Agus juga mendorong pemerintah daerah untuk aktif memperbarui data keluarga kurang mampu serta segera mengusulkannya melalui Pusat Data dan Informasi Kementerian Sosial, sehingga potensi ketidaktepatan data dalam DTSEN dapat segera dikoreksi.
Terkait pengembangan program, pemerintah menargetkan setiap kabupaten dan kota di Indonesia memiliki setidaknya satu Sekolah Rakyat. Pemerintah daerah pun diminta segera mengajukan penyediaan lahan sebagai tahap awal pembangunan.
Menurut Agus, semakin luas jangkauan Sekolah Rakyat, semakin besar pula peluang anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap bersekolah, sehingga peristiwa serupa seperti yang terjadi di Ngada tidak kembali terulang.
Tragedi Siswa SD di Ngada
Sebelumnya, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dahan pohon serta meninggalkan sepucuk surat perpisahan yang ditujukan kepada ibunya.
Peristiwa tersebut terjadi di kebun milik nenek korban di Desa Nenowea, Kabupaten Ngada, pada Kamis (29/1/2026). Korban ditemukan tergantung di pohon cengkeh.
Meski kejadian telah berlalu sekitar sepekan, kasus ini kembali menyita perhatian publik setelah alasan di balik peristiwa tersebut serta isi surat perpisahan korban beredar luas di media sosial.
“Benar ditemukan selembar kertas tulisan tangan di sekitar lokasi kejadian pada Kamis, 29 Januari 2026, siang,” kata Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra, Rabu (4/2/2026).

