SulawesiPos.com – Berakhirnya konfrontasi Iran-AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz pada 19 Juni 2026 kini memperluas ruang bagi Barat untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Rusia. Hasil KTT G7 menunjukkan bahwa pemulihan penuh ekspor energi Teluk Persia berhasil menekan risiko gangguan pasokan global, sehingga Amerika Serikat dan sekutunya dapat meluncurkan sanksi baru yang lebih ketat di sektor minyak dan gas Moskow.
Melalui stabilitas energi ini, dukungan Barat terhadap Ukraina justru diperkirakan akan semakin menguat. Analisis geopolitik tersebut dilaporkan oleh jurnalis Gennady Petrov dalam publikasi harian Rusia, Nezavisimaya Gazeta, pada Sabtu (20/6/2026).
Para pemimpin G7 dalam pertemuan terakhir mereka menyatakan komitmen untuk terus meningkatkan tekanan terhadap sektor energi Rusia yang selama ini menjadi sumber utama pendapatan negara tersebut.
Normalisasi pelayaran melalui Selat Hormuz dipandang sebagai faktor penting yang mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia.
Selama konflik Iran–Amerika Serikat berlangsung, pasar energi global menghadapi ketidakpastian tinggi karena Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Kembalinya arus energi dari kawasan Teluk Persia diperkirakan akan memperkuat stabilitas pasokan global dan mengurangi tekanan harga minyak internasional.
Dalam kondisi tersebut, negara-negara Barat diyakini akan lebih leluasa memperketat kebijakan terhadap ekspor energi Rusia tanpa khawatir memicu guncangan besar di pasar global.
Perang Iran Justru Mendekatkan Sekutu Barat
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa konflik Iran secara tidak langsung memperkuat koordinasi politik antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Perang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir memperlihatkan bahwa berbagai persoalan internasional yang kompleks sulit diselesaikan secara unilateral oleh satu negara saja.
Menurut sejumlah pengamat Barat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhirnya membutuhkan dukungan sekutu-sekutu Eropa untuk memastikan keberhasilan strategi diplomatik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut turut meredakan sebagian ketegangan yang sebelumnya muncul antara Washington dan beberapa mitra Eropa terkait kebijakan luar negeri dan perdagangan.
Banyak analis menilai bahwa keberhasilan tercapainya nota kesepahaman Iran–Amerika Serikat telah membuka ruang bagi lahirnya koordinasi baru antara negara-negara Barat dalam menghadapi berbagai tantangan geopolitik global.
Apakah Rusia Benar-Benar Terdesak?
Meskipun demikian, sejumlah pakar Rusia menilai kemampuan negara-negara G7 untuk memberikan tekanan tambahan terhadap Moskow tetap memiliki keterbatasan yang signifikan.
Pavel Sevostyanov, dosen dan peneliti pada Departemen Analisis Politik dan Operasi Sosial-Psikologis di Russian Plekhanov University of Economics, menegaskan bahwa Rusia masih merupakan salah satu eksportir energi terbesar dunia.
Menurutnya, jutaan barel minyak Rusia masih mengalir setiap hari ke berbagai pasar internasional.
Ia menjelaskan bahwa pasar energi dunia tetap sangat sensitif terhadap gangguan pasokan sehingga negara-negara Barat tidak dapat mengambil langkah yang berpotensi memicu lonjakan harga secara drastis.
“Rusia tetap menjadi salah satu eksportir minyak terbesar dunia dan pasar global masih sangat sensitif terhadap gangguan pasokan energi,” ujarnya.
Sevostyanov menilai bahwa meskipun situasi di Timur Tengah mulai stabil, Washington dan Brussel tetap harus memperhitungkan risiko kenaikan harga energi di masa depan.
Ia mengingatkan bahwa permintaan energi dari negara-negara Asia terus meningkat dan menjadi faktor penting dalam pembentukan harga minyak global.
“Bahkan setelah situasi stabil, Amerika Serikat dan Uni Eropa tetap menyadari bahwa harga energi dapat kembali meningkat, terutama karena permintaan Asia yang terus tumbuh,” katanya.
Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz justru berpotensi mengurangi intensitas konfrontasi ekonomi antara Rusia dan Barat.
Ia berpendapat bahwa semakin rendah nilai geopolitik harga minyak, semakin kecil pula dorongan untuk menerapkan langkah-langkah pembatasan yang bersifat darurat.
Selat Hormuz dan Masa Depan Stabilitas Dunia
Pemulihan pelayaran di Selat Hormuz memiliki arti yang jauh melampaui kepentingan Iran dan Amerika Serikat semata.
Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman tersebut merupakan salah satu urat nadi utama perdagangan energi dunia.
Stabilitas kawasan itu sangat menentukan harga energi, biaya logistik internasional, inflasi global, serta keamanan rantai pasok berbagai negara.
Karena itu, pembukaan kembali Hormuz pasca-kesepakatan Iran–Amerika Serikat tidak hanya dipandang sebagai keberhasilan diplomasi regional, tetapi juga sebagai perkembangan strategis yang dapat memengaruhi keseimbangan geopolitik dunia selama bertahun-tahun ke depan.
Bagi masyarakat internasional, berkurangnya risiko konflik di jalur energi utama dunia membuka peluang bagi terciptanya stabilitas ekonomi yang lebih besar, harga energi yang lebih terkendali, serta peningkatan kerja sama internasional yang lebih konstruktif dalam menghadapi berbagai tantangan global abad ke-21. (Ali)


