Ketika publik mampu membaca kecepatan tanpa kehilangan kedalaman, ketika pers menjaga tanggung jawab di tengah tekanan trafik, ruang publik menjadi lebih sehat. Tantangan ini membutuhkan kerja berkelanjutan.
Di Makassar dan Indonesia Timur, kerja itu dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dengan membiasakan diri bertanya sebelum percaya, membaca sebelum membagikan, dan mendengar sebelum bereaksi.
Darmadi H. Tariah
Anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Sulawesi Selata

