Gempa Palu Terasa hingga Pasangkayu, Warga Panik Keluar Rumah

SulawesiPos.com – Gempa magnitudo 6,7 yang berpusat di darat 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, turut dirasakan warga Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Selasa (16/6/2026), hingga membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah meski BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

Guncangan dirasakan cukup kuat di Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu. Warga yang berada di rumah, tempat usaha, hingga pengendara di jalan memilih keluar dan mencari lokasi terbuka untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah warga dilaporkan berkumpul di halaman rumah, bahu jalan, dan area terbuka setelah gempa terjadi. Beberapa pengendara sepeda motor juga berhenti di pinggir jalan karena merasakan getaran yang datang tiba-tiba.

Di kawasan permukiman, kepanikan terlihat ketika sejumlah ibu rumah tangga membawa anak-anak mereka keluar rumah. Para pedagang juga meninggalkan lapak sementara untuk mencari tempat yang dinilai lebih aman.

Berdasarkan keterangan warga, guncangan di Pasangkayu terasa sekitar 10 detik. Getaran tersebut membuat lantai terasa bergoyang dan sejumlah perabotan di dalam rumah ikut bergetar.

BACA JUGA:  Gempa Palu Terasa hingga Pinrang Sulsel, BMKG Catat Guncangan II-III MMI

“Saya sedang di dalam rumah, tiba-tiba lantai terasa bergoyang. Lemari dan kaca jendela ikut bergetar. Kami langsung keluar karena takut gempa semakin besar,” ujar seorang warga Kelurahan Pasangkayu.

Pasangkayu Masuk Wilayah Terdampak Guncangan

BMKG mencatat gempa utama terjadi pada Selasa pukul 11.27.45 Wita. Episenter gempa berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, tepatnya di darat 42 kilometer tenggara Palu, dengan kedalaman 10 kilometer.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif.Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan dan hasil observasi instrumentasi, Palu merasakan guncangan paling kuat pada skala VI-VII MMI. Sigi berada pada skala V-VI MMI, sementara Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasangkayu tercatat pada skala III MMI.

Guncangan juga dirasakan di Pinrang, Parepare, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, dan Luwu Utara dengan skala II-III MMI.

BACA JUGA:  Gempa Magnitudo 5,4 Guncang Sukabumi, Disusul Gempa Melawi dan Pangandaran Hari Ini

BMKG sebelumnya mencatat adanya gempa susulan setelah gempa utama. Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui grup Media Info BMKG, hingga pukul 13.53 Wita tercatat 21 kali gempa susulan dengan magnitudo berkisar M5,1 hingga M2,9.

Warga diimbau tetap tenang, mengikuti informasi resmi BMKG, dan tidak mudah percaya pada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat juga diminta memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali masuk ke rumah, terutama jika ditemukan retakan atau kerusakan akibat guncangan.

SulawesiPos.com – Gempa magnitudo 6,7 yang berpusat di darat 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, turut dirasakan warga Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Selasa (16/6/2026), hingga membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah meski BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

Guncangan dirasakan cukup kuat di Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu. Warga yang berada di rumah, tempat usaha, hingga pengendara di jalan memilih keluar dan mencari lokasi terbuka untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah warga dilaporkan berkumpul di halaman rumah, bahu jalan, dan area terbuka setelah gempa terjadi. Beberapa pengendara sepeda motor juga berhenti di pinggir jalan karena merasakan getaran yang datang tiba-tiba.

Di kawasan permukiman, kepanikan terlihat ketika sejumlah ibu rumah tangga membawa anak-anak mereka keluar rumah. Para pedagang juga meninggalkan lapak sementara untuk mencari tempat yang dinilai lebih aman.

Berdasarkan keterangan warga, guncangan di Pasangkayu terasa sekitar 10 detik. Getaran tersebut membuat lantai terasa bergoyang dan sejumlah perabotan di dalam rumah ikut bergetar.

BACA JUGA:  Gempa Palu Terasa hingga Pinrang Sulsel, BMKG Catat Guncangan II-III MMI

“Saya sedang di dalam rumah, tiba-tiba lantai terasa bergoyang. Lemari dan kaca jendela ikut bergetar. Kami langsung keluar karena takut gempa semakin besar,” ujar seorang warga Kelurahan Pasangkayu.

Pasangkayu Masuk Wilayah Terdampak Guncangan

BMKG mencatat gempa utama terjadi pada Selasa pukul 11.27.45 Wita. Episenter gempa berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, tepatnya di darat 42 kilometer tenggara Palu, dengan kedalaman 10 kilometer.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif.Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan dan hasil observasi instrumentasi, Palu merasakan guncangan paling kuat pada skala VI-VII MMI. Sigi berada pada skala V-VI MMI, sementara Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasangkayu tercatat pada skala III MMI.

Guncangan juga dirasakan di Pinrang, Parepare, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, dan Luwu Utara dengan skala II-III MMI.

BACA JUGA:  Tiga Gempa Kecil Guncang Sulawesi Pagi Ini, Satu Titik Berada di Luwu Timur

BMKG sebelumnya mencatat adanya gempa susulan setelah gempa utama. Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui grup Media Info BMKG, hingga pukul 13.53 Wita tercatat 21 kali gempa susulan dengan magnitudo berkisar M5,1 hingga M2,9.

Warga diimbau tetap tenang, mengikuti informasi resmi BMKG, dan tidak mudah percaya pada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat juga diminta memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali masuk ke rumah, terutama jika ditemukan retakan atau kerusakan akibat guncangan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru