Saat ini stok beras nasional mencapai 3,4 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 3,8 juta ton pada akhir Februari, serta menembus 4 juta ton pada Maret 2026.
“Stok bantuan pangan sangat cukup. SK sudah ada dan penyalurannya kita percepat,” jelasnya.
Penguatan stok tersebut ditopang oleh lonjakan produksi beras nasional sepanjang tahun lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024.
Capaian ini sejalan dengan proyeksi FAO dan USDA yang memperkirakan produksi Indonesia berada di kisaran 34,6 juta ton, sekaligus tertinggi di kawasan ASEAN.
Momentum peningkatan produksi diperkirakan berlanjut pada awal 2026.
Potensi produksi beras Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 10,16 juta ton, naik 1,39 juta ton atau 15,79 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Mentan Amran menegaskan, keberadaan cadangan pemerintah menjadi kunci utama stabilisasi harga, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Pemerintah, kata dia, tidak boleh absen dalam menjaga pasar agar tidak terjadi gejolak harga.
“Kalau pemerintah tidak punya cadangan, bagaimana cara intervensi pasar? Itu sebabnya negara harus hadir dan punya stok yang kuat,” tegasnya.

