Pasokan dan Harga Cabai Terkendali, Masyarakat Apresiasi Langkah Konkret Kementan

SulawesiPos.com – Langkah konkret Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga stabilitas pangan nasional mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pasokan cabai yang terjaga berdampak pada harga yang semakin terkendali.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah akan terus memastikan keseimbangan antara pasokan dan harga tetap terjaga.

“Menjaga pasokan pangan, menjaga harga di tingkat konsumen, serta memastikan harga pangan sesuai dengan harga acuan pemerintah (HAP) menjadi fokus utama kami. Dengan langkah konkret di lapangan, kami pastikan masyarakat mendapatkan akses pangan dengan harga yang wajar,” kata Mentan Amran dalam keterangannya pada Jumat (20/3/2026).

Di lapangan, tren harga cabai menunjukkan perbaikan. Mbah Yono, pelaku usaha percabaian di Pasar Pare, Kediri, Jawa Timur, menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir terjadi penurunan harga aneka cabai.

“Terutama cabai rawit merah, saat ini harga maksimal di kisaran Rp57.000 per kilogram, setelah sebelumnya sempat melampaui harga acuan di tingkat konsumen,” katanya.

BACA JUGA: 
BPS Catat Lonjakan Potensi Produksi Beras Awal 2026, Naik 15,79 Persen

Dari sisi petani, kondisi serupa juga terjadi. Sumarna selaku Champion Cabai Garut, Jawa Barat, mengonfirmasi adanya penurunan harga di tingkat produsen.

“Harga cabai rawit merah hari ini berkisar Rp55.000 per kilogram, setelah beberapa hari sebelumnya sempat berada di atas harga acuan pemerintah. Ini sejalan dengan kondisi panen yang sedang tinggi,” jelasnya.

Kondisi harga yang semakin stabil ini ditopang oleh ketersediaan pasokan yang memadai.

Berdasarkan data early warning system (EWS) Direktorat Jenderal Hortikultura, neraca produksi cabai pada Maret berada dalam kondisi surplus, dengan cabai rawit merah diperkirakan surplus sebesar 46.868 ton dan cabai besar surplus 8.282 ton.

Produksi yang melimpah menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan pasar.

Surplus tersebut berasal dari sentra-sentra produksi utama seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Blitar, dan Magelang yang saat ini tengah memasuki masa panen.

Puncak panen di berbagai wilayah ini meningkatkan volume pasokan ke pasar, sehingga mampu mengompensasi lonjakan permintaan, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan.

BACA JUGA: 
Jelang Ramadan dan Idulfitri, Pemerintah Pastikan Kejahatan Pangan Ditindak Tegas

Ketua Asosiasi Champion Cabai Nasional, Ardhy, menilai kondisi produksi cabai yang tengah melimpah di berbagai sentra menjadi momentum penting untuk memperkuat stabilitas pasokan dan harga di pasar, sekaligus membuka ruang optimal bagi penguatan distribusi oleh para pelaku usaha dan petani.

Senada, Juhara selaku champion cabai juga menyampaikan bahwa kondisi surplus ini memberikan ruang bagi petani untuk memperluas distribusi sekaligus mendukung program stabilisasi pemerintah.

“Panen berlangsung baik di berbagai sentra, sehingga pasokan melimpah dan bahkan surplus. Kami siap mendukung distribusi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga,” ungkap Ardhy.

Di sisi konsumen, masyarakat memberikan apresiasi terhadap langkah konkret Kementan yang menghadirkan cabai dengan harga terjangkau, baik di wilayah DKI Jakarta maupun di berbagai lokasi sentra champion.

Aksi ini dinilai efektif dalam mendekatkan pasokan langsung dari petani ke konsumen, sekaligus memotong rantai distribusi yang berpotensi meningkatkan harga.

Direktur Jenderal Hortikultura, Muh. Taufiq Ratule, menegaskan bahwa keberhasilan menjaga stabilitas cabai tidak terlepas dari sinergi seluruh pihak, mulai dari petani, champion hortikultura, hingga pemerintah daerah.

BACA JUGA: 
Surat Cinta Mahasiswa IPB untuk Mentan Amran: Terimakasih Sudah Mewujudkan Mimpi Kami Swasembada Pangan

“Produksi yang meningkat di berbagai sentra telah mampu mengompensasi lonjakan permintaan, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan. Ini menunjukkan sistem produksi dan distribusi kita semakin solid,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh. Agung Sunusi, menambahkan bahwa penguatan konektivitas distribusi akan terus dilakukan.

“Panen cabai saat ini tersebar di berbagai wilayah sentra produksi seperti Garut, Blitar, dan Magelang, dan kami pastikan distribusinya berjalan lancar hingga ke pasar-pasar utama, termasuk di Jakarta. Melalui aksi hadirkan cabai harga terjangkau, kami ingin memastikan masyarakat dapat mengakses komoditas ini sesuai HAP, sekaligus menjaga kesejahteraan petani,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Langkah konkret Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga stabilitas pangan nasional mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pasokan cabai yang terjaga berdampak pada harga yang semakin terkendali.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah akan terus memastikan keseimbangan antara pasokan dan harga tetap terjaga.

“Menjaga pasokan pangan, menjaga harga di tingkat konsumen, serta memastikan harga pangan sesuai dengan harga acuan pemerintah (HAP) menjadi fokus utama kami. Dengan langkah konkret di lapangan, kami pastikan masyarakat mendapatkan akses pangan dengan harga yang wajar,” kata Mentan Amran dalam keterangannya pada Jumat (20/3/2026).

Di lapangan, tren harga cabai menunjukkan perbaikan. Mbah Yono, pelaku usaha percabaian di Pasar Pare, Kediri, Jawa Timur, menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir terjadi penurunan harga aneka cabai.

“Terutama cabai rawit merah, saat ini harga maksimal di kisaran Rp57.000 per kilogram, setelah sebelumnya sempat melampaui harga acuan di tingkat konsumen,” katanya.

BACA JUGA: 
Kementan Percepat Hilirisasi Perkebunan, Siapkan Lahan hingga Pekebun untuk 7 Komoditas Strategis

Dari sisi petani, kondisi serupa juga terjadi. Sumarna selaku Champion Cabai Garut, Jawa Barat, mengonfirmasi adanya penurunan harga di tingkat produsen.

“Harga cabai rawit merah hari ini berkisar Rp55.000 per kilogram, setelah beberapa hari sebelumnya sempat berada di atas harga acuan pemerintah. Ini sejalan dengan kondisi panen yang sedang tinggi,” jelasnya.

Kondisi harga yang semakin stabil ini ditopang oleh ketersediaan pasokan yang memadai.

Berdasarkan data early warning system (EWS) Direktorat Jenderal Hortikultura, neraca produksi cabai pada Maret berada dalam kondisi surplus, dengan cabai rawit merah diperkirakan surplus sebesar 46.868 ton dan cabai besar surplus 8.282 ton.

Produksi yang melimpah menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan pasar.

Surplus tersebut berasal dari sentra-sentra produksi utama seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Blitar, dan Magelang yang saat ini tengah memasuki masa panen.

Puncak panen di berbagai wilayah ini meningkatkan volume pasokan ke pasar, sehingga mampu mengompensasi lonjakan permintaan, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan.

BACA JUGA: 
Produktivitas Kentang Kerinci Naik 8,76%, Kementan Dorong Perluasan Pasar dan Hilirisasi

Ketua Asosiasi Champion Cabai Nasional, Ardhy, menilai kondisi produksi cabai yang tengah melimpah di berbagai sentra menjadi momentum penting untuk memperkuat stabilitas pasokan dan harga di pasar, sekaligus membuka ruang optimal bagi penguatan distribusi oleh para pelaku usaha dan petani.

Senada, Juhara selaku champion cabai juga menyampaikan bahwa kondisi surplus ini memberikan ruang bagi petani untuk memperluas distribusi sekaligus mendukung program stabilisasi pemerintah.

“Panen berlangsung baik di berbagai sentra, sehingga pasokan melimpah dan bahkan surplus. Kami siap mendukung distribusi untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga,” ungkap Ardhy.

Di sisi konsumen, masyarakat memberikan apresiasi terhadap langkah konkret Kementan yang menghadirkan cabai dengan harga terjangkau, baik di wilayah DKI Jakarta maupun di berbagai lokasi sentra champion.

Aksi ini dinilai efektif dalam mendekatkan pasokan langsung dari petani ke konsumen, sekaligus memotong rantai distribusi yang berpotensi meningkatkan harga.

Direktur Jenderal Hortikultura, Muh. Taufiq Ratule, menegaskan bahwa keberhasilan menjaga stabilitas cabai tidak terlepas dari sinergi seluruh pihak, mulai dari petani, champion hortikultura, hingga pemerintah daerah.

BACA JUGA: 
Eksportir: Proses Sertifikat Ekspor Kementan Hanya Satu Hari

“Produksi yang meningkat di berbagai sentra telah mampu mengompensasi lonjakan permintaan, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan. Ini menunjukkan sistem produksi dan distribusi kita semakin solid,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh. Agung Sunusi, menambahkan bahwa penguatan konektivitas distribusi akan terus dilakukan.

“Panen cabai saat ini tersebar di berbagai wilayah sentra produksi seperti Garut, Blitar, dan Magelang, dan kami pastikan distribusinya berjalan lancar hingga ke pasar-pasar utama, termasuk di Jakarta. Melalui aksi hadirkan cabai harga terjangkau, kami ingin memastikan masyarakat dapat mengakses komoditas ini sesuai HAP, sekaligus menjaga kesejahteraan petani,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru