Iran-AS Mulai Negosiasi di Islamabad, Dibayangi Ketidakpercayaan dan Syarat Gencatan Senjata

SulawesiPos.com – Upaya meredakan konflik Timur Tengah memasuki fase penting setelah delegasi Iran yang dipimpin Mohammad Baqer Qalibaf tiba di Islamabad, Pakistan, Sabtu (10/4/2026) dini hari.

Kedatangan ini menandai dimulainya proses negosiasi dengan Amerika Serikat, meski ketegangan dan ketidakpercayaan masih membayangi hubungan kedua negara.

“Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak memiliki kepercayaan (terhadap Amerika),” ujar Qalibaf kepada wartawan setibanya di Islamabad.

Ia menegaskan bahwa pengalaman masa lalu, termasuk kegagalan negosiasi dan insiden militer di tengah proses diplomasi, membuat Iran tetap bersikap waspada.

Meski membuka ruang dialog, Iran disebut mengajukan sejumlah prasyarat sebelum negosiasi resmi dimulai.

Di antaranya adalah penghentian serangan di Lebanon serta pembebasan aset Iran yang selama ini dibekukan.

Isu Lebanon menjadi salah satu poin krusial, terutama terkait tuntutan Iran agar wilayah tersebut masuk dalam cakupan gencatan senjata, termasuk penghentian serangan terhadap kelompok Hizbullah.

Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Hotel Serena, Islamabad.

BACA JUGA: 
Kekuasaan Kosong Usai Supreme Leader Iran Ali Khamenei Tewas, Ini yang Pimpin Iran Sekarang

Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin Wakil Presiden JD Vance yang telah bertolak menuju Pakistan.

Sebelum keberangkatannya, Vance menegaskan bahwa Washington siap berdialog, namun tidak akan mentoleransi manuver taktis dari Iran.

“Jika mereka datang dengan itikad baik, kami siap membuka tangan. Tapi jika mencoba mempermainkan kami, tim negosiasi tidak akan menerima itu,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden Donald Trump turut meningkatkan tekanan menjelang perundingan.

Ia menilai Iran berada dalam posisi lemah dan hanya mengandalkan pengaruh sementara melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Pakistan Ambil Peran Kunci sebagai Mediator

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan komitmennya untuk memastikan proses negosiasi berjalan lancar.

Menurutnya, pembicaraan ini menjadi peluang penting untuk menemukan solusi damai atas konflik yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagai tuan rumah, pemerintah Pakistan juga memberlakukan pengamanan ketat di Islamabad guna menjamin kelancaran proses diplomasi.

SulawesiPos.com – Upaya meredakan konflik Timur Tengah memasuki fase penting setelah delegasi Iran yang dipimpin Mohammad Baqer Qalibaf tiba di Islamabad, Pakistan, Sabtu (10/4/2026) dini hari.

Kedatangan ini menandai dimulainya proses negosiasi dengan Amerika Serikat, meski ketegangan dan ketidakpercayaan masih membayangi hubungan kedua negara.

“Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak memiliki kepercayaan (terhadap Amerika),” ujar Qalibaf kepada wartawan setibanya di Islamabad.

Ia menegaskan bahwa pengalaman masa lalu, termasuk kegagalan negosiasi dan insiden militer di tengah proses diplomasi, membuat Iran tetap bersikap waspada.

Meski membuka ruang dialog, Iran disebut mengajukan sejumlah prasyarat sebelum negosiasi resmi dimulai.

Di antaranya adalah penghentian serangan di Lebanon serta pembebasan aset Iran yang selama ini dibekukan.

Isu Lebanon menjadi salah satu poin krusial, terutama terkait tuntutan Iran agar wilayah tersebut masuk dalam cakupan gencatan senjata, termasuk penghentian serangan terhadap kelompok Hizbullah.

Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Hotel Serena, Islamabad.

BACA JUGA: 
Perang Terbuka Pecah! AS dan Israel Luncurkan Serangan Besar ke Iran, Teheran Ancam Balasan Lebih Dahsyat

Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin Wakil Presiden JD Vance yang telah bertolak menuju Pakistan.

Sebelum keberangkatannya, Vance menegaskan bahwa Washington siap berdialog, namun tidak akan mentoleransi manuver taktis dari Iran.

“Jika mereka datang dengan itikad baik, kami siap membuka tangan. Tapi jika mencoba mempermainkan kami, tim negosiasi tidak akan menerima itu,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden Donald Trump turut meningkatkan tekanan menjelang perundingan.

Ia menilai Iran berada dalam posisi lemah dan hanya mengandalkan pengaruh sementara melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Pakistan Ambil Peran Kunci sebagai Mediator

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan komitmennya untuk memastikan proses negosiasi berjalan lancar.

Menurutnya, pembicaraan ini menjadi peluang penting untuk menemukan solusi damai atas konflik yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagai tuan rumah, pemerintah Pakistan juga memberlakukan pengamanan ketat di Islamabad guna menjamin kelancaran proses diplomasi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru