30 C
Makassar
5 March 2026, 17:18 PM WITA

Militer AS Akui Kesulitan Hadapi Armada Drone Iran, Harga Senjata Miliaran Dolar Jadi Tantangan

SulawesiPos.com – Diam-diam, militer Amerika Serikat mengakui bahwa mereka belum mampu menghadapi serangan drone Iran secara penuh, demikian diberitakan The Guardian pada Kamis (5/3/2026).

Dalam pertemuan tertutup dengan anggota parlemen AS pada Selasa (2/3/2026), pejabat tinggi militer mengungkapkan bahwa mereka tidak bisa mencegat seluruh drone Iran yang menyerang aset dan infrastruktur AS di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan itu digelar di Capitol Hill, Washington DC, dengan kehadiran Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Dan Caine.

Para petinggi militer menyampaikan bahwa Iran melancarkan serangan menggunakan ribuan drone.

Meski sebagian berhasil ditangkal, banyak drone yang tetap lolos.

Sebagai respons, AS kini memprioritaskan menghancurkan situs peluncuran drone dan rudal Iran sebelum senjata itu diluncurkan.

Iran menggunakan drone Shahed untuk membalas serangan AS dan Israel, yang menyerang Iran pada 28 Februari lalu dengan bom dan rudal.

Drone Shahed bergerak rendah dan lambat, sehingga sulit dijangkau sistem pertahanan udara konvensional.

Militer AS juga mengakui bahwa Iran sengaja menarget sistem pertahanan udara AS seperti Patriot dan Thaad, yang per unitnya bernilai jutaan dolar, untuk menguras persediaannya.

Namun, strategi itu gagal karena AS memiliki teknologi lain untuk menghadapi drone.

Meski demikian, persediaan senjata penangkis rudal dan drone milik AS dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi, mulai menipis.

“Kami masih memiliki senjata yang cukup untuk menjalankan tugas, baik untuk menyerang atau bertahan,” ujar Caine saat jumpa pers di Pentagon, Rabu kemarin.

Selain itu, biaya tinggi senjata AS menjadi perhatian. Pada hari pertama perang, AS menembakkan senjata senilai sekitar 2 miliar dolar, yang kemudian menurun menjadi sekitar 1 miliar dolar per hari di hari-hari berikutnya.

SulawesiPos.com – Diam-diam, militer Amerika Serikat mengakui bahwa mereka belum mampu menghadapi serangan drone Iran secara penuh, demikian diberitakan The Guardian pada Kamis (5/3/2026).

Dalam pertemuan tertutup dengan anggota parlemen AS pada Selasa (2/3/2026), pejabat tinggi militer mengungkapkan bahwa mereka tidak bisa mencegat seluruh drone Iran yang menyerang aset dan infrastruktur AS di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan itu digelar di Capitol Hill, Washington DC, dengan kehadiran Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Dan Caine.

Para petinggi militer menyampaikan bahwa Iran melancarkan serangan menggunakan ribuan drone.

Meski sebagian berhasil ditangkal, banyak drone yang tetap lolos.

Sebagai respons, AS kini memprioritaskan menghancurkan situs peluncuran drone dan rudal Iran sebelum senjata itu diluncurkan.

Iran menggunakan drone Shahed untuk membalas serangan AS dan Israel, yang menyerang Iran pada 28 Februari lalu dengan bom dan rudal.

Drone Shahed bergerak rendah dan lambat, sehingga sulit dijangkau sistem pertahanan udara konvensional.

Militer AS juga mengakui bahwa Iran sengaja menarget sistem pertahanan udara AS seperti Patriot dan Thaad, yang per unitnya bernilai jutaan dolar, untuk menguras persediaannya.

Namun, strategi itu gagal karena AS memiliki teknologi lain untuk menghadapi drone.

Meski demikian, persediaan senjata penangkis rudal dan drone milik AS dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi, mulai menipis.

“Kami masih memiliki senjata yang cukup untuk menjalankan tugas, baik untuk menyerang atau bertahan,” ujar Caine saat jumpa pers di Pentagon, Rabu kemarin.

Selain itu, biaya tinggi senjata AS menjadi perhatian. Pada hari pertama perang, AS menembakkan senjata senilai sekitar 2 miliar dolar, yang kemudian menurun menjadi sekitar 1 miliar dolar per hari di hari-hari berikutnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/