Sejumlah laporan global terbaru juga menunjukkan bahwa integrasi AI dalam layanan primer berpotensi memangkas waktu tunggu pasien, mengurangi kesalahan diagnostik, serta memperluas akses konsultasi jarak jauh di daerah terpencil, asalkan diterapkan dalam kerangka etika, regulasi, dan tata kelola data yang ketat.
Menanggapi temuan tersebut, Ketua Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, dr. Andi Ariyandy, Ph.D., MHPE, menegaskan bahwa hasil riset ini seharusnya dibaca bukan sebagai narasi “AI mengalahkan dokter”, melainkan sebagai bukti bahwa di lingkungan dengan keterbatasan spesialis, chatbot dapat berperan sebagai penguat keputusan klinis atau “co-pilot” yang membantu tenaga kesehatan mengenali kemungkinan diagnosis, menentukan langkah awal yang aman, serta mengidentifikasi kebutuhan rujukan secara cepat.

Ia mengingatkan bahwa pasien di dunia nyata tidak selalu hadir dengan gejala yang terstruktur seperti dalam skenario penelitian, karena sering kali terdapat tanda bahaya yang hanya dapat dikenali melalui konteks sosial, pengalaman klinis, serta interaksi langsung antara dokter dan pasien.
“Kunci keberhasilan implementasi AI terletak pada pelatihan yang memadai, regulasi yang jelas, serta pengawasan manusia yang konsisten, sebab sistem berbasis algoritma tetap berpotensi keliru dan terkadang menyampaikan jawaban dengan tingkat keyakinan tinggi meski tidak sepenuhnya akurat,” jelasnya.
Dr. Andi Ariyandy menyatakan optimisme bahwa apabila tiga prasyarat tersebut terpenuhi, kecerdasan buatan dapat membantu menutup kesenjangan layanan kesehatan, menekan biaya operasional sistem medis, dan yang paling penting meningkatkan keselamatan pasien, sehingga inovasi digital benar-benar menjadi instrumen kemaslahatan global dan kemajuan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab. (ali)

