30 C
Makassar
12 February 2026, 17:49 PM WITA

Setelah Hari Pers: Media Sosial, Kecepatan, dan Tanggung Jawab Publik di Makassar

Mereka mengomentari, membagikan, dan membentuk narasi. Kondisi ini membuka ruang partisipasi luas. Pada saat yang sama, kondisi ini menuntut kedewasaan baru dalam mengelola informasi.

Gerakan media literasi perlu dirancang sebagai strategi publik yang menyentuh kebiasaan sehari-hari. Literasi tidak cukup berhenti pada pengenalan istilah hoaks atau disinformasi. Literasi perlu membentuk cara berpikir dan bertindak dalam menghadapi arus informasi.

Pertama, literasi algoritma. Warga perlu memahami bahwa beranda digital disusun oleh sistem yang memprioritaskan interaksi. Konten dengan muatan emosional tinggi cenderung naik ke permukaan. Kesadaran ini membantu publik membaca arus informasi dengan jarak yang sehat.

Kedua, budaya jeda. Di tengah dorongan untuk segera membagikan, jeda menjadi tindakan penting. Membaca sampai tuntas, memeriksa sumber, dan menunggu klarifikasi dari media yang memiliki tanggung jawab editorial dapat meredam kesalahpahaman.

Ketiga, kolaborasi antara pers dan komunitas. Media lokal di Sulawesi Selatan dapat membuka ruang dialog rutin dengan warga. Forum baca berita dan diskusi publik mempertemukan redaksi dengan masyarakat. Relasi ini memperkuat kepercayaan sekaligus membuka ruang kritik.

Baca Juga: 
Presiden Prabowo Akan Pidato di Swiss Setelah Lawatan ke Inggris

Keempat, produksi narasi lokal yang berkelanjutan. Kaum muda di Makassar dan kota-kota lain di Indonesia Timur dapat didorong untuk mendokumentasikan persoalan yang jarang mendapat perhatian panjang.

Cerita tentang lingkungan, pendidikan, dan kehidupan pesisir memerlukan keberlanjutan. Di sini, pers dan publik dapat bekerja berdampingan.

Refleksi Hari Pers Nasional tahun ini menuntut pengakuan atas perubahan struktur informasi. Demokrasi lokal berlangsung di ruang digital yang padat dan cepat. Pers memikul tanggung jawab etis. Media sosial memikul kekuatan distribusi. Publik memikul tanggung jawab partisipasi.

Makassar memiliki tradisi percakapan yang kuat. Tradisi ini dapat menjadi fondasi gerakan literasi yang berakar pada komunitas. Membaca berita dengan pertanyaan. Menulis pengalaman dengan tanggung jawab. Berdiskusi tanpa tergesa. Praktik-praktik ini membentuk warga yang mampu menavigasi dua dunia informasi sekaligus.

Pers akan terus berubah. Media sosial akan terus berkembang. Tantangan utama terletak pada kemampuan masyarakat menghadapi arus tersebut dengan kedewasaan. Hari Pers Nasional memberi kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa informasi menyangkut kehidupan bersama.

Baca Juga: 
Jokowi Sebut Target PSI Ambisius, Strategi 10 Juta KTA Jadi Langkah Awal

Mereka mengomentari, membagikan, dan membentuk narasi. Kondisi ini membuka ruang partisipasi luas. Pada saat yang sama, kondisi ini menuntut kedewasaan baru dalam mengelola informasi.

Gerakan media literasi perlu dirancang sebagai strategi publik yang menyentuh kebiasaan sehari-hari. Literasi tidak cukup berhenti pada pengenalan istilah hoaks atau disinformasi. Literasi perlu membentuk cara berpikir dan bertindak dalam menghadapi arus informasi.

Pertama, literasi algoritma. Warga perlu memahami bahwa beranda digital disusun oleh sistem yang memprioritaskan interaksi. Konten dengan muatan emosional tinggi cenderung naik ke permukaan. Kesadaran ini membantu publik membaca arus informasi dengan jarak yang sehat.

Kedua, budaya jeda. Di tengah dorongan untuk segera membagikan, jeda menjadi tindakan penting. Membaca sampai tuntas, memeriksa sumber, dan menunggu klarifikasi dari media yang memiliki tanggung jawab editorial dapat meredam kesalahpahaman.

Ketiga, kolaborasi antara pers dan komunitas. Media lokal di Sulawesi Selatan dapat membuka ruang dialog rutin dengan warga. Forum baca berita dan diskusi publik mempertemukan redaksi dengan masyarakat. Relasi ini memperkuat kepercayaan sekaligus membuka ruang kritik.

Baca Juga: 
Mentan Amran Menolak Dicalonkan Lagi, Semua Ketua IKA Aklamasi Menjadikannya Calon Tunggal Ketua Umum IKA Unhas 2026-2030

Keempat, produksi narasi lokal yang berkelanjutan. Kaum muda di Makassar dan kota-kota lain di Indonesia Timur dapat didorong untuk mendokumentasikan persoalan yang jarang mendapat perhatian panjang.

Cerita tentang lingkungan, pendidikan, dan kehidupan pesisir memerlukan keberlanjutan. Di sini, pers dan publik dapat bekerja berdampingan.

Refleksi Hari Pers Nasional tahun ini menuntut pengakuan atas perubahan struktur informasi. Demokrasi lokal berlangsung di ruang digital yang padat dan cepat. Pers memikul tanggung jawab etis. Media sosial memikul kekuatan distribusi. Publik memikul tanggung jawab partisipasi.

Makassar memiliki tradisi percakapan yang kuat. Tradisi ini dapat menjadi fondasi gerakan literasi yang berakar pada komunitas. Membaca berita dengan pertanyaan. Menulis pengalaman dengan tanggung jawab. Berdiskusi tanpa tergesa. Praktik-praktik ini membentuk warga yang mampu menavigasi dua dunia informasi sekaligus.

Pers akan terus berubah. Media sosial akan terus berkembang. Tantangan utama terletak pada kemampuan masyarakat menghadapi arus tersebut dengan kedewasaan. Hari Pers Nasional memberi kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa informasi menyangkut kehidupan bersama.

Baca Juga: 
KPK Ungkap Dugaan Penetapan Tarif Jabatan Desa dalam OTT Bupati Pati

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/