SulawesiPos.com – Laporan peneliti politik Palestina, Ahmed Owaidat, yang dimuat Media Al-Quds pada 5 Maret 2026, menggambarkan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sebagai titik pecah yang sejak lama ditakuti dunia yang berharap perdamaian.
Owaidat menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berhasil menyeret Presiden Donald Trump beserta lingkar kabinetnya ke perang yang dijalankan Amerika Serikat seolah-olah “atas nama” Israel, setelah rangkaian pengerahan armada dan persiapan militer berlapis.
Dalam narasinya, serangan dini hari pada Sabtu akhir Februari itu diproyeksikan untuk menjatuhkan tatanan politik Iran sekaligus melumpuhkan program nuklir dan kekuatan rudal, tetapi respons balasan Iran disebut cepat dan membuat perang memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.
Owaidat menyebut pola yang ia namai “diplomasi tipu daya” sebagai kunci kejutan militer, yakni negosiasi dipakai untuk membeli waktu sambil menyiapkan jam serangan, sehingga meja perundingan berubah menjadi panggung ilusi.
Ia lalu menegaskan, “Israel dan Amerika Serikat tidak bisa dipercaya sama sekali di meja perundingan,” karena jalur dialog dipandang sebagai strategi menguras lawan dan menipu opini global tentang adanya solusi damai.
Dalam rangkaian “fakta perang” versinya, Owaidat menyorot watak “damai lewat kekuatan” yang ia anggap melekat pada Gedung Putih, serta politik “pencegahan, dominasi, dan kendali” yang ia lekatkan pada pemerintahan Netanyahu, dengan bayang-bayang preseden Gaza sebagai rujukan brutalitas.
Owaidat juga menggarisbawahi peran intelijen, spionase, dan penetrasi siber sebagai pembuka celah pada sistem keamanan Iran, serta mengkritik keberpihakan sebagian negara Teluk dan Yordania yang ikut menahan serangan balasan Iran sambil mengulang klaim “membela diri.”
Di bagian akhir, Owaidat menyimpulkan dunia internasional tampak lumpuh, jalur laut strategis menjadi arena taruhan, dan standar ganda negara-negara Barat kembali telanjang ketika konflik Timur Tengah diperlakukan berbeda dari perang lain di Eropa.
Wartawan SulawesiPos.com yang menghubungi Drs. Patrice Lumumba, MA, dosen hubungan internasional FISIP Universitas Hasanuddin, pada hari yang sama, memperoleh pembacaan yang menajamkan motif: krisis ini tidak hanya tentang geopolitik, tetapi juga tentang tekanan domestik para pemimpinnya.

“Motivasi utama serangan itu diselimuti frustrasi Trump dan Netanyahu yang sama-sama diburu persoalan politik dan hukum di dalam negeri,” kata Patrice, seraya menilai perang kerap dipakai sebagai panggung untuk mengubah fokus publik, Kamis (5/3/2026).
“Ini pola diversi klasik, sensasi kebijakan luar negeri dipakai untuk mematikan sorotan pada masalah di rumah sendiri,” lanjutnya, sambil menekankan bahwa kalkulasi semacam itu biasanya bertumpu pada psikologi massa dan siklus legitimasi kekuasaan.
Patrice juga menautkan serangan itu dengan dilema konstitusional di Washington, dengan menyatakan, “Presiden punya ruang mengerahkan kekuatan sebagai panglima, tetapi deklarasi perang itu urusan legislatif, sehingga skema proksi membuat eskalasi terlihat ‘dipaksa’ oleh balasan lawan.”
Dalam pembacaan Patrice, Israel diposisikan sebagai pemantik awal agar balasan Iran dapat dipakai sebagai pembenaran keterlibatan langsung Amerika Serikat, sebuah skenario yang ikut diperdebatkan di media internasional ketika tujuan Washington dan Tel Aviv mulai tampak tidak sepenuhnya sejalan.
Di atas medan energi, eskalasi ini langsung memukul nadi ekonomi dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu titik transit paling vital bagi minyak global, dengan aliran yang secara umum diperkirakan setara sekitar seperlima konsumsi cairan minyak dunia, sehingga ancaman penutupan saja sudah cukup menaikkan premi risiko.
Sejumlah analisis industri bahkan memperingatkan bahwa terhentinya lalu lintas di Hormuz dapat mendorong lonjakan harga minyak menuju level ekstrem, dan situasi inilah yang membuat konflik regional berubah menjadi kepanikan sistemik yang menyeret pasar, pelayaran, dan rantai pasok lintas benua.
Menggabungkan kerangka Owaidat dan Patrice, perang ini tampil sebagai drama dua lapis: di permukaan ia berwajah militer dan teknologi, tetapi di bawahnya ia bergerak sebagai operasi legitimasi, adu narasi, dan pertarungan bertahan hidup di mana “akhir permainan” bisa jadi bukan kemenangan total, melainkan memaksa lawan menerima biaya yang tak sanggup mereka pikul. (Ali)

