SulawesiPos.com – Pemerintah tengah menyiapkan strategi untuk menghadapi lonjakan harga plastik akibat menipisnya pasokan bahan baku utama, yakni nafta.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah bersama Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah jangka pendek berupa diversifikasi sumber pasokan nafta.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut pemerintah membuka peluang impor dari kawasan yang relatif stabil, seperti Afrika, India, dan Amerika.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga bahan baku di tengah ketidakpastian pasokan global.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui transformasi penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Sejumlah komoditas lokal seperti bambu, rumput laut, dan singkong dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bioplastik sebagai pengganti nafta.
“Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” ujar Maman Abdurrahman, Jumat (10/4/2026).
Peluang Industri Hijau Nasional
Pemerintah melihat situasi ini sebagai momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dari wilayah berisiko tinggi.
Selain itu, diversifikasi bahan baku dinilai penting untuk memperkuat ketahanan industri nasional sekaligus mendorong pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan bioplastik di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi biaya produksi.
Maman menjelaskan, bahan seperti rumput laut dan singkong sebenarnya sudah mulai dimanfaatkan, namun keterbatasan pasar membuat harga produksinya masih relatif tinggi.
Perlu Dorongan Kebijakan
Menurutnya, peningkatan permintaan melalui kebijakan yang tepat akan mendorong efisiensibiaya produksi.
Sejumlah pelaku UMKM bahkan telah memproduksi plastik berbasis rumput laut dan berhasil menembus pasar ekspor.
Pemerintah pun berkomitmen untuk memperkuat dukungan agar skala produksi meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan domestik.
“Jika kebijakan diarahkan untuk memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka permintaan akan tumbuh dan biaya produksi dapat ditekan,” kata Maman.

