Prof. Tasrif juga menyoroti isu bendera yang tampak “berkibar” dalam dokumentasi Apollo 11 yang sering dijadikan dasar kecurigaan, padahal di Bulan tidak terdapat atmosfer signifikan yang dapat menimbulkan angin, sehingga gerakan pada bendera dijelaskan oleh inersia saat pemasangan dan penggunaan batang penyangga horizontal.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi vakum, tidak adanya hambatan udara justru membuat getaran kain bertahan lebih lama dibandingkan di Bumi, sehingga secara fisika fenomena tersebut tidak bertentangan dengan hukum mekanika.
Dalam penjelasan kosmologisnya, Prof. Tasrif menguraikan bahwa sistem tata surya terdiri atas Matahari sebagai pusat dengan delapan planet yang mengitarinya, sementara Bumi sebagai planet ketiga memiliki satu satelit alami yaitu Bulan yang berotasi dan berevolusi secara sinkron dalam periode sekitar 27,3 hari, menyebabkan hanya satu sisi Bulan yang selalu menghadap Bumi.
Ia menegaskan bahwa rotasi dan revolusi benda langit mengikuti hukum gravitasi universal Newton dan prinsip mekanika orbit yang telah diverifikasi selama berabad-abad, sehingga keberhasilan misi Apollo tidak bertentangan dengan fondasi fisika dasar.
Presiden Prabowo: Tim Pertanian Contoh Kerja Pemerintah yang Berprestasi dan Membanggakan
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa reflektor laser yang dipasang oleh astronot Apollo masih digunakan hingga kini dalam eksperimen Lunar Laser Ranging di berbagai observatorium dunia, yang secara konsisten mengukur jarak Bumi–Bulan dengan presisi sentimeter, menjadi bukti eksperimental berulang atas keberadaan perangkat tersebut di permukaan Bulan.
Menurut Prof. Tasrif, skeptisisme adalah bagian dari tradisi ilmiah yang sehat, namun harus disertai metode pengujian, konsistensi logika, dan analisis data empiris, bukan sekadar asumsi berbasis persepsi visual atau narasi populer di ruang digital.
Ia menekankan bahwa di era informasi yang sangat cepat, literasi sains dan literasi media menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat mampu membedakan antara pertanyaan ilmiah yang sah dan teori konspirasi yang tidak memiliki dukungan bukti.
Sebagai penutup, Prof. Tasrif menyatakan bahwa kontroversi ini seharusnya menjadi momentum edukasi publik untuk memperkuat pemahaman kosmologi, mekanika orbit, dan sejarah eksplorasi antariksa, sehingga generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga subjek kritis yang mampu membaca sains secara rasional, berbasis data, dan berlandaskan metode ilmiah. (ali)

