Soroti Banjir Impor Gula Rafinasi, Wamentan Sudaryono Tegaskan Pengetatan Impor dan Penguatan Hilirisasi untuk Lindungi Petani Tebu

SulawesiPos.com, Jakarta — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyoroti derasnya impor gula rafinasi yang berdampak pada tidak terserapnya gula produksi petani tebu dalam negeri.

Kondisi ini turut menekan harga di tingkat petani dan mengganggu stabilitas pasar gula nasional.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI pada Rabu (8/4/2026).

Wamentan Sudaryono menegaskan pentingnya penguatan sektor hilir sebagai langkah strategis untuk memastikan hasil produksi petani terserap optimal serta memiliki nilai tambah yang berkelanjutan.

Menurut Wamentan Sudaryono, upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi tebu melalui berbagai program di sektor hulu sudah berjalan masif. Namun, lemahnya pengaturan di sektor hilir justru menimbulkan paradoks di lapangan.

“Intinya swasembada gula itu banyak menanam, banyak panen, dan banyak produksi. Tapi yang terjadi sekarang paradoks, kita masih impor gula sementara gula hasil petani justru tidak laku,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh membanjirnya gula rafinasi ke pasar konsumsi, yang seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan industri.

BACA JUGA: 
Mentan Amran Pimpin Rakor Nasional Pertanian,Tegaskan Swasembada Berkelanjutan dan Siap Ekspor Beras

Hal ini menyebabkan harga gula petani menjadi tidak kompetitif dan menurunkan semangat petani untuk menanam tebu.

“Kalau impor gula dibatasi, seharusnya gula petani laris. Tapi kenyataannya tidak, karena ada kebocoran dari gula rafinasi ke pasar rumah tangga. Ini yang harus kita benahi bersama,” tegasnya.

Wamentan Sudaryono yang akrab dipanggil Mas Dar menekankan pentingnya penguatan regulasi di sektor hilir, termasuk pengawasan distribusi gula rafinasi agar tidak masuk ke pasar konsumsi.

Ia juga menyambut baik usulan agar tata niaga gula diatur melalui satu pintu oleh BUMN guna memastikan distribusi lebih terkendali.

“Kalau distribusi diatur satu pintu melalui BUMN, kita bisa memastikan gula rafinasi tidak membanjiri pasar konsumsi. Ini penting untuk melindungi petani,” katanya.

Di sisi hulu, pemerintah telah menggelontorkan berbagai dukungan bagi petani tebu, termasuk program bongkar ratoon dengan anggaran mencapai Rp2,5 triliun untuk meningkatkan produktivitas.

Selain itu, dukungan berupa subsidi pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga perluasan areal tanam ditargetkan mencapai 200 ribu hektare.

BACA JUGA: 
Sinergi Kementan dan Polri Dongkrak Produksi Jagung, Impor Pakan Kini Nol Persen

Dengan total intervensi yang diperkirakan mencapai Rp4 triliun, pemerintah menargetkan peningkatan produksi gula nasional hingga 1 juta ton.

“Kalau kebocoran di hilir bisa kita tutup, maka investasi Rp4 triliun itu bisa menghasilkan tambahan 1 juta ton gula. Dengan asumsi harga Rp17 ribu per kilogram, potensi nilai tambah yang dihasilkan bisa mencapai Rp17 triliun,” jelas Wamentan Sudaryono.

Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri tidak hanya berdampak pada pengurangan impor, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk peningkatan kesejahteraan petani dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Substitusi impor itu penting. Impor memang bukan hal yang ideal, tapi kalau bisa kita gantikan dengan produksi dalam negeri, itu jauh lebih baik. Selain meningkatkan pendapatan petani, juga memperkuat ekonomi nasional,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa Kementerian Pertanian siap menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan, termasuk komoditas gula, melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

BACA JUGA: 
Mentan Amran Dilantik Menjadi Ketua Mabisaka Taruna Bumi: Indonesia Bisa Jadi Pemimpin Pangan Dunia

SulawesiPos.com, Jakarta — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyoroti derasnya impor gula rafinasi yang berdampak pada tidak terserapnya gula produksi petani tebu dalam negeri.

Kondisi ini turut menekan harga di tingkat petani dan mengganggu stabilitas pasar gula nasional.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI pada Rabu (8/4/2026).

Wamentan Sudaryono menegaskan pentingnya penguatan sektor hilir sebagai langkah strategis untuk memastikan hasil produksi petani terserap optimal serta memiliki nilai tambah yang berkelanjutan.

Menurut Wamentan Sudaryono, upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi tebu melalui berbagai program di sektor hulu sudah berjalan masif. Namun, lemahnya pengaturan di sektor hilir justru menimbulkan paradoks di lapangan.

“Intinya swasembada gula itu banyak menanam, banyak panen, dan banyak produksi. Tapi yang terjadi sekarang paradoks, kita masih impor gula sementara gula hasil petani justru tidak laku,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh membanjirnya gula rafinasi ke pasar konsumsi, yang seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan industri.

BACA JUGA: 
Indonesia Berpotensi Menjadi Lumbung Pangan Dunia

Hal ini menyebabkan harga gula petani menjadi tidak kompetitif dan menurunkan semangat petani untuk menanam tebu.

“Kalau impor gula dibatasi, seharusnya gula petani laris. Tapi kenyataannya tidak, karena ada kebocoran dari gula rafinasi ke pasar rumah tangga. Ini yang harus kita benahi bersama,” tegasnya.

Wamentan Sudaryono yang akrab dipanggil Mas Dar menekankan pentingnya penguatan regulasi di sektor hilir, termasuk pengawasan distribusi gula rafinasi agar tidak masuk ke pasar konsumsi.

Ia juga menyambut baik usulan agar tata niaga gula diatur melalui satu pintu oleh BUMN guna memastikan distribusi lebih terkendali.

“Kalau distribusi diatur satu pintu melalui BUMN, kita bisa memastikan gula rafinasi tidak membanjiri pasar konsumsi. Ini penting untuk melindungi petani,” katanya.

Di sisi hulu, pemerintah telah menggelontorkan berbagai dukungan bagi petani tebu, termasuk program bongkar ratoon dengan anggaran mencapai Rp2,5 triliun untuk meningkatkan produktivitas.

Selain itu, dukungan berupa subsidi pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga perluasan areal tanam ditargetkan mencapai 200 ribu hektare.

BACA JUGA: 
Mentan Amran Dilantik Menjadi Ketua Mabisaka Taruna Bumi: Indonesia Bisa Jadi Pemimpin Pangan Dunia

Dengan total intervensi yang diperkirakan mencapai Rp4 triliun, pemerintah menargetkan peningkatan produksi gula nasional hingga 1 juta ton.

“Kalau kebocoran di hilir bisa kita tutup, maka investasi Rp4 triliun itu bisa menghasilkan tambahan 1 juta ton gula. Dengan asumsi harga Rp17 ribu per kilogram, potensi nilai tambah yang dihasilkan bisa mencapai Rp17 triliun,” jelas Wamentan Sudaryono.

Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri tidak hanya berdampak pada pengurangan impor, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk peningkatan kesejahteraan petani dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Substitusi impor itu penting. Impor memang bukan hal yang ideal, tapi kalau bisa kita gantikan dengan produksi dalam negeri, itu jauh lebih baik. Selain meningkatkan pendapatan petani, juga memperkuat ekonomi nasional,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa Kementerian Pertanian siap menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan, termasuk komoditas gula, melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

BACA JUGA: 
Jaringan Saudagar Bugis Makassar Mendunia, Amran Sulaiman: Kunci Sukses Ada pada Kebersamaan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru