Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Prabowo: Tindakan Keji yang Merusak Perdamaian

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan tugas sebagai penjaga perdamaian di Lebanon.

Ia mengecam keras serangan terhadap pasukan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang dinilai sebagai tindakan keji dan merusak upaya menjaga stabilitas global.

“Kami, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mengecam keras setiap tindakan keji yang merusak perdamaian dan menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik bangsa,” kata Prabowo, Minggu (5/4/2026).

Prabowo menegaskan bahwa negara akan selalu hadir untuk menghormati jasa para prajurit serta menjaga kehormatan mereka.

Ia juga mengajak masyarakat untuk melanjutkan semangat para prajurit dalam menjaga perdamaian dan persatuan bangsa.

“Mari kita lanjutkan semangat dan tekad untuk menjaga perdamaian, serta tidak memberi ruang bagi siapa pun yang berusaha memecah belah kebersamaan dan kerukunan bangsa,” tegasnya.

Adapun tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi tersebut adalah Zulmi Aditya Iskandar, Muhammad Nur Ichwan, dan Farizal Rhomadon.

BACA JUGA: 
Terungkap, Ini Tujuan Retret Kabinet Jilid II Hambalang Siang Ini

Sebelumnya, pada Sabtu (4/4/2026), Presiden turut menghadiri prosesi penyambutan jenazah secara kenegaraan di Bandara Soekarno-Hatta. Ia memberikan penghormatan terakhir kepada para prajurit yang diselimuti bendera Merah Putih.

Dalam sepekan terakhir, tercatat tiga kali serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang mengakibatkan tiga prajurit TNI gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka.

Indonesia Desak Rapat Darurat PBB

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menggelar rapat darurat melalui Perwakilan Tetap di New York.

“Kita mengutuk keras serangan terhadap penjaga perdamaian dan menuntut dilakukan investigasi menyeluruh,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pasukan perdamaian memiliki mandat menjaga stabilitas, bukan untuk terlibat dalam operasi tempur. Karena itu, Indonesia juga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan pasukan, khususnya dalam misi UNIFIL.

“Kita meminta PBB untuk mengevaluasi keselamatan prajurit penjaga perdamaian, khususnya di UNIFIL,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan tugas sebagai penjaga perdamaian di Lebanon.

Ia mengecam keras serangan terhadap pasukan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang dinilai sebagai tindakan keji dan merusak upaya menjaga stabilitas global.

“Kami, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mengecam keras setiap tindakan keji yang merusak perdamaian dan menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik bangsa,” kata Prabowo, Minggu (5/4/2026).

Prabowo menegaskan bahwa negara akan selalu hadir untuk menghormati jasa para prajurit serta menjaga kehormatan mereka.

Ia juga mengajak masyarakat untuk melanjutkan semangat para prajurit dalam menjaga perdamaian dan persatuan bangsa.

“Mari kita lanjutkan semangat dan tekad untuk menjaga perdamaian, serta tidak memberi ruang bagi siapa pun yang berusaha memecah belah kebersamaan dan kerukunan bangsa,” tegasnya.

Adapun tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi tersebut adalah Zulmi Aditya Iskandar, Muhammad Nur Ichwan, dan Farizal Rhomadon.

BACA JUGA: 
Komnas HAM: Penyidikan Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Sudah 80 Persen

Sebelumnya, pada Sabtu (4/4/2026), Presiden turut menghadiri prosesi penyambutan jenazah secara kenegaraan di Bandara Soekarno-Hatta. Ia memberikan penghormatan terakhir kepada para prajurit yang diselimuti bendera Merah Putih.

Dalam sepekan terakhir, tercatat tiga kali serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang mengakibatkan tiga prajurit TNI gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka.

Indonesia Desak Rapat Darurat PBB

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menggelar rapat darurat melalui Perwakilan Tetap di New York.

“Kita mengutuk keras serangan terhadap penjaga perdamaian dan menuntut dilakukan investigasi menyeluruh,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pasukan perdamaian memiliki mandat menjaga stabilitas, bukan untuk terlibat dalam operasi tempur. Karena itu, Indonesia juga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan pasukan, khususnya dalam misi UNIFIL.

“Kita meminta PBB untuk mengevaluasi keselamatan prajurit penjaga perdamaian, khususnya di UNIFIL,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru