulit dikendalikan.

Trump belum menghapus opsi serangan dari perencanaan militer, tetapi memilih memberikan ruang sementara bagi diplomasi setelah Iran membantah klaimnya bahwa perundingan baru telah dimulai.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine sebelumnya juga memperingatkan bahwa penggunaan amunisi dalam jumlah besar dapat menurunkan kemampuan Amerika menghadapi krisis lain secara bersamaan.

Rudal Serang Jarak Jauh Ikut Menipis

Tekanan tidak hanya terjadi pada sistem pertahanan karena Reuters pada 4 Agustus 2026 melaporkan militer Amerika telah menggunakan hampir seluruh persediaan operasional senjata presisi jarak jauhnya, terutama Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM).

Hampir separuh persediaan rudal jelajah Tomahawk juga disebut telah digunakan, meningkat tajam dibandingkan laporan CNN pada April 2026 yang memperkirakan penggunaannya masih sekitar 30 persen.

Penyusutan ini menimbulkan persoalan strategis karena Patriot, THAAD, Tomahawk, ATACMS, dan PrSM merupakan bagian penting dari rencana kontingensi Amerika untuk menghadapi konflik dengan China, Rusia, atau Korea Utara.

Ancaman pesawat nirawak murah juga menciptakan ketimpangan biaya karena satu serangan berbiaya rendah dapat memaksa pasukan Amerika menembakkan rudal pencegat canggih yang nilainya mencapai jutaan dolar.

Dalam perang berkepanjangan, keberhasilan pertahanan karena itu tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh perbandingan antara jumlah sasaran, persediaan pencegat, biaya setiap peluncuran, dan kecepatan industri menghasilkan pengganti.

Industri Pertahanan Berpacu Melawan Waktu

Pentagon saat ini dilaporkan hanya menerima sekitar 15 Tomahawk dan 20 Patriot baru setiap bulan, sedangkan CSIS memperkirakan pemulihan persediaan THAAD ke tingkat sebelum perang memerlukan sedikitnya tiga tahun.

Amerika Serikat kemudian menandatangani kesepakatan bernilai lebih dari US$3 miliar dengan Lockheed Martin dan Northrop Grumman untuk memperluas produksi komponen Patriot PAC-3 dan THAAD, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 3 Agustus 2026.

Kesepakatan tersebut ditargetkan melipatgandakan kapasitas produksi Patriot menjadi tiga kali dan THAAD menjadi empat kali, sekaligus menciptakan sumber tambahan bagi pembuatan motor roket berbahan bakar padat PAC-3.

Angkatan Darat Amerika sebelumnya juga memberikan kontrak jangka panjang bernilai maksimal US$58,6 miliar kepada Lockheed Martin untuk memproduksi Patriot PAC-3 MSE hingga tahun fiskal 2032, meskipun realisasinya tetap bergantung pada pembiayaan Kongres.

Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer Amerika masih memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan operasi sesuai keputusan presiden, sedangkan Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan persediaan amunisi cukup untuk memenuhi tujuan strategis Trump.

Namun, perbedaan antara jaminan resmi pemerintah dan peringatan internal para komandan menunjukkan bahwa perang modern bukan sekadar perlombaan menghancurkan sasaran, melainkan juga ujian daya tahan industri, logistik, ekonomi, diplomasi, dan kemampuan mencegah konflik berubah menjadi siklus serangan balasan tanpa akhir. (Ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Amerika Serikat Iran Konflik Timur Tengah Rudal Terminal High Altitude Area Defense