30 C
Makassar
4 March 2026, 14:23 PM WITA

Ramadan di Malaysia, Berpuasa di Negeri Seberang

SulawesiPos.com – Ramadan selalu punya aroma yang khas, campuran wangi kolak, bunyi beduk, dan percakapan yang melambat menjelang Magrib.

Bagi perantau dari Makassar dan Samarinda yang kini menetap di Malaysia, khususnya di Kuala Lumpur dan Negeri Selangor, Ramadan adalah jembatan batin antara kampung halaman dan tanah seberang.

Ia bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang perjumpaan budaya antara Indonesia dan Malaysia yang serumpun, tetapi punya rasa yang dinamis.

Serumpun, Serasa

Kesamaan paling nyata tentu pada fondasi ibadah. Azan Magrib tetap menjadi penanda sakral, ketika masjid-masjid di Malaysia, seperti Masjid Negara, dipenuhi jamaah untuk tarawih, sebagaimana masjid-masjid di Makassar dan Samarinda di Indonesia.

Tradisi berbuka dengan kurma dan air manis pun sama. Di banyak rumah sewa perantau, meja kecil dihiasi kurma, air sirap, dan sepiring gorengan, serupa kebiasaan di Indonesia.

Suasana penjual es buah dan takjil buka puasa di Malaysia
Suasana penjual es buah dan takjil buka puasa di Kampung Cheras Baru, Kuala Lumpur, Malaysia. (Dokumentasi Pribadi)

Di Makassar, ada penganan seperti barongko dan es buah; di Samarinda, kolak dan aneka kue basah menjadi teman buka.

Di Malaysia, perantau menemukan padanan rasa di bazar Ramadan seperti kuih-muih, roti john, kuih tepung pelita, dan martabak.

Kampung Cheras Baru dilihat dari atas dengan pemandangan Menara Kembar
Kampung Cheras Baru dilihat dari atas dengan pemandangan Menara Kembar (Twin Tower) Petronas, Kuala Lumpur (Dokumentasi Pribadi)

Keserupaan ini membuat rindu terasa lebih ringan. Bahasa yang serupa, logat yang saling memahami, dan wajah-wajah Melayu yang akrab memberi rasa “tidak terlalu jauh” dari rumah.

Begitulah suasana di sekitar tempat tinggal kami di Kampung Cheras Baru, Kuala Lumpur – Selangor, Malayasia.

Kebiasaan berbagi juga menjadi titik temu. Di Indonesia, tradisi takjil gratis marak di jalan-jalan, sementara Malaysia, masjid dan komunitas menyediakan juadah berbuka.

Budaya gotong royong dan semangat sedekah terasa sama kuatnya.

Rasa yang Pelbagai, Dari Bazar hingga Buffet

Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Namun, Ramadan di Malaysia juga menghadirkan perbedaan yang terasa. Yang paling kentara adalah kultur bazar Ramadan.

Di hampir setiap kawasan, bazar tumbuh rapi dan terorganisir. Deretan tenda menawarkan nasi kerabu, ayam percik, roti john, apam balik, hingga air balang berwarna-warni.

Bagi perantau Makassar dan Samarinda, pengalaman ini memikat sekaligus menguji.

Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Ragamnya menggoda, tetapi rasa kadang berbeda dari lidah Indonesia, lebih manis, lebih kaya santan, lebih berkari atau lebih ringan rempahnya dibanding coto Makassar atau sop konro.

Waktu dan ritme juga berbeda. Di beberapa kota Malaysia, disiplin waktu terasa lebih ketat. Jam kerja sering disesuaikan, dan kepatuhan terhadap jadwal ibadah lebih terstruktur.

Di Indonesia, terutama di Makassar, suasana Ramadan terasa lebih riuh, petasan (yang kini makin dibatasi), beduk keliling, dan sahur on the road.

Di Malaysia, suasana cenderung lebih tertib dan tenang dengan ritmenya yang pelan namun pasti.

Laksa Sarawak, salah satu menu berbuka dan makan sahur di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Laksa Sarawak, salah satu menu berbuka dan makan sahur di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Soal tarawih, perantau merasakan variasi. Di Indonesia, 8 atau 20 rakaat sama-sama umum, dengan bacaan yang kadang lebih panjang di kampung-kampung tertentu.

Di Malaysia, banyak masjid melaksanakan 8 rakaat dengan tempo relatif cepat, meski variasi tetap ada.

Di beberapa masjid, ceramah selepas sholat Isya pun diminimalisir. Perbedaan ini bukan soal benar-salah, melainkan kebiasaan lokal yang membentuk pengalaman spiritual.

Takjil, Antara Rindu dan Adaptasi

Bagi orang Makassar, rindu bisa hadir dalam bentuk coto dan pallubasa yang tak mudah ditemukan. Atau ragam es buah dan pisang ijo.

Orang Samarinda mungkin merindukan nasi kuning khas Kalimantan atau amplang sebagai camilan sahur.

Di Malaysia, bahan-bahan tersedia, tetapi rasa tidak selalu identik. Perantau perlu belajar beradaptasi dengan memasak sendiri, berbagi dapur dengan sesama WNI, atau menggabungkan resep, rendang bertemu nasi lemak, konro berdampingan dengan sambal belacan, dan masih banyak lagi.

Tiga takjil wajib orang Malaysia, Martabak, Roti John dan Kuih Tepung Pelit
Tiga takjil wajib orang Malaysia: Martabak, Roti John dan Kuih Tepung Pelita (Dokumentasi Pribadi)

Ada juga kejutan menyenangkan, bubur lambuk yang dibagikan gratis di masjid menjadi favorit banyak perantau.

Teksturnya lembut, aromanya kaya rempah, dan ia menjadi simbol keramahan Ramadan Malaysia.

Di sisi lain, air manis berwarna-warni di bazar mengajarkan moderasi, sirap Bandung adalah salah satu yang terkenal dengan tentunya godaan gula yang tinggi menjadi pengingat untuk menjaga kesehatan.

Ramadan Kaum Perantau

Ramadan di perantauan menyimpan tantangan yang tak selalu terlihat. Yang paling halus adalah rasa sepi dan rindu kampung halaman.

Itu hal yang manusiawi, terutama soal lidah yang terkadang sulit berdamai. Tanpa keluarga besar, tanpa tradisi kumpul di rumah orang tua, buka puasa bisa terasa sunyi. Panggilan video menjadi pengganti pelukan.

Di sinilah komunitas berperan berupa kelompok mahasiswa, pekerja, atau keluarga Indonesia biasanya mengadakan buka bersama sederhana, menghadirkan kembali rasa kebersamaan, meski tak selalu.

Sup Tulang, mengingatkan sop Konro bagi perantau Makassar di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Sup Tulang, mengingatkan sop Konro bagi perantau Makassar di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Tantangan lain adalah biaya hidup. Bazar Ramadan menggoda, tetapi harga di kota-kota besar Malaysia bisa membuat kantong tipis.

Perantau belajar mengatur anggaran, memasak lebih sering, dan menahan diri dari konsumsi berlebihan, pelajaran penting tentang disiplin finansial.

Berbuka puasa bersama keluarga kecil kami (Dokumentasi Pribadi)
Berbuka puasa bersama keluarga kecil kami (Dokumentasi Pribadi)

Ada pula tantangan identitas. Menjadi Muslim Indonesia di Malaysia berarti berada dalam ruang yang sangat dekat namun tetap berbeda.

Perbedaan kecil dalam praktik ibadah atau selera bisa memunculkan rasa canggung. Namun, justru di situ pelajaran berharga tumbuh, bahwa Islam dan budaya Melayu tidak tunggal; ia beragam, lentur, dan dinamis.

Kedewasaan Spiritual dan Kultural

Ramadan di Malaysia mengajarkan perantau seperti kami tentang kedewasaan, bahwa ibadah bukan hanya soal kebiasaan, tetapi kesadaran.

Tanpa hiruk-pikuk kampung halaman, perantau belajar menemukan makna yang lebih personal. Sahur yang sunyi menjadi ruang refleksi. Tarawih di masjid asing menjadi latihan kerendahan hati.

Denyut kota Kuala Lumpur jelang berbuka puasa (Dokumentasi Pribadi)
Denyut kota Kuala Lumpur jelang berbuka puasa (Dokumentasi Pribadi)

Secara kultural, Ramadan di tanah seberang memperlihatkan betapa dekatnya Indonesia dan Malaysia, sekaligus betapa pentingnya merawat perbedaan.

Kesamaan bahasa dan tradisi menjadi jembatan melalui perbedaan rasa dan ritme menjadi pengayaan.

Dari Makassar dan Samarinda ke Malaysia, sebagai perantau membawa cerita, dan pulang dengan perspektif baru yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang di mana kita berbuka, tetapi dengan siapa dan bagaimana kita memaknai lapar dan dahaga.

Di Malaysia, perantau Indonesia menemukan bahwa rindu bisa diolah menjadi rasa syukur, bahwa perbedaan bisa dirangkul menjadi pelajaran.

Dan ketika takbir Idul Fitri berkumandang, baik di Kuala Lumpur maupun di Makassar dan Samarinda, hati kami tahu bahwa kampung halaman mungkin jauh, tetapi iman dan persaudaraan membuatnya tetap dekat.

Penulis: Nasrullah
Dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Mulawarman sedang Menempuh Pendidikan Program Doktor di Malaysia

SulawesiPos.com – Ramadan selalu punya aroma yang khas, campuran wangi kolak, bunyi beduk, dan percakapan yang melambat menjelang Magrib.

Bagi perantau dari Makassar dan Samarinda yang kini menetap di Malaysia, khususnya di Kuala Lumpur dan Negeri Selangor, Ramadan adalah jembatan batin antara kampung halaman dan tanah seberang.

Ia bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang perjumpaan budaya antara Indonesia dan Malaysia yang serumpun, tetapi punya rasa yang dinamis.

Serumpun, Serasa

Kesamaan paling nyata tentu pada fondasi ibadah. Azan Magrib tetap menjadi penanda sakral, ketika masjid-masjid di Malaysia, seperti Masjid Negara, dipenuhi jamaah untuk tarawih, sebagaimana masjid-masjid di Makassar dan Samarinda di Indonesia.

Tradisi berbuka dengan kurma dan air manis pun sama. Di banyak rumah sewa perantau, meja kecil dihiasi kurma, air sirap, dan sepiring gorengan, serupa kebiasaan di Indonesia.

Suasana penjual es buah dan takjil buka puasa di Malaysia
Suasana penjual es buah dan takjil buka puasa di Kampung Cheras Baru, Kuala Lumpur, Malaysia. (Dokumentasi Pribadi)

Di Makassar, ada penganan seperti barongko dan es buah; di Samarinda, kolak dan aneka kue basah menjadi teman buka.

Di Malaysia, perantau menemukan padanan rasa di bazar Ramadan seperti kuih-muih, roti john, kuih tepung pelita, dan martabak.

Kampung Cheras Baru dilihat dari atas dengan pemandangan Menara Kembar
Kampung Cheras Baru dilihat dari atas dengan pemandangan Menara Kembar (Twin Tower) Petronas, Kuala Lumpur (Dokumentasi Pribadi)

Keserupaan ini membuat rindu terasa lebih ringan. Bahasa yang serupa, logat yang saling memahami, dan wajah-wajah Melayu yang akrab memberi rasa “tidak terlalu jauh” dari rumah.

Begitulah suasana di sekitar tempat tinggal kami di Kampung Cheras Baru, Kuala Lumpur – Selangor, Malayasia.

Kebiasaan berbagi juga menjadi titik temu. Di Indonesia, tradisi takjil gratis marak di jalan-jalan, sementara Malaysia, masjid dan komunitas menyediakan juadah berbuka.

Budaya gotong royong dan semangat sedekah terasa sama kuatnya.

Rasa yang Pelbagai, Dari Bazar hingga Buffet

Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Namun, Ramadan di Malaysia juga menghadirkan perbedaan yang terasa. Yang paling kentara adalah kultur bazar Ramadan.

Di hampir setiap kawasan, bazar tumbuh rapi dan terorganisir. Deretan tenda menawarkan nasi kerabu, ayam percik, roti john, apam balik, hingga air balang berwarna-warni.

Bagi perantau Makassar dan Samarinda, pengalaman ini memikat sekaligus menguji.

Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Bazar dan Buffet Ramadhan di salah satu tempat di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Ragamnya menggoda, tetapi rasa kadang berbeda dari lidah Indonesia, lebih manis, lebih kaya santan, lebih berkari atau lebih ringan rempahnya dibanding coto Makassar atau sop konro.

Waktu dan ritme juga berbeda. Di beberapa kota Malaysia, disiplin waktu terasa lebih ketat. Jam kerja sering disesuaikan, dan kepatuhan terhadap jadwal ibadah lebih terstruktur.

Di Indonesia, terutama di Makassar, suasana Ramadan terasa lebih riuh, petasan (yang kini makin dibatasi), beduk keliling, dan sahur on the road.

Di Malaysia, suasana cenderung lebih tertib dan tenang dengan ritmenya yang pelan namun pasti.

Laksa Sarawak, salah satu menu berbuka dan makan sahur di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Laksa Sarawak, salah satu menu berbuka dan makan sahur di Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Soal tarawih, perantau merasakan variasi. Di Indonesia, 8 atau 20 rakaat sama-sama umum, dengan bacaan yang kadang lebih panjang di kampung-kampung tertentu.

Di Malaysia, banyak masjid melaksanakan 8 rakaat dengan tempo relatif cepat, meski variasi tetap ada.

Di beberapa masjid, ceramah selepas sholat Isya pun diminimalisir. Perbedaan ini bukan soal benar-salah, melainkan kebiasaan lokal yang membentuk pengalaman spiritual.

Takjil, Antara Rindu dan Adaptasi

Bagi orang Makassar, rindu bisa hadir dalam bentuk coto dan pallubasa yang tak mudah ditemukan. Atau ragam es buah dan pisang ijo.

Orang Samarinda mungkin merindukan nasi kuning khas Kalimantan atau amplang sebagai camilan sahur.

Di Malaysia, bahan-bahan tersedia, tetapi rasa tidak selalu identik. Perantau perlu belajar beradaptasi dengan memasak sendiri, berbagi dapur dengan sesama WNI, atau menggabungkan resep, rendang bertemu nasi lemak, konro berdampingan dengan sambal belacan, dan masih banyak lagi.

Tiga takjil wajib orang Malaysia, Martabak, Roti John dan Kuih Tepung Pelit
Tiga takjil wajib orang Malaysia: Martabak, Roti John dan Kuih Tepung Pelita (Dokumentasi Pribadi)

Ada juga kejutan menyenangkan, bubur lambuk yang dibagikan gratis di masjid menjadi favorit banyak perantau.

Teksturnya lembut, aromanya kaya rempah, dan ia menjadi simbol keramahan Ramadan Malaysia.

Di sisi lain, air manis berwarna-warni di bazar mengajarkan moderasi, sirap Bandung adalah salah satu yang terkenal dengan tentunya godaan gula yang tinggi menjadi pengingat untuk menjaga kesehatan.

Ramadan Kaum Perantau

Ramadan di perantauan menyimpan tantangan yang tak selalu terlihat. Yang paling halus adalah rasa sepi dan rindu kampung halaman.

Itu hal yang manusiawi, terutama soal lidah yang terkadang sulit berdamai. Tanpa keluarga besar, tanpa tradisi kumpul di rumah orang tua, buka puasa bisa terasa sunyi. Panggilan video menjadi pengganti pelukan.

Di sinilah komunitas berperan berupa kelompok mahasiswa, pekerja, atau keluarga Indonesia biasanya mengadakan buka bersama sederhana, menghadirkan kembali rasa kebersamaan, meski tak selalu.

Sup Tulang, mengingatkan sop Konro bagi perantau Makassar di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)
Sup Tulang, mengingatkan sop Konro bagi perantau Makassar di Kuala Lumpur, Malaysia (Dokumentasi Pribadi)

Tantangan lain adalah biaya hidup. Bazar Ramadan menggoda, tetapi harga di kota-kota besar Malaysia bisa membuat kantong tipis.

Perantau belajar mengatur anggaran, memasak lebih sering, dan menahan diri dari konsumsi berlebihan, pelajaran penting tentang disiplin finansial.

Berbuka puasa bersama keluarga kecil kami (Dokumentasi Pribadi)
Berbuka puasa bersama keluarga kecil kami (Dokumentasi Pribadi)

Ada pula tantangan identitas. Menjadi Muslim Indonesia di Malaysia berarti berada dalam ruang yang sangat dekat namun tetap berbeda.

Perbedaan kecil dalam praktik ibadah atau selera bisa memunculkan rasa canggung. Namun, justru di situ pelajaran berharga tumbuh, bahwa Islam dan budaya Melayu tidak tunggal; ia beragam, lentur, dan dinamis.

Kedewasaan Spiritual dan Kultural

Ramadan di Malaysia mengajarkan perantau seperti kami tentang kedewasaan, bahwa ibadah bukan hanya soal kebiasaan, tetapi kesadaran.

Tanpa hiruk-pikuk kampung halaman, perantau belajar menemukan makna yang lebih personal. Sahur yang sunyi menjadi ruang refleksi. Tarawih di masjid asing menjadi latihan kerendahan hati.

Denyut kota Kuala Lumpur jelang berbuka puasa (Dokumentasi Pribadi)
Denyut kota Kuala Lumpur jelang berbuka puasa (Dokumentasi Pribadi)

Secara kultural, Ramadan di tanah seberang memperlihatkan betapa dekatnya Indonesia dan Malaysia, sekaligus betapa pentingnya merawat perbedaan.

Kesamaan bahasa dan tradisi menjadi jembatan melalui perbedaan rasa dan ritme menjadi pengayaan.

Dari Makassar dan Samarinda ke Malaysia, sebagai perantau membawa cerita, dan pulang dengan perspektif baru yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang di mana kita berbuka, tetapi dengan siapa dan bagaimana kita memaknai lapar dan dahaga.

Di Malaysia, perantau Indonesia menemukan bahwa rindu bisa diolah menjadi rasa syukur, bahwa perbedaan bisa dirangkul menjadi pelajaran.

Dan ketika takbir Idul Fitri berkumandang, baik di Kuala Lumpur maupun di Makassar dan Samarinda, hati kami tahu bahwa kampung halaman mungkin jauh, tetapi iman dan persaudaraan membuatnya tetap dekat.

Penulis: Nasrullah
Dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Mulawarman sedang Menempuh Pendidikan Program Doktor di Malaysia

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/