Overview
- Pernyataan Nicki Minaj yang meragukan pendaratan manusia di Bulan memicu perdebatan global tentang sains, opini publik, dan literasi digital.
- Prof. Dr. Tasrif Surungan menegaskan bukti fisika, dokumentasi NASA, dan eksperimen Lunar Laser Ranging mendukung keaslian pendaratan Apollo 11.
- Kontroversi ini menjadi momentum edukasi publik untuk memperkuat pemahaman kosmologi, mekanika orbit, dan pentingnya literasi sains bagi generasi muda.
SulawesiPos.com – Pernyataan Nicki Minaj, ikon musik hip-hop modern, yang meragukan keaslian pendaratan manusia di Bulan pada 1969 kembali memantik perdebatan global tentang sains dan literasi publik setelah dimuat media ABC4NEWS pada 4 Februari 2026.
Komentar tersebut disampaikan dalam sebuah podcast yang dipandu Katie Miller ketika Minaj menyatakan bahwa dirinya tidak yakin manusia benar-benar pernah mendarat di Bulan, sehingga memicu diskusi luas mengenai batas antara opini personal dan fakta ilmiah yang telah diverifikasi selama lebih dari lima dekade.
Pernyataan itu bertentangan dengan konsensus ilmiah global yang didukung oleh dokumentasi misi NASA, termasuk arsip rekaman video, foto resolusi tinggi, lebih dari 382 kilogram sampel batuan bulan yang telah diteliti di berbagai laboratorium dunia, serta reflektor laser yang hingga kini masih digunakan ilmuwan untuk mengukur jarak Bumi–Bulan secara presisi melalui eksperimen Lunar Laser Ranging.
Sang pembawa acara sempat menyinggung pandangan Elon Musk yang menegaskan bahwa pendaratan tersebut nyata dan terverifikasi secara ilmiah, namun Minaj mempertahankan sikap skeptisnya tanpa menyertakan argumen teknis yang mendukung klaimnya.
Kontroversi ini semakin meluas karena muncul dalam konteks dinamika politik Amerika Serikat setelah Minaj menyatakan dukungan terhadap Donald Trump, sehingga opini tersebut tidak hanya dibaca sebagai ekspresi personal tetapi juga sebagai bagian dari arus polarisasi sosial yang diperkuat algoritma media digital.
Para pengamat komunikasi menilai bahwa kombinasi figur selebritas, teori konspirasi, dan distribusi masif melalui platform media sosial berpotensi membentuk persepsi generasi muda terhadap sains secara tidak proporsional apabila tidak diimbangi literasi digital yang memadai.
Analisis Akademik: Perspektif Fisika dari Prof. Dr. Tasrif Surungan, M.Sc
Menanggapi kontroversi tersebut, Wartawan SulawesiPos.com mewawancarai Prof. Dr. Tasrif Surungan, M.Sc., pada 7 Februari 2026 untuk memperoleh klarifikasi akademik berbasis ilmu fisika terkait klaim yang kembali mencuat tersebut.

Prof. Tasrif yang merupakan Ketua Program Doktor Ilmu Fisika Universitas Hasanuddin sekaligus Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Sulawesi Barat menegaskan bahwa penilaian terhadap klaim pendaratan manusia di Bulan harus didasarkan pada pemahaman fisika yang komprehensif dan verifikasi ilmiah, bukan pada kesan visual semata.
Ia menjelaskan bahwa Bulan adalah satelit alami Bumi yang berjarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer dengan gaya gravitasi sekitar seperenam gravitasi Bumi, sehingga secara prinsip mekanika orbit perjalanan ke Bulan dimungkinkan selama wahana mampu mencapai kecepatan lepas gravitasi Bumi sekitar 11,2 kilometer per detik.
Menurutnya, argumen yang menyebut teknologi 1960-an belum memadai perlu dilihat dalam konteks sejarah perlombaan antariksa era Perang Dingin, ketika investasi besar dalam riset roket Saturn V memungkinkan manusia menembus batas atmosfer, memasuki orbit, dan akhirnya mendarat di Bulan, suatu capaian yang konsisten dengan prinsip fisika klasik dan modern.

