30 C
Makassar
12 February 2026, 15:54 PM WITA

Setelah Hari Pers: Media Sosial, Kecepatan, dan Tanggung Jawab Publik di Makassar

Penulis: Darmadi H Tariah
Anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Sulawesi Selatan

SulawesiPos.com – Dua hari setelah Hari Pers Nasional, percakapan tentang pers kembali tenggelam dalam arus informasi yang bergerak tanpa jeda. Di Makassar, berita tidak lagi selalu hadir pertama melalui media resmi. Rekaman peristiwa beredar lebih dulu di layar ponsel.

Narasi terbentuk dari potongan video dan komentar singkat. Persepsi tumbuh sebelum verifikasi selesai. Di ruang inilah pers dan media sosial berbagi panggung.

Perubahan ini menyentuh cara kebenaran diproduksi di ruang publik. Selama bertahun-tahun, pers memegang posisi sebagai gerbang utama informasi. Struktur redaksi, proses verifikasi, dan tanggung jawab hukum membentuk legitimasi.

Hari ini, struktur tersebut hidup berdampingan dengan algoritma dan viralitas. Informasi menyebar mengikuti perhatian, bukan urutan editorial.

Darmadi H Tariah
Darmadi H Tariah

Michel Foucault mengingatkan bahwa kebenaran selalu lahir dalam relasi kuasa. Kebenaran tidak berdiri sendiri. Mekanisme sosial menentukan apa yang terlihat dan apa yang luput.

Pada masa lalu, pers memiliki peran dominan dalam mekanisme tersebut. Kini, algoritma platform digital ikut menentukan visibilitas. Apa yang ramai dianggap penting. Apa yang sepi mudah tersingkir.

Baca Juga: 
Jadwal Puasa Ramadhan 2026 Lengkap Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Prediksi BRIN

Di Makassar dan banyak kota di Indonesia Timur, dinamika ini terasa konkret. Sebuah kejadian di jalan raya lebih dahulu hadir dalam grup percakapan keluarga. Isu sosial menyebar lewat unggahan pribadi sebelum redaksi menyusunnya menjadi laporan. Ribuan orang membaca dan bereaksi dalam waktu singkat. Emosi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.

Gilles Deleuze dan Félix Guattari menggambarkan dunia sebagai jaringan yang tumbuh ke berbagai arah tanpa pusat tunggal. Media sosial bekerja dengan logika seperti itu. Informasi menyebar secara lateral.

Tidak ada satu gerbang yang mengatur alur. Pers bekerja melalui lapisan yang lebih tertata. Ada reporter, editor, dan proses verifikasi. Dua logika ini hidup berdampingan dalam ruang publik kita.

Penulis: Darmadi H Tariah
Anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Sulawesi Selatan

SulawesiPos.com – Dua hari setelah Hari Pers Nasional, percakapan tentang pers kembali tenggelam dalam arus informasi yang bergerak tanpa jeda. Di Makassar, berita tidak lagi selalu hadir pertama melalui media resmi. Rekaman peristiwa beredar lebih dulu di layar ponsel.

Narasi terbentuk dari potongan video dan komentar singkat. Persepsi tumbuh sebelum verifikasi selesai. Di ruang inilah pers dan media sosial berbagi panggung.

Perubahan ini menyentuh cara kebenaran diproduksi di ruang publik. Selama bertahun-tahun, pers memegang posisi sebagai gerbang utama informasi. Struktur redaksi, proses verifikasi, dan tanggung jawab hukum membentuk legitimasi.

Hari ini, struktur tersebut hidup berdampingan dengan algoritma dan viralitas. Informasi menyebar mengikuti perhatian, bukan urutan editorial.

Darmadi H Tariah
Darmadi H Tariah

Michel Foucault mengingatkan bahwa kebenaran selalu lahir dalam relasi kuasa. Kebenaran tidak berdiri sendiri. Mekanisme sosial menentukan apa yang terlihat dan apa yang luput.

Pada masa lalu, pers memiliki peran dominan dalam mekanisme tersebut. Kini, algoritma platform digital ikut menentukan visibilitas. Apa yang ramai dianggap penting. Apa yang sepi mudah tersingkir.

Baca Juga: 
Prabowo Lantik Jajaran Dewan Energi Nasional, Bahlil Jadi Ketua Harian

Di Makassar dan banyak kota di Indonesia Timur, dinamika ini terasa konkret. Sebuah kejadian di jalan raya lebih dahulu hadir dalam grup percakapan keluarga. Isu sosial menyebar lewat unggahan pribadi sebelum redaksi menyusunnya menjadi laporan. Ribuan orang membaca dan bereaksi dalam waktu singkat. Emosi bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.

Gilles Deleuze dan Félix Guattari menggambarkan dunia sebagai jaringan yang tumbuh ke berbagai arah tanpa pusat tunggal. Media sosial bekerja dengan logika seperti itu. Informasi menyebar secara lateral.

Tidak ada satu gerbang yang mengatur alur. Pers bekerja melalui lapisan yang lebih tertata. Ada reporter, editor, dan proses verifikasi. Dua logika ini hidup berdampingan dalam ruang publik kita.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/