30 C
Makassar
12 February 2026, 15:54 PM WITA

Berikut Khutbah Jumat 13 Februari 2026 tentang Saling Memaafkan dalam Menyambut Ramadhan

SulawesiPos.com – Ramadhan sebentar lagi kembali menyapa. Untuk itu banyak hal yang perlu disiapkan sebelum benar-benar memasuki bulan suci tersebut.

Salah satunya adalah saling memaafkan dengan sesama.

Oleh karena itu, berikut khutbah dengan judul Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan. Khutbah ini bisa menjadi referensi untuk khutbah jumat pada 13 Februari 2026.

Berikut isi khutbahnya:

Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، وَالْمُوَفِّقُ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Pada kesempatan yang baik dan dalam keadaan sehat ini, mari kita manfaatkan waktu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang lalai terhadap nikmat kesempatan dan kesehatan.

Rasulullah SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ، اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Baca Juga: 
Doa Qunut: Bacaan, Hukum, dan Waktu Pelaksanaannya

Sesungguhnya takwa adalah bekal terbaik bagi seorang hamba dalam menghadap Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya: “Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Dalam menjalani hidup, kita semua pernah berbuat salah dan mengalami kesalahan dari orang lain. Kita pernah merasa terluka, sakit hati, bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Namun, kita selalu punya pilihan bagaimana menyikapi semua itu.

Salah satu cara terbaik untuk membersihkan hati dan jiwa adalah dengan saling memaafkan. Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan atau membenarkan perbuatan yang salah, tetapi melepaskan beban emosi negatif yang selama ini membebani hati.

Apalagi, kita akan segera memasuki bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita membersihkan hati dari segala emosi negatif yang dapat mengganggu pikiran dan mengurangi kekhusyukan ibadah kita di bulan suci ini.

Sikap saling memaafkan merupakan salah satu perintah Allah Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya, Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf (hal yang baik), dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al A’raf. Ayat 199)

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid, jilid 1, halaman 413 mengutip pendapat sahabat Ikrimah. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bertanya, “Wahai Jibril, apa maksud ayat ini?” Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, Tuhanmu memerintahkan agar engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan memaafkan orang yang telah menzalimimu.”

Baca Juga: 
Batasi Kepemilikan Kartu Seluler, Ini Jumlah Maksimal yang Diperbolehkan Komidigi

قَالَ عِكْرِمَةُ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ ﷺ: «يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟». قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَقُولُ هُوَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ»

Artinya: Dari ‘Ikrimah, ketika ayat ini turun, Nabi SAW bersabda: “Wahai Jibril, apa ini?” Jibril menjawab: “Wahai Muhammad, Tuhanmu berfirman, yaitu hendaklah engkau menyambung (hubungan) dengan orang yang memutuskan (hubungan denganmu), engkau memberi orang yang tidak memberi (kepadamu), dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu.”

Lebih jauh, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa para ulama berpendapat penjelasan yang disampaikan Jibril selaras dengan makna ayat tersebut. Menyambung kembali hubungan dengan orang yang memutuskannya merupakan wujud sikap pemaaf. Memberi kepada orang yang tidak memberi adalah bentuk nyata dari perbuatan baik. Sementara itu, memaafkan orang yang telah menzalimi berarti memilih untuk berpaling dari sikap dan perilaku orang-orang yang bodoh.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Pada hakikatnya, menjadi pribadi yang pemaaf adalah bagian dari upaya kita mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Beliau telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal memaafkan. Rasulullah SAW selalu memaafkan kesalahan orang lain, bahkan ketika Nabi sendiri menjadi korban. Baginda tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian, melainkan selalu memilih jalan memaafkan.

Baca Juga: 
PPJI Sinergi Dinkes Makassar, Dorong Standar Keamanan Pangan Demi Zero Accident MBG Makassar

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan. Sebaliknya, maaf lahir dari jiwa yang besar dan hati yang kuat. Orang yang pemaaf bukan hanya menang atas orang lain, tetapi juga berhasil mengalahkan hawa nafsunya sendiri, nafsu yang mendorong untuk marah, membalas dendam, merasa paling benar, dan merendahkan orang lain.

Dengan membuka pintu maaf seluas-luasnya, Nabi Muhammad SAW ingin menunjukkan bahwa membalas dendam tidak akan membawa kemuliaan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya, Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. (HR Muslim)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Pada akhirnya, memaafkan memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan. Meski begitu, memaafkan adalah pilihan terbaik demi kebaikan diri kita sendiri. Mari kita memilih untuk saling memaafkan, melepaskan beban emosi negatif, dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dan tulus.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

(kemudian, khotib duduk sejenak lalu berdiri untuk melanjutkan khutbah kedua)

SulawesiPos.com – Ramadhan sebentar lagi kembali menyapa. Untuk itu banyak hal yang perlu disiapkan sebelum benar-benar memasuki bulan suci tersebut.

Salah satunya adalah saling memaafkan dengan sesama.

Oleh karena itu, berikut khutbah dengan judul Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan. Khutbah ini bisa menjadi referensi untuk khutbah jumat pada 13 Februari 2026.

Berikut isi khutbahnya:

Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، وَالْمُوَفِّقُ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Pada kesempatan yang baik dan dalam keadaan sehat ini, mari kita manfaatkan waktu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang lalai terhadap nikmat kesempatan dan kesehatan.

Rasulullah SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ، اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Baca Juga: 
PPJI Sinergi Dinkes Makassar, Dorong Standar Keamanan Pangan Demi Zero Accident MBG Makassar

Sesungguhnya takwa adalah bekal terbaik bagi seorang hamba dalam menghadap Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya: “Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Dalam menjalani hidup, kita semua pernah berbuat salah dan mengalami kesalahan dari orang lain. Kita pernah merasa terluka, sakit hati, bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Namun, kita selalu punya pilihan bagaimana menyikapi semua itu.

Salah satu cara terbaik untuk membersihkan hati dan jiwa adalah dengan saling memaafkan. Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan atau membenarkan perbuatan yang salah, tetapi melepaskan beban emosi negatif yang selama ini membebani hati.

Apalagi, kita akan segera memasuki bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Sudah sepantasnya kita membersihkan hati dari segala emosi negatif yang dapat mengganggu pikiran dan mengurangi kekhusyukan ibadah kita di bulan suci ini.

Sikap saling memaafkan merupakan salah satu perintah Allah Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya, Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf (hal yang baik), dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al A’raf. Ayat 199)

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid, jilid 1, halaman 413 mengutip pendapat sahabat Ikrimah. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bertanya, “Wahai Jibril, apa maksud ayat ini?” Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, Tuhanmu memerintahkan agar engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan memaafkan orang yang telah menzalimimu.”

Baca Juga: 
Mentan Andi Amran Sulaiman Bantu Rp 1 Miliar untuk Anak Yatim Piatu Melalui Kegiatan IKA Unhas Peduli

قَالَ عِكْرِمَةُ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ ﷺ: «يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟». قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَقُولُ هُوَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ»

Artinya: Dari ‘Ikrimah, ketika ayat ini turun, Nabi SAW bersabda: “Wahai Jibril, apa ini?” Jibril menjawab: “Wahai Muhammad, Tuhanmu berfirman, yaitu hendaklah engkau menyambung (hubungan) dengan orang yang memutuskan (hubungan denganmu), engkau memberi orang yang tidak memberi (kepadamu), dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu.”

Lebih jauh, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa para ulama berpendapat penjelasan yang disampaikan Jibril selaras dengan makna ayat tersebut. Menyambung kembali hubungan dengan orang yang memutuskannya merupakan wujud sikap pemaaf. Memberi kepada orang yang tidak memberi adalah bentuk nyata dari perbuatan baik. Sementara itu, memaafkan orang yang telah menzalimi berarti memilih untuk berpaling dari sikap dan perilaku orang-orang yang bodoh.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Pada hakikatnya, menjadi pribadi yang pemaaf adalah bagian dari upaya kita mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Beliau telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal memaafkan. Rasulullah SAW selalu memaafkan kesalahan orang lain, bahkan ketika Nabi sendiri menjadi korban. Baginda tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian, melainkan selalu memilih jalan memaafkan.

Baca Juga: 
Rakornas 2026, Presiden Prabowo: Setiap Keluarga Indonesia Harus Bisa Nikmati Protein Segar Setiap Hari

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan. Sebaliknya, maaf lahir dari jiwa yang besar dan hati yang kuat. Orang yang pemaaf bukan hanya menang atas orang lain, tetapi juga berhasil mengalahkan hawa nafsunya sendiri, nafsu yang mendorong untuk marah, membalas dendam, merasa paling benar, dan merendahkan orang lain.

Dengan membuka pintu maaf seluas-luasnya, Nabi Muhammad SAW ingin menunjukkan bahwa membalas dendam tidak akan membawa kemuliaan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya, Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. (HR Muslim)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah 

Pada akhirnya, memaafkan memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan. Meski begitu, memaafkan adalah pilihan terbaik demi kebaikan diri kita sendiri. Mari kita memilih untuk saling memaafkan, melepaskan beban emosi negatif, dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dan tulus.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

(kemudian, khotib duduk sejenak lalu berdiri untuk melanjutkan khutbah kedua)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/