Elon Musk Sebut Kuliah Kedokteran Tak Lagi Relevan, Prof. Murdani Abdullah: AI Tak Akan Menghapus Hakikat Kemanusiaan dalam Medis

SulawesiPos.com – Pernyataan Elon Musk yang menyebut pendidikan kedokteran sebagai sesuatu yang “tak lagi relevan” serta memprediksi robot bedah akan melampaui dokter manusia dalam tiga tahun memantik perdebatan global setelah dimuat NDTV pada 12 Januari 2026 dan diperkuat sejumlah media internasional yang menyoroti optimisme eksponensialnya terhadap kecerdasan buatan di sektor kesehatan.

Dalam podcast bersama Peter Diamandis yang kemudian viral di platform X, Musk menyatakan bahwa kemajuan AI, peningkatan daya komputasi chip, dan lompatan rekayasa robotika akan melahirkan sistem bedah otomatis yang dalam beberapa tahun ke depan melebihi kemampuan manusia, bahkan ia meyakini setiap orang kelak dapat mengakses layanan kesehatan yang lebih baik dibanding fasilitas medis presiden Amerika Serikat saat ini.

Optimisme futuristik tersebut bersinggungan dengan realitas industri kesehatan digital yang memang bertumbuh pesat, di mana berbagai laporan riset global memproyeksikan nilai pasar AI medis melampaui 150 miliar dolar AS sebelum 2030, dengan penetrasi signifikan pada radiologi berbasis machine learning, analisis genomik presisi, serta sistem robotik seperti da Vinci Surgical System yang telah digunakan dalam jutaan prosedur di berbagai negara.

Menanggapi gelombang wacana tersebut, wartawan SulawesiPos.com menghubungi Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE pada Selasa (17/2/2026), untuk memperoleh pandangan akademik dan klinis yang lebih komprehensif terkait masa depan profesi medis di era kecerdasan buatan.

Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE, Ketua Human Cancer Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Konsultan Gastroenterologi
Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE, Ketua Human Cancer Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Konsultan Gastroenterologi

Ketua Human Cancer Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Consultant Gastroenterologist itu menempatkan optimisme teknologi dalam kerangka ilmiah sekaligus kemanusiaan yang utuh.

“Pernyataan Elon Musk bahwa pendidikan kedokteran akan menjadi ‘tak lagi relevan’ dan bahwa robot bedah akan melampaui dokter manusia dalam tiga tahun memang provokatif dan menggugah, bahkan mengguncang cara kita membayangkan masa depan profesi medis, namun dalam dunia kedokteran kami terbiasa membedakan antara kemungkinan teknologis dan realitas klinis,” tegas Prof. Murdani.

Sebagai klinisi yang berkecimpung dalam gangguan fungsional saluran cerna dan endoskopi lanjut, ia mengakui bahwa akselerasi teknologi tidak dapat dipungkiri, di mana sistem robotik seperti da Vinci Surgical System membantu jutaan prosedur di seluruh dunia dan AI dalam endoskopi mampu meningkatkan deteksi polip, menganalisis citra secara real-time, serta memprediksi risiko kanker dengan presisi yang semakin tinggi.

Namun, ia menilai terdapat reduksi logika ketika kemajuan tersebut disimpulkan sebagai tanda berakhirnya relevansi pendidikan kedokteran, sebab tindakan medis bukan sekadar persoalan presisi mekanik, melainkan seni pengambilan keputusan dalam lanskap ketidakpastian klinis.

“Dalam praktik sehari-hari, keputusan klinis jarang hitam-putih, dan pasien bukan sekadar anatomi yang perlu diperbaiki, melainkan manusia dengan kecemasan, harapan, nilai hidup, keterbatasan ekonomi, serta konteks sosial-budaya; algoritma dapat menghitung probabilitas, tetapi tidak merasakan ketakutan seorang pasien menjelang operasi,” ujarnya.

Prof. Murdani juga mengingatkan bahwa tradisi kedokteran klasik telah lama menegaskan pentingnya kebijaksanaan dalam praktik medis, dengan merujuk pada Ibnu Sina yang menekankan harmoni antara rasionalitas ilmiah dan kebijaksanaan jiwa, serta pemikiran Mulla Sadra tentang harakah jauhariah yang memandang manusia sebagai entitas yang terus bergerak menuju kesempurnaan, sehingga teknologi hanya dapat menjadi instrumen dalam proses tersebut dan bukan pengganti subjek moralnya.

Dalam konteks praktik klinis modern, ia menegaskan bahwa AI berpotensi menjadi mitra dokter dan bukan penghapusnya, terbukti dari sistem deteksi berbasis pembelajaran mesin yang meningkatkan angka deteksi lesi dalam kolonoskopi, namun ketika terjadi komplikasi tak terduga seperti perdarahan masif, perforasi, atau respons fisiologis yang tidak lazim, yang dibutuhkan tetaplah penilaian klinis, pengalaman, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Menurutnya, persoalan utama bukanlah apakah pendidikan kedokteran akan usang, melainkan bagaimana ia bertransformasi, dengan kurikulum masa depan yang perlu memasukkan literasi AI, bioetika teknologi, serta kompetensi kolaborasi manusia–mesin sehingga dokter masa depan menjadi clinical integrator yang mampu mengolah data, memahami teknologi, dan tetap memelihara dimensi kemanusiaan.

Sebagai bangsa yang tengah membangun sistem kesehatan yang lebih merata dan adaptif terhadap inovasi digital, ia menilai transformasi teknologi adalah keniscayaan yang harus disambut dengan kesiapan akademik dan etika, namun tidak boleh mengikis inti profesi kedokteran sebagai pelayanan terhadap manusia yang rapuh dan berharap.

“Robot dapat menjadi semakin canggih, tetapi empati, tanggung jawab moral, dan kesadaran etis tetap berada pada manusia, dan selama penyakit tidak hanya bersifat biologis melainkan juga eksistensial, pendidikan kedokteran akan tetap relevan,” tegasnya.

Ia menutup analisisnya dengan refleksi yang menjadi cermin bagi dunia medis, bahwa AI tidak akan menggantikan dokter, tetapi dokter yang menolak memahami dan memanfaatkan AI berisiko tertinggal oleh zaman. (Ali)

SulawesiPos.com – Pernyataan Elon Musk yang menyebut pendidikan kedokteran sebagai sesuatu yang “tak lagi relevan” serta memprediksi robot bedah akan melampaui dokter manusia dalam tiga tahun memantik perdebatan global setelah dimuat NDTV pada 12 Januari 2026 dan diperkuat sejumlah media internasional yang menyoroti optimisme eksponensialnya terhadap kecerdasan buatan di sektor kesehatan.

Dalam podcast bersama Peter Diamandis yang kemudian viral di platform X, Musk menyatakan bahwa kemajuan AI, peningkatan daya komputasi chip, dan lompatan rekayasa robotika akan melahirkan sistem bedah otomatis yang dalam beberapa tahun ke depan melebihi kemampuan manusia, bahkan ia meyakini setiap orang kelak dapat mengakses layanan kesehatan yang lebih baik dibanding fasilitas medis presiden Amerika Serikat saat ini.

Optimisme futuristik tersebut bersinggungan dengan realitas industri kesehatan digital yang memang bertumbuh pesat, di mana berbagai laporan riset global memproyeksikan nilai pasar AI medis melampaui 150 miliar dolar AS sebelum 2030, dengan penetrasi signifikan pada radiologi berbasis machine learning, analisis genomik presisi, serta sistem robotik seperti da Vinci Surgical System yang telah digunakan dalam jutaan prosedur di berbagai negara.

Menanggapi gelombang wacana tersebut, wartawan SulawesiPos.com menghubungi Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE pada Selasa (17/2/2026), untuk memperoleh pandangan akademik dan klinis yang lebih komprehensif terkait masa depan profesi medis di era kecerdasan buatan.

Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE, Ketua Human Cancer Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Konsultan Gastroenterologi
Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE, Ketua Human Cancer Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Konsultan Gastroenterologi

Ketua Human Cancer Research Center IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Consultant Gastroenterologist itu menempatkan optimisme teknologi dalam kerangka ilmiah sekaligus kemanusiaan yang utuh.

“Pernyataan Elon Musk bahwa pendidikan kedokteran akan menjadi ‘tak lagi relevan’ dan bahwa robot bedah akan melampaui dokter manusia dalam tiga tahun memang provokatif dan menggugah, bahkan mengguncang cara kita membayangkan masa depan profesi medis, namun dalam dunia kedokteran kami terbiasa membedakan antara kemungkinan teknologis dan realitas klinis,” tegas Prof. Murdani.

Sebagai klinisi yang berkecimpung dalam gangguan fungsional saluran cerna dan endoskopi lanjut, ia mengakui bahwa akselerasi teknologi tidak dapat dipungkiri, di mana sistem robotik seperti da Vinci Surgical System membantu jutaan prosedur di seluruh dunia dan AI dalam endoskopi mampu meningkatkan deteksi polip, menganalisis citra secara real-time, serta memprediksi risiko kanker dengan presisi yang semakin tinggi.

Namun, ia menilai terdapat reduksi logika ketika kemajuan tersebut disimpulkan sebagai tanda berakhirnya relevansi pendidikan kedokteran, sebab tindakan medis bukan sekadar persoalan presisi mekanik, melainkan seni pengambilan keputusan dalam lanskap ketidakpastian klinis.

“Dalam praktik sehari-hari, keputusan klinis jarang hitam-putih, dan pasien bukan sekadar anatomi yang perlu diperbaiki, melainkan manusia dengan kecemasan, harapan, nilai hidup, keterbatasan ekonomi, serta konteks sosial-budaya; algoritma dapat menghitung probabilitas, tetapi tidak merasakan ketakutan seorang pasien menjelang operasi,” ujarnya.

Prof. Murdani juga mengingatkan bahwa tradisi kedokteran klasik telah lama menegaskan pentingnya kebijaksanaan dalam praktik medis, dengan merujuk pada Ibnu Sina yang menekankan harmoni antara rasionalitas ilmiah dan kebijaksanaan jiwa, serta pemikiran Mulla Sadra tentang harakah jauhariah yang memandang manusia sebagai entitas yang terus bergerak menuju kesempurnaan, sehingga teknologi hanya dapat menjadi instrumen dalam proses tersebut dan bukan pengganti subjek moralnya.

Dalam konteks praktik klinis modern, ia menegaskan bahwa AI berpotensi menjadi mitra dokter dan bukan penghapusnya, terbukti dari sistem deteksi berbasis pembelajaran mesin yang meningkatkan angka deteksi lesi dalam kolonoskopi, namun ketika terjadi komplikasi tak terduga seperti perdarahan masif, perforasi, atau respons fisiologis yang tidak lazim, yang dibutuhkan tetaplah penilaian klinis, pengalaman, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Menurutnya, persoalan utama bukanlah apakah pendidikan kedokteran akan usang, melainkan bagaimana ia bertransformasi, dengan kurikulum masa depan yang perlu memasukkan literasi AI, bioetika teknologi, serta kompetensi kolaborasi manusia–mesin sehingga dokter masa depan menjadi clinical integrator yang mampu mengolah data, memahami teknologi, dan tetap memelihara dimensi kemanusiaan.

Sebagai bangsa yang tengah membangun sistem kesehatan yang lebih merata dan adaptif terhadap inovasi digital, ia menilai transformasi teknologi adalah keniscayaan yang harus disambut dengan kesiapan akademik dan etika, namun tidak boleh mengikis inti profesi kedokteran sebagai pelayanan terhadap manusia yang rapuh dan berharap.

“Robot dapat menjadi semakin canggih, tetapi empati, tanggung jawab moral, dan kesadaran etis tetap berada pada manusia, dan selama penyakit tidak hanya bersifat biologis melainkan juga eksistensial, pendidikan kedokteran akan tetap relevan,” tegasnya.

Ia menutup analisisnya dengan refleksi yang menjadi cermin bagi dunia medis, bahwa AI tidak akan menggantikan dokter, tetapi dokter yang menolak memahami dan memanfaatkan AI berisiko tertinggal oleh zaman. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru