28 C
Makassar
1 March 2026, 10:38 AM WITA

Layar TV dan Komputer Bisa Pengaruhi Saraf Manusia? Begini Penjelasan Ilmiahnya

SulawesiPos.com – Sebuah paten Amerika Serikat kembali menjadi sorotan global setelah Daily Mail pada 25 Februari 2026 melaporkan dokumen berjudul Nervous System Manipulation by Electromagnetic Fields from Monitors yang mengklaim secara teoretis bahwa layar televisi dan komputer dapat memengaruhi sistem saraf manusia melalui denyut gelombang elektromagnetik yang tidak terlihat.

Dokumen tersebut terdaftar pada 2003 di United States Patent and Trademark Office setelah diajukan pada 2001 oleh Hendricus G. Loos, seorang fisikawan yang pernah terlibat penelitian di NASA pada era 1970-1980-an.

Dalam paten itu dijelaskan bahwa televisi tabung lama atau CRT secara alami menghasilkan denyut gelombang elektromagnetik pada frekuensi sangat rendah antara 0,1 hingga 15 Hertz yang secara teori dapat memicu respons fisiologis ringan pada tubuh manusia jika dimodulasi dengan pola tertentu.

Secara teknis, denyut tersebut disebut dapat disisipkan dalam perubahan terang–gelap layar sehingga tidak terlihat oleh mata, namun berpotensi menghasilkan arus listrik sangat kecil pada jaringan saraf, sebuah klaim yang terdengar dramatis tetapi masih berada dalam ranah hipotesis teknis.

Kemunculan kembali dokumen ini di media sosial memicu spekulasi luas tentang kemungkinan layar elektronik digunakan untuk memengaruhi manusia tanpa disadari, meski para ilmuwan menegaskan bahwa keberadaan paten tidak otomatis berarti teknologi tersebut terbukti efektif secara ilmiah.

Syahril Syam, ST., CCH., L.NLP, pakar pemberdayaan diri yang banyak mengulas teknologi pikiran dan neurosains perilaku, menegaskan bahwa paten hanyalah perlindungan ide, bukan bukti validasi eksperimental di dunia nyata.

Pakar Pemberdayaan Diri dan Pengkaji Teknologi Pikiran, Syahril Syam, ST., CCH., L.NLP
Pakar Pemberdayaan Diri dan Pengkaji Teknologi Pikiran, Syahril Syam, ST., CCH., L.NLP

“Paten itu menunjukkan sebuah kemungkinan teknis, tetapi bukan bukti bahwa layar TV bisa mengendalikan pikiran manusia,” ujar Syahril.

Menurutnya, dalam literatur ilmiah arus utama hingga kini tidak ditemukan bukti kuat bahwa televisi atau monitor rumah tangga mampu memodulasi sistem saraf secara signifikan sebagaimana sering dibayangkan publik.

Ia menjelaskan bahwa dalam bidang medis memang dikenal teknologi stimulasi otak berbasis medan elektromagnetik seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), namun perangkat tersebut menggunakan medan magnet yang sangat kuat dan terfokus, jauh melampaui pancaran lemah yang dihasilkan layar elektronik biasa.

Secara fisika, medan elektromagnetik dari monitor modern, terutama layar LED dan LCD, berada jauh di bawah ambang energi yang diperlukan untuk memicu depolarisasi neuron secara konsisten sehingga klaim pengendalian saraf melalui layar rumahan tidak memiliki dasar eksperimental yang kokoh.

Meski demikian, Syahril menekankan bahwa layar memang dapat memengaruhi sistem saraf dalam batas biologis yang normal melalui mekanisme visual, bukan melalui manipulasi elektromagnetik tersembunyi.

“Yang benar adalah layar memengaruhi otak melalui cahaya dan informasi visual, bukan melalui gelombang rahasia yang menyusup dan mengontrol kesadaran,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa retina manusia sangat sensitif terhadap perubahan cahaya sehingga ketika layar berkedip pada frekuensi tertentu, sinyal tersebut langsung dikirim ke otak dan pada individu dengan kondisi neurologis tertentu seperti epilepsi fotosensitif dapat memicu aktivitas listrik berlebihan hingga terjadi kejang.

Fenomena ini telah lama dikenal dalam neurologi dan bahkan pernah menjadi perhatian global ketika tayangan televisi dengan pola kedipan tertentu memicu insiden kesehatan pada sebagian kecil populasi rentan.

Selain itu, paparan cahaya biru pada malam hari terbukti dalam berbagai penelitian kronobiologi dapat menghambat produksi melatonin melalui jalur langsung dari retina ke pusat pengatur ritme sirkadian di otak sehingga mengganggu kualitas tidur.

Syahril menambahkan bahwa otak manusia secara evolusioner dirancang sangat responsif terhadap gerakan cepat karena dalam sejarah biologis manusia gerakan mendadak bisa berarti ancaman atau peluang sehingga konten visual dinamis mampu meningkatkan kewaspadaan dan fokus perhatian.

Namun ia menegaskan bahwa seluruh efek tersebut merupakan respons fisiologis normal terhadap rangsangan visual dan bukan bukti adanya teknologi pengendalian pikiran tersembunyi melalui layar.

Peneliti dari organisasi nirlaba PQAI juga mencatat bahwa layar LED modern memancarkan medan elektromagnetik jauh lebih lemah dibanding televisi tabung lama sehingga kemungkinan efek fisik langsung terhadap jaringan saraf semakin kecil dalam konteks teknologi saat ini.

Lebih jauh, klaim dalam paten Loos belum pernah direplikasi secara independen dalam studi ilmiah terkontrol yang memenuhi standar metodologi modern sehingga komunitas ilmiah menempatkannya sebagai gagasan spekulatif yang belum terbukti secara praktis.

Dengan demikian, layar televisi dan komputer memang mampu memengaruhi tubuh dan pikiran melalui cahaya, ritme visual, serta pola informasi yang dikonsumsi, namun narasi tentang kontrol saraf tersembunyi hingga saat ini belum didukung oleh data eksperimental yang kuat dan terverifikasi secara ilmiah. (Ali)

SulawesiPos.com – Sebuah paten Amerika Serikat kembali menjadi sorotan global setelah Daily Mail pada 25 Februari 2026 melaporkan dokumen berjudul Nervous System Manipulation by Electromagnetic Fields from Monitors yang mengklaim secara teoretis bahwa layar televisi dan komputer dapat memengaruhi sistem saraf manusia melalui denyut gelombang elektromagnetik yang tidak terlihat.

Dokumen tersebut terdaftar pada 2003 di United States Patent and Trademark Office setelah diajukan pada 2001 oleh Hendricus G. Loos, seorang fisikawan yang pernah terlibat penelitian di NASA pada era 1970-1980-an.

Dalam paten itu dijelaskan bahwa televisi tabung lama atau CRT secara alami menghasilkan denyut gelombang elektromagnetik pada frekuensi sangat rendah antara 0,1 hingga 15 Hertz yang secara teori dapat memicu respons fisiologis ringan pada tubuh manusia jika dimodulasi dengan pola tertentu.

Secara teknis, denyut tersebut disebut dapat disisipkan dalam perubahan terang–gelap layar sehingga tidak terlihat oleh mata, namun berpotensi menghasilkan arus listrik sangat kecil pada jaringan saraf, sebuah klaim yang terdengar dramatis tetapi masih berada dalam ranah hipotesis teknis.

Kemunculan kembali dokumen ini di media sosial memicu spekulasi luas tentang kemungkinan layar elektronik digunakan untuk memengaruhi manusia tanpa disadari, meski para ilmuwan menegaskan bahwa keberadaan paten tidak otomatis berarti teknologi tersebut terbukti efektif secara ilmiah.

Syahril Syam, ST., CCH., L.NLP, pakar pemberdayaan diri yang banyak mengulas teknologi pikiran dan neurosains perilaku, menegaskan bahwa paten hanyalah perlindungan ide, bukan bukti validasi eksperimental di dunia nyata.

Pakar Pemberdayaan Diri dan Pengkaji Teknologi Pikiran, Syahril Syam, ST., CCH., L.NLP
Pakar Pemberdayaan Diri dan Pengkaji Teknologi Pikiran, Syahril Syam, ST., CCH., L.NLP

“Paten itu menunjukkan sebuah kemungkinan teknis, tetapi bukan bukti bahwa layar TV bisa mengendalikan pikiran manusia,” ujar Syahril.

Menurutnya, dalam literatur ilmiah arus utama hingga kini tidak ditemukan bukti kuat bahwa televisi atau monitor rumah tangga mampu memodulasi sistem saraf secara signifikan sebagaimana sering dibayangkan publik.

Ia menjelaskan bahwa dalam bidang medis memang dikenal teknologi stimulasi otak berbasis medan elektromagnetik seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), namun perangkat tersebut menggunakan medan magnet yang sangat kuat dan terfokus, jauh melampaui pancaran lemah yang dihasilkan layar elektronik biasa.

Secara fisika, medan elektromagnetik dari monitor modern, terutama layar LED dan LCD, berada jauh di bawah ambang energi yang diperlukan untuk memicu depolarisasi neuron secara konsisten sehingga klaim pengendalian saraf melalui layar rumahan tidak memiliki dasar eksperimental yang kokoh.

Meski demikian, Syahril menekankan bahwa layar memang dapat memengaruhi sistem saraf dalam batas biologis yang normal melalui mekanisme visual, bukan melalui manipulasi elektromagnetik tersembunyi.

“Yang benar adalah layar memengaruhi otak melalui cahaya dan informasi visual, bukan melalui gelombang rahasia yang menyusup dan mengontrol kesadaran,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa retina manusia sangat sensitif terhadap perubahan cahaya sehingga ketika layar berkedip pada frekuensi tertentu, sinyal tersebut langsung dikirim ke otak dan pada individu dengan kondisi neurologis tertentu seperti epilepsi fotosensitif dapat memicu aktivitas listrik berlebihan hingga terjadi kejang.

Fenomena ini telah lama dikenal dalam neurologi dan bahkan pernah menjadi perhatian global ketika tayangan televisi dengan pola kedipan tertentu memicu insiden kesehatan pada sebagian kecil populasi rentan.

Selain itu, paparan cahaya biru pada malam hari terbukti dalam berbagai penelitian kronobiologi dapat menghambat produksi melatonin melalui jalur langsung dari retina ke pusat pengatur ritme sirkadian di otak sehingga mengganggu kualitas tidur.

Syahril menambahkan bahwa otak manusia secara evolusioner dirancang sangat responsif terhadap gerakan cepat karena dalam sejarah biologis manusia gerakan mendadak bisa berarti ancaman atau peluang sehingga konten visual dinamis mampu meningkatkan kewaspadaan dan fokus perhatian.

Namun ia menegaskan bahwa seluruh efek tersebut merupakan respons fisiologis normal terhadap rangsangan visual dan bukan bukti adanya teknologi pengendalian pikiran tersembunyi melalui layar.

Peneliti dari organisasi nirlaba PQAI juga mencatat bahwa layar LED modern memancarkan medan elektromagnetik jauh lebih lemah dibanding televisi tabung lama sehingga kemungkinan efek fisik langsung terhadap jaringan saraf semakin kecil dalam konteks teknologi saat ini.

Lebih jauh, klaim dalam paten Loos belum pernah direplikasi secara independen dalam studi ilmiah terkontrol yang memenuhi standar metodologi modern sehingga komunitas ilmiah menempatkannya sebagai gagasan spekulatif yang belum terbukti secara praktis.

Dengan demikian, layar televisi dan komputer memang mampu memengaruhi tubuh dan pikiran melalui cahaya, ritme visual, serta pola informasi yang dikonsumsi, namun narasi tentang kontrol saraf tersembunyi hingga saat ini belum didukung oleh data eksperimental yang kuat dan terverifikasi secara ilmiah. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/