WFP: 45 Juta Orang Terancam Kelaparan, Indonesia Surplus Beras

SulawesiPos.com – World Food Programme (WFP) memperingatkan, terdapat tambahan sebanyak 45 juta orang di dunia terancam kelaparan akibat krisis pangan global sebagai dampak konflik perang di Timur Tengah. Sementara Indonesia justru mencatat kondisi relatif aman dengan stok beras yang berada pada posisi surplus.

WFP, seperti diberitakan CNBC Indonesia, memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan besar jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut pada 2026.

Jika konflik berkepanjangan dan terus mengguncang perekonomian global, dampaknya diperkirakan meluas jauh melampaui kawasan yang terlibat langsung.

Berdasarkan analisis terbaru WFP, sekitar 45 juta orang tambahan dapat jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut atau lebih buruk apabila konflik tidak mereda hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.

Tambahan ini akan memperberat situasi global yang saat ini sudah mencatat sekitar 318 juta orang hidup dalam kerawanan pangan.

Dengan demikian, terdapat sekitar 363 juta orang terancam kelaparan di seluruh dunia jika perang di Timur Tengah tidak segera berakhir.

Sebagai pembanding, krisis global akibat Perang Rusia–Ukraina pada 2022 mendorong jumlah penduduk yang mengalami kelaparan mencapai rekor 349 juta jiwa.

WFP menilai dunia kini berada di jalur yang berisiko mengulang situasi serupa dalam beberapa bulan ke depan jika eskalasi konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

BACA JUGA: 
Gawat! 363 Juta Jiwa Penduduk Bumi Terancam Kelaparan, Kita Patut Bersyukur Indonesia Surplus Beras

Situasi berbeda dialami Indonesia. Patut disyukuri, Indonesia sudah berhasil swasembada beras, sebagaimana sudah diumumkan oleh Presiden Prabowo pada 7 Januari 2026. Tak hanya itu, pada 4 Maret 2026, Indonesia melakukan ekspor beras sekitar 2.000 ton ke Arab Saudi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam beberapa kesempatan mengeaskan, Indonesia memiliki stok pangan sampai 324 hari. Cadangan beras pada April 2026 diperkirakan sudah berada pada angka 5,2 juta ton.

Harga Energi Naik, Pangan Ikut Tertekan

Pengalaman krisis 2022 menunjukkan lonjakan harga pangan terjadi sangat cepat, sementara penurunannya berlangsung lambat.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga rentan kehilangan akses terhadap makanan pokok dalam waktu singkat, dan pola serupa dikhawatirkan kembali terulang.

Meski konflik terkini berlangsung di kawasan pusat energi dunia, bukan lumbung pangan, efeknya dinilai setara karena keterkaitan erat antara harga energi dan harga makanan.

Kenaikan biaya energi mendorong inflasi pangan, meningkatkan ongkos produksi dan distribusi, serta mempersempit daya beli masyarakat.

WFP memperingatkan, keluarga yang saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan makan harian berisiko segera kehilangan kemampuan tersebut.

BACA JUGA: 
Mentan Amran: Rumah Potong Hewan Dilarang Naikkan Harga Daging

Apabila konflik berlanjut, guncangan global akan semakin besar dan kelompok paling rentan akan menanggung dampak terberat.

Afrika dan Asia Jadi Wilayah Paling Rentan

Analisis WFP menunjukkan negara-negara di Afrika sub-Sahara dan Asia berada pada posisi paling rawan karena ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan energi.

Jumlah penduduk rawan pangan diperkirakan meningkat hingga 21 persen di Afrika Barat dan Tengah, 17 persen di Afrika Timur dan Selatan, serta 24 persen di Asia.

Di Sudan, sekitar 80 persen kebutuhan gandum masih bergantung pada impor, sehingga kenaikan harga global akan langsung menekan masyarakat.

Sementara di Somalia, harga sejumlah komoditas penting dilaporkan telah melonjak sedikitnya 20 persen sejak konflik dimulai, memperburuk situasi di tengah kekeringan parah.

Kondisi ini terjadi saat pendanaan WFP mengalami kekurangan signifikan, memaksa organisasi tersebut memperketat prioritas bantuan di berbagai wilayah.

Tanpa tambahan sumber daya, lonjakan jumlah penduduk rawan pangan berisiko berubah menjadi bencana kemanusiaan di negara-negara yang sudah berada di ambang krisis.

Jalur Pelayaran Terganggu, Efek Domino Global

Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah telah mendorong kenaikan biaya energi, bahan bakar, dan pupuk. Dampak ini meluas ke luar Timur Tengah melalui efek domino pada rantai pasok global.

BACA JUGA: 
Pemkot Makassar Turunkan 9 Mobil Pasar Murah Jelang Akhir Ramadan untuk Antisipasi Inflasi Pangan

Hambatan di dua koridor perdagangan maritim paling vital dunia memicu lonjakan biaya pengiriman dan meningkatkan potensi inflasi global baru.

Selain itu, ancaman kelangkaan pupuk dinilai sangat mengkhawatirkan, terutama menjelang musim tanam 2026 di banyak negara berkembang yang bergantung pada impor.

Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan bahwa tanpa respons kemanusiaan yang memadai, situasi ini dapat berkembang menjadi bencana besar.

“Jika konflik ini terus berlanjut, dampaknya akan mengguncang seluruh dunia, dan keluarga yang bahkan saat ini tidak mampu membeli makanan berikutnya akan menjadi yang paling terdampak. Tanpa respons kemanusiaan yang didanai secara memadai, kondisi ini bisa menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang krisis,” ucap Skau, dikutip dari laman resmi WFP, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah situasi tersebut, WFP melaporkan telah menyalurkan bantuan kepada puluhan ribu keluarga terdampak konflik di Timur Tengah dan mengerahkan respons darurat untuk menjaga distribusi bantuan.

Namun, organisasi itu menegaskan dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar bantuan pangan dapat menjangkau masyarakat paling rentan di tengah krisis global yang terus berkembang.*

SulawesiPos.com – World Food Programme (WFP) memperingatkan, terdapat tambahan sebanyak 45 juta orang di dunia terancam kelaparan akibat krisis pangan global sebagai dampak konflik perang di Timur Tengah. Sementara Indonesia justru mencatat kondisi relatif aman dengan stok beras yang berada pada posisi surplus.

WFP, seperti diberitakan CNBC Indonesia, memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan besar jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut pada 2026.

Jika konflik berkepanjangan dan terus mengguncang perekonomian global, dampaknya diperkirakan meluas jauh melampaui kawasan yang terlibat langsung.

Berdasarkan analisis terbaru WFP, sekitar 45 juta orang tambahan dapat jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut atau lebih buruk apabila konflik tidak mereda hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.

Tambahan ini akan memperberat situasi global yang saat ini sudah mencatat sekitar 318 juta orang hidup dalam kerawanan pangan.

Dengan demikian, terdapat sekitar 363 juta orang terancam kelaparan di seluruh dunia jika perang di Timur Tengah tidak segera berakhir.

Sebagai pembanding, krisis global akibat Perang Rusia–Ukraina pada 2022 mendorong jumlah penduduk yang mengalami kelaparan mencapai rekor 349 juta jiwa.

WFP menilai dunia kini berada di jalur yang berisiko mengulang situasi serupa dalam beberapa bulan ke depan jika eskalasi konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

BACA JUGA: 
Mentan Amran: Rumah Potong Hewan Dilarang Naikkan Harga Daging

Situasi berbeda dialami Indonesia. Patut disyukuri, Indonesia sudah berhasil swasembada beras, sebagaimana sudah diumumkan oleh Presiden Prabowo pada 7 Januari 2026. Tak hanya itu, pada 4 Maret 2026, Indonesia melakukan ekspor beras sekitar 2.000 ton ke Arab Saudi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam beberapa kesempatan mengeaskan, Indonesia memiliki stok pangan sampai 324 hari. Cadangan beras pada April 2026 diperkirakan sudah berada pada angka 5,2 juta ton.

Harga Energi Naik, Pangan Ikut Tertekan

Pengalaman krisis 2022 menunjukkan lonjakan harga pangan terjadi sangat cepat, sementara penurunannya berlangsung lambat.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga rentan kehilangan akses terhadap makanan pokok dalam waktu singkat, dan pola serupa dikhawatirkan kembali terulang.

Meski konflik terkini berlangsung di kawasan pusat energi dunia, bukan lumbung pangan, efeknya dinilai setara karena keterkaitan erat antara harga energi dan harga makanan.

Kenaikan biaya energi mendorong inflasi pangan, meningkatkan ongkos produksi dan distribusi, serta mempersempit daya beli masyarakat.

WFP memperingatkan, keluarga yang saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan makan harian berisiko segera kehilangan kemampuan tersebut.

BACA JUGA: 
Pengamat: Inflasi Ramadan 2026 Melambat ke 0,68 Persen, Didukung Harga dan Pasokan Pangan Yang Terkendali

Apabila konflik berlanjut, guncangan global akan semakin besar dan kelompok paling rentan akan menanggung dampak terberat.

Afrika dan Asia Jadi Wilayah Paling Rentan

Analisis WFP menunjukkan negara-negara di Afrika sub-Sahara dan Asia berada pada posisi paling rawan karena ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan energi.

Jumlah penduduk rawan pangan diperkirakan meningkat hingga 21 persen di Afrika Barat dan Tengah, 17 persen di Afrika Timur dan Selatan, serta 24 persen di Asia.

Di Sudan, sekitar 80 persen kebutuhan gandum masih bergantung pada impor, sehingga kenaikan harga global akan langsung menekan masyarakat.

Sementara di Somalia, harga sejumlah komoditas penting dilaporkan telah melonjak sedikitnya 20 persen sejak konflik dimulai, memperburuk situasi di tengah kekeringan parah.

Kondisi ini terjadi saat pendanaan WFP mengalami kekurangan signifikan, memaksa organisasi tersebut memperketat prioritas bantuan di berbagai wilayah.

Tanpa tambahan sumber daya, lonjakan jumlah penduduk rawan pangan berisiko berubah menjadi bencana kemanusiaan di negara-negara yang sudah berada di ambang krisis.

Jalur Pelayaran Terganggu, Efek Domino Global

Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah telah mendorong kenaikan biaya energi, bahan bakar, dan pupuk. Dampak ini meluas ke luar Timur Tengah melalui efek domino pada rantai pasok global.

BACA JUGA: 
Gawat! 363 Juta Jiwa Penduduk Bumi Terancam Kelaparan, Kita Patut Bersyukur Indonesia Surplus Beras

Hambatan di dua koridor perdagangan maritim paling vital dunia memicu lonjakan biaya pengiriman dan meningkatkan potensi inflasi global baru.

Selain itu, ancaman kelangkaan pupuk dinilai sangat mengkhawatirkan, terutama menjelang musim tanam 2026 di banyak negara berkembang yang bergantung pada impor.

Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan bahwa tanpa respons kemanusiaan yang memadai, situasi ini dapat berkembang menjadi bencana besar.

“Jika konflik ini terus berlanjut, dampaknya akan mengguncang seluruh dunia, dan keluarga yang bahkan saat ini tidak mampu membeli makanan berikutnya akan menjadi yang paling terdampak. Tanpa respons kemanusiaan yang didanai secara memadai, kondisi ini bisa menjadi bencana bagi jutaan orang yang sudah berada di ambang krisis,” ucap Skau, dikutip dari laman resmi WFP, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah situasi tersebut, WFP melaporkan telah menyalurkan bantuan kepada puluhan ribu keluarga terdampak konflik di Timur Tengah dan mengerahkan respons darurat untuk menjaga distribusi bantuan.

Namun, organisasi itu menegaskan dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar bantuan pangan dapat menjangkau masyarakat paling rentan di tengah krisis global yang terus berkembang.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru