Ironisnya, penerbit stablecoin berbasis dolar diperkirakan berpotensi menyerap hingga 1,6 triliun dolar U.S. Treasuries dalam empat tahun mendatang, menciptakan paradoks di mana dominasi dolar tetap bertahan melalui kanal swasta meski sebagian negara mengurangi eksposur langsungnya.
Dalam wawancara eksklusif dengan SulawesiPos.com pada Jumat, 13 Februari 2026, Prof. Dr. Anas Iswanto Anwar, S.E., M.A., CWM., CRBC., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin dalam bidang Ekonomi dan Moneter Internasional, menegaskan bahwa fenomena ini menandai berakhirnya era unipolaritas keuangan menuju sistem multipolar yang lebih kompleks dan dinamis.

Ia menjelaskan bahwa percepatan de-dolarisasi China melalui pengurangan U.S. Treasuries dan ekspansi yuan digital mencerminkan fase “The Great Decoupling”, di mana emas mulai bergerak independen dari aset berisiko dan pasar memasuki ketidakpastian moneter yang mendalam.
“Dunia sedang menyaksikan reposisi kekuatan moneter global yang tidak lagi bertumpu pada satu mata uang dominan, sehingga setiap negara kini menimbang ulang strategi cadangan devisanya demi menjaga kedaulatan finansial,” ujar Prof. Anas.
Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan dilema struktural bagi Federal Reserve antara mempertahankan suku bunga tinggi guna menopang nilai dolar atau menurunkannya untuk menghindari kontraksi ekonomi, yang pada akhirnya memicu volatilitas simultan di pasar obligasi dan valuta asing.
Prof. Anas menambahkan bahwa Indonesia sebagai mitra dagang utama China menghadapi sensitivitas nilai tukar rupiah yang semakin tinggi terhadap arah kebijakan Beijing dan dinamika dolar global, sehingga stabilitas ekspor komoditas ke China tetap menjadi penopang utama cadangan devisa nasional.
“Dalam fase transisi ini, diversifikasi cadangan dan penguatan fondasi ekspor menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan arsitektur keuangan dunia,” tegasnya.
Bagi investor global, ia menilai bahwa ketergantungan pada satu jenis aset aman tidak lagi memadai, karena emas membuktikan keunggulannya sebagai penjaga stabilitas nilai sementara Bitcoin mulai mengukuhkan perannya sebagai alternatif sistem fiat yang kian rapuh oleh fragmentasi geopolitik.
“Kripto mungkin tertekan dalam jangka pendek akibat likuiditas ketat, tetapi secara struktural ia menjadi bagian dari diskursus masa depan uang, terutama ketika masyarakat internasional mencari sistem yang lebih transparan, terdesentralisasi, dan berdaulat,” pungkas Prof. Anas.
Dengan demikian, de-dolarisasi China pada awal 2026 bukan sekadar reposisi portofolio, melainkan sinyal pergeseran paradigma menuju tata kelola ekonomi global yang lebih multipolar, di mana emas, yuan digital, dan aset kripto berperan sebagai variabel baru dalam membentuk keseimbangan moneter dunia yang lebih beragam dan strategis. (ali)

