30 C
Makassar
12 February 2026, 17:45 PM WITA

Setelah Hari Pers: Media Sosial, Kecepatan, dan Tanggung Jawab Publik di Makassar

Relasi tersebut sering dibingkai sebagai pertentangan. Pers dianggap tertinggal. Media sosial dipandang tak terkendali. Gambaran ini menutup kompleksitas yang sebenarnya terjadi. Media sosial unggul dalam distribusi cepat. Pers memikul tanggung jawab pendalaman dan konfirmasi. Ketegangan muncul ketika logika klik dan trafik mulai memengaruhi cara berita disusun.

Franco Bifo Berardi menulis tentang kelelahan dalam masyarakat yang dijejali rangsangan tanpa henti. Arus informasi yang terus-menerus memicu respons emosional yang cepat.

Kemarahan menyebar dalam hitungan menit. Kecemasan menular melalui notifikasi yang tak pernah berhenti. Di wilayah seperti Indonesia Timur, di mana relasi sosial terjalin kuat, efek ini menjalar dari ruang digital ke percakapan sehari-hari.

Dalam situasi seperti ini, perayaan Hari Pers Nasional perlu dimaknai sebagai evaluasi. Pers menghadapi tekanan untuk tetap relevan. Ia dituntut hadir cepat sekaligus akurat.

Tekanan tersebut bukan hal ringan. Di tengah arus digital yang padat, pers harus menjaga kepercayaan publik tanpa kehilangan kedalaman.

Achille Mbembe berbicara tentang bagaimana kekuasaan menentukan siapa yang hidup dalam perhatian publik dan siapa yang terhapus dari narasi. Dalam ekonomi viralitas, perhatian menjadi sumber daya langka.

Baca Juga: 
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Resmi Kemenag RI, Klik Link-nya di Sini!

Sebuah peristiwa dapat menjadi perbincangan luas selama beberapa jam, lalu menghilang tanpa tindak lanjut. Beberapa persoalan lokal jarang mendapat ruang panjang, padahal dampaknya berlangsung lama dan nyata.

Relasi pers dan media sosial perlu diposisikan ulang. Pers tidak selalu menjadi sumber pertama informasi. Media sosial mengambil peran sebagai penyebar awal.

Pers memegang tanggung jawab untuk memverifikasi dan memberi konteks. Publik membutuhkan keduanya. Kecepatan memberi tahu bahwa sesuatu sedang terjadi. Kedalaman membantu memahami maknanya.

Antonio Negri berbicara tentang multitude, tentang publik yang aktif memproduksi makna. Warga Makassar bukan lagi pembaca pasif.

Relasi tersebut sering dibingkai sebagai pertentangan. Pers dianggap tertinggal. Media sosial dipandang tak terkendali. Gambaran ini menutup kompleksitas yang sebenarnya terjadi. Media sosial unggul dalam distribusi cepat. Pers memikul tanggung jawab pendalaman dan konfirmasi. Ketegangan muncul ketika logika klik dan trafik mulai memengaruhi cara berita disusun.

Franco Bifo Berardi menulis tentang kelelahan dalam masyarakat yang dijejali rangsangan tanpa henti. Arus informasi yang terus-menerus memicu respons emosional yang cepat.

Kemarahan menyebar dalam hitungan menit. Kecemasan menular melalui notifikasi yang tak pernah berhenti. Di wilayah seperti Indonesia Timur, di mana relasi sosial terjalin kuat, efek ini menjalar dari ruang digital ke percakapan sehari-hari.

Dalam situasi seperti ini, perayaan Hari Pers Nasional perlu dimaknai sebagai evaluasi. Pers menghadapi tekanan untuk tetap relevan. Ia dituntut hadir cepat sekaligus akurat.

Tekanan tersebut bukan hal ringan. Di tengah arus digital yang padat, pers harus menjaga kepercayaan publik tanpa kehilangan kedalaman.

Achille Mbembe berbicara tentang bagaimana kekuasaan menentukan siapa yang hidup dalam perhatian publik dan siapa yang terhapus dari narasi. Dalam ekonomi viralitas, perhatian menjadi sumber daya langka.

Baca Juga: 
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Resmi Kemenag RI, Klik Link-nya di Sini!

Sebuah peristiwa dapat menjadi perbincangan luas selama beberapa jam, lalu menghilang tanpa tindak lanjut. Beberapa persoalan lokal jarang mendapat ruang panjang, padahal dampaknya berlangsung lama dan nyata.

Relasi pers dan media sosial perlu diposisikan ulang. Pers tidak selalu menjadi sumber pertama informasi. Media sosial mengambil peran sebagai penyebar awal.

Pers memegang tanggung jawab untuk memverifikasi dan memberi konteks. Publik membutuhkan keduanya. Kecepatan memberi tahu bahwa sesuatu sedang terjadi. Kedalaman membantu memahami maknanya.

Antonio Negri berbicara tentang multitude, tentang publik yang aktif memproduksi makna. Warga Makassar bukan lagi pembaca pasif.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/