Wafat Lindsey Graham mengakhiri perjalanan senator berpengaruh yang membentuk kebijakan luar negeri Amerika modern
SulawesiPos.com – Senator Partai Republik asal Carolina Selatan, Lindsey Graham, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat serta pendukung kuat Presiden Donald Trump, Israel, Ukraina, dan pendekatan keras terhadap Iran, meninggal dunia pada Sabtu malam (11/7/2026), dalam usia 71 tahun akibat robekan pembuluh aorta yang berkaitan dengan penyakit pengerasan arteri, beberapa jam setelah kembali dari kunjungan ke Kyiv.
Kantor Graham semula hanya menyatakan bahwa senator senior tersebut wafat setelah mengalami “penyakit singkat dan mendadak”, sementara laporan awal pemeriksa medis kemudian mengidentifikasi diseksi aorta akibat penyakit kardiovaskular arteriosklerotik sebagai penyebab kematiannya.
Diseksi aorta merupakan keadaan darurat medis ketika lapisan dalam aorta, pembuluh darah terbesar yang membawa darah keluar dari jantung, robek sehingga darah masuk di antara lapisan dinding pembuluh dan berpotensi menyebabkan perdarahan fatal maupun terhentinya aliran darah ke organ tubuh.
Kabar kematian Graham mengejutkan Washington karena ia masih aktif menjalankan tugas politik, baru kembali dari Ukraina, serta tengah mempersiapkan diri mengikuti pemilihan Senat pada November 2026 untuk mempertahankan kursinya.
Graham mewakili Carolina Selatan di Senat sejak Januari 2003 setelah sebelumnya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat sejak 1995, sehingga seluruh masa pengabdiannya di Kongres berlangsung lebih dari tiga dasawarsa.
Kepergiannya juga memengaruhi keseimbangan politik di Senat karena Partai Republik hanya menguasai mayoritas tipis, sementara gubernur Carolina Selatan harus menunjuk pengganti sementara sebelum pemilihan khusus digelar untuk menentukan penerus tetapnya.
Lindsey Olin Graham lahir pada 9 Juli 1955 di Central, sebuah kota kecil di Carolina Selatan, dan tumbuh di lingkungan sederhana bersama keluarganya yang mengelola restoran, bar, serta tempat permainan biliar.
Ia menjadi anggota pertama keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi dengan meraih gelar sarjana dan hukum dari University of South Carolina sebelum bergabung sebagai pengacara militer dalam Korps Hakim Advokat Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat.
Graham kemudian mengabdi selama lebih dari tiga dekade dalam Angkatan Udara aktif, Garda Nasional Udara, dan komponen cadangan hingga pensiun dengan pangkat kolonel pada 2015.
Pengalaman sebagai pengacara dan perwira militer membentuk pandangannya bahwa kekuatan pertahanan Amerika Serikat harus dipakai untuk mempertahankan sekutu, menekan musuh, dan menjaga tatanan keamanan internasional.
Di Senat, ia pernah memimpin Komite Kehakiman dan Komite Anggaran serta menjadi anggota sejumlah komite penting, termasuk Komite Alokasi Anggaran, Kehakiman, dan Lingkungan Hidup serta Pekerjaan Umum.
Sebagai Ketua Komite Kehakiman, Graham memainkan peranan penting dalam pengesahan lebih dari 200 hakim federal yang dicalonkan pemerintahan Trump, termasuk membela keras pencalonan Brett Kavanaugh sebagai hakim Mahkamah Agung.
Ia juga pernah menjadi salah satu manajer pemakzulan dari Partai Republik dalam persidangan Presiden Bill Clinton pada 1999, jauh sebelum tampil sebagai pembela utama Donald Trump dalam dua proses pemakzulan berikutnya.
Hubungan Graham dengan Donald Trump mengalami perubahan politik yang sangat mencolok karena pada pemilihan pendahuluan Partai Republik 2016 ia bersaing melawan Trump dan secara terbuka memperingatkan bahwa pencalonan pengusaha tersebut dapat menghancurkan partainya.
Trump ketika itu membalas serangan Graham dengan berbagai penghinaan pribadi, tetapi setelah memenangkan pemilu presiden, keduanya secara bertahap membangun hubungan yang menjadikan Graham salah satu pembela paling setia pemerintahan Trump di Capitol Hill.
Kedekatan politik mereka tidak sepenuhnya menghapus perbedaan karena Graham sesekali menentang Trump, termasuk terkait kebijakan luar negeri, pengampunan massal terhadap terdakwa kerusuhan Capitol 6 Januari, dan sejumlah keputusan politik domestik.
Trump dalam penghormatan pertamanya menyebut Graham sebagai salah satu manusia dan senator terbaik yang pernah dikenalnya, pekerja tanpa lelah, serta patriot Amerika sejati yang akan sangat dirindukan.
Perubahan sikap Graham dari pengkritik keras menjadi sekutu dekat mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam Partai Republik pada era Trump, ketika politik populis, loyalitas pribadi, dan kebijakan “America First” semakin menentukan arah partai.
Dalam kebijakan luar negeri, Graham dikenal sebagai politisi berhaluan hawkish yang meyakini diplomasi harus ditopang kekuatan militer, sanksi ekonomi, serta kesediaan Amerika Serikat untuk bertindak bersama sekutunya.
Ia merupakan salah satu pendukung paling konsisten bagi Ukraina sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022 dan tercatat sedikitnya sepuluh kali mengunjungi negara tersebut selama perang.
Dalam kunjungan terakhirnya ke Kyiv pada Jumat (10/7/2026), Graham bertemu Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk membahas kebutuhan pertahanan udara Ukraina dan rancangan sanksi baru terhadap Rusia.
Graham mengatakan jalan menuju perdamaian Ukraina lebih banyak melewati Beijing daripada Washington, Kyiv, ataupun Moskwa karena China memiliki pengaruh ekonomi dan politik yang besar terhadap Rusia.
Ia mendorong Beijing menggunakan pengaruh tersebut untuk membawa Presiden Vladimir Putin menuju perundingan, sembari mendukung sanksi berat terhadap Rusia dan negara-negara yang terus membeli energi Moskwa.
Graham juga dikenal sebagai salah satu pendukung Israel paling vokal di Kongres dan berulang kali membela operasi militernya, termasuk dalam konflik Gaza dan konfrontasi Israel dengan Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya kehilangan salah satu sahabat terbesar, Amerika kehilangan seorang patriot besar, dan dirinya kehilangan seorang sahabat dekat.
Seorang pejabat senior Israel menyatakan Netanyahu diperkirakan menghadiri pemakaman Graham sebagai penghormatan atas dukungan panjang senator tersebut terhadap keamanan dan kepentingan strategis Israel.
Terhadap Iran, Graham menolak kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action karena menilai perjanjian itu tidak cukup membatasi kemampuan nuklir dan pengaruh regional Teheran.
Ia secara konsisten mendukung tekanan ekonomi, ancaman militer, dan tindakan lebih keras terhadap pemerintahan Iran serta berulang kali menyatakan bahwa Washington tidak boleh membiarkan Teheran memperoleh senjata nuklir.
Sikap tersebut membuat kematian Graham memperoleh tanggapan yang sangat berlawanan, mulai dari penghormatan para pejabat Amerika, Israel, dan oposisi Iran hingga ungkapan kegembiraan bernada propaganda di sebagian media pemerintah Iran.
Perbedaan reaksi itu memperlihatkan bahwa Graham merupakan figur yang sangat dihormati oleh para pendukung kebijakan luar negeri Amerika yang tegas, tetapi dipandang sebagai simbol intervensi dan ancaman militer oleh pihak-pihak yang menentang Washington.
Afghanistan juga menjadi salah satu isu yang paling lama dipertahankan Graham sepanjang karier politiknya karena ia menganggap negara tersebut sebagai bagian langsung dari keamanan nasional Amerika Serikat setelah serangan 11 September 2001.
Ia mendukung penambahan pasukan pada masa Presiden Barack Obama, menentang pengurangan pasukan secara cepat pada masa Trump, dan menyebut penarikan penuh pemerintahan Joe Biden pada 2021 sebagai kesalahan strategis yang berbahaya.
Menurut pandangannya, perang Afghanistan baru dapat dianggap berakhir apabila wilayah negara itu tidak lagi dapat digunakan Al-Qaeda, ISIS-Khorasan, atau kelompok militan lain sebagai pangkalan untuk menyerang Amerika Serikat.
Graham bukan semata-mata menuntut pendudukan militer tanpa batas, tetapi mengusulkan keberadaan pasukan terbatas untuk mempertahankan kemampuan intelijen, mendukung pasukan lokal, dan melaksanakan operasi kontraterorisme yang terarah.
Ia menyebut kehadiran kecil tersebut sebagai semacam jaminan keamanan agar kondisi yang memungkinkan terjadinya serangan 11 September tidak terulang.
Meskipun bersikap keras terhadap Taliban, Graham pernah membuka kemungkinan rekonsiliasi dengan anggota kelompok itu yang bersedia menghentikan kekerasan, memutus hubungan dengan terorisme, menerima konstitusi, dan masuk ke dalam proses politik.
Setelah Taliban kembali berkuasa, Graham turut mendorong agar kelompok tersebut dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris asing dengan alasan hubungannya dengan jaringan militan serta pelanggaran berat terhadap hak perempuan dan anak perempuan.
Graham merupakan anggota terakhir yang masih hidup dari kelompok informal Senat yang dikenal sebagai “Three Amigos” atau “Tiga Sahabat”, bersama senator Partai Republik John McCain dan senator independen Joe Lieberman.
Ketiganya disatukan oleh keyakinan bahwa Amerika Serikat harus mempertahankan kepemimpinan internasional, memperkuat militernya, mendukung para sekutu, dan menghadapi negara maupun organisasi yang dianggap mengancam keamanan global.
McCain meninggal pada 2018, Lieberman wafat pada 2024, dan kematian Graham pada 2026 menutup satu generasi senator yang mendorong kebijakan luar negeri Amerika yang sangat aktif dan intervensionis.
Meskipun kerap mengeluarkan pernyataan keras dan menimbulkan kontroversi, Graham juga dikenal mampu bekerja lintas partai dalam sejumlah isu seperti reformasi imigrasi, kebijakan iklim, pertahanan, serta program jaminan sosial.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebutnya pembela sejati kebebasan dan nilai-nilai yang membuat dunia lebih aman, sementara para koleganya di Senat mengenangnya sebagai politikus yang gigih, jenaka, dan selalu siap memperjuangkan keyakinannya.
Wafatnya Lindsey Graham bukan hanya meninggalkan kekosongan kursi Senat Carolina Selatan, tetapi juga mengakhiri perjalanan seorang politisi yang selama lebih dari 30 tahun ikut membentuk perdebatan Amerika mengenai perang, perdamaian, kekuasaan presiden, peradilan, dan posisi Washington di panggung dunia. (Ali)