Overview
- Kasus bunuh diri siswa SD di Ngada, NTT, memicu keprihatinan luas publik.
- Guru Besar Sosiologi Unair menilai peristiwa ini sebagai alarm perhatian kesehatan mental anak, khususnya di daerah terpencil.
- Tekanan kemiskinan dan minimnya akses layanan psikologis disebut memperbesar kerentanan anak.
SulawesiPos.com – Kisah tragis seorang siswa kelas IV sekolah dasar asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, memantik keprihatinan publik.
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto, menilai peristiwa tersebut harus menjadi alarm sosial agar masyarakat lebih peka dalam memerhatikan serta memantau kondisi mental anak-anak di lingkungan sekitar.
“Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan,” ujar Prof. Bagong di Surabaya, dikutip dari JawaPos, Sabtu (7/2/2026).
Ia menyoroti bahwa kondisi tersebut semakin kompleks di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), di mana akses terhadap layanan psikologis masih sangat terbatas.
Situasi ini membuat anak-anak lebih rentan merasa terisolasi dan kekurangan dukungan ketika menghadapi tekanan hidup.
Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu, keluarga serta lingkungan sosial memegang peranan penting dalam mendeteksi dini tanda-tanda gangguan psikologis pada anak.
“Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,” imbuhnya.
Peristiwa di NTT
Dalam kasus yang terjadi, korban berinisial YBR, 10 tahun, dikenal sebagai anak pendiam dan penurut.
Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan sejak usia 1 tahun 7 bulan tinggal bersama neneknya.
Keduanya menetap di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2×3 meter di Desa Nuruwolo, Kabupaten Ngada.

