SulawesiPos.com – Satgas Operasi Damai Cartenz menyatakan pelaku pembakaran pesawat PT AMA Air dan penembakan pilot berkebangsaan Amerika Serikat di Lapangan Terbang Balinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, diduga berasal dari grup baru KKB yang sedang diidentifikasi lebih lanjut. Polisi menyebut penyelidikan terus berjalan sejak insiden itu terjadi pada Kamis, 2 Juli 2026.
Kepala Satgas Penegakan Hukum Operasi Damai Cartenz Kombes I. G. G. Era Adinata mengatakan aparat telah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan dokumentasi lapangan untuk menelusuri pelaku. Dari proses identifikasi awal, polisi menyebut satu nama yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.
“Selain itu, kami memperoleh dokumentasi berupa foto pelaku yang berdiri di atas pesawat PT AMA yang telah terbakar. Berdasarkan identifikasi, pelaku tersebut dipastikan adalah M. Mbalingga,” kata Era Adinata.
Berdasarkan data Satgas Operasi Damai Cartenz, kelompok yang diduga terlibat disebut sebagai Kelompok Bakusip dan dikategorikan sebagai grup baru. Aparat hingga kini masih mendalami jenis persenjataan yang digunakan kelompok itu dalam serangan terhadap pesawat dan pilot.
Sebelum insiden terjadi, aparat juga mengakui sempat muncul ancaman terhadap aktivitas penerbangan di wilayah Yahukimo. Karena itu, peristiwa di Balinggama dinilai bukan sekadar serangan terisolasi, tetapi menjadi sinyal meningkatnya ancaman terhadap penerbangan sipil di daerah pedalaman Papua.
Data yang dihimpun dari perkembangan penanganan kasus menyebut pesawat AMA Air yang dibakar dipiloti Nicholas F. Goselin, warga negara Amerika Serikat. Pesawat itu terbang dari Wamena menuju Balinggama dengan membawa tujuh penumpang, yang seluruhnya dilaporkan selamat.
Setelah insiden penembakan dan pembakaran pesawat, aparat gabungan mengevakuasi jenazah pilot dari lokasi yang sulit dijangkau. Di sisi lain, aparat keamanan juga terus memburu kelompok bersenjata yang diyakini bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kasus ini menambah daftar ancaman terhadap penerbangan perintis di Papua, terutama di wilayah yang bergantung pada pesawat kecil untuk mobilitas warga, distribusi logistik, pelayanan kesehatan, dan akses ke daerah terisolasi. Penyelidikan kini difokuskan pada pemetaan jaringan kelompok pelaku, identitas anggota, serta pola ancaman terhadap jalur penerbangan di Yahukimo.


