24 C
Makassar
6 February 2026, 19:30 PM WITA

Produksi Gula 2025 Capai 2,67 Juta Ton, Kementan Optimistis Swasembada 2027

Overview

  • Produksi gula nasional 2025 mencapai 2,67 juta ton atau 97,54 persen dari target, ditopang produksi tebu 39,07 juta ton.
  • Pemerintah mengakselerasi swasembada melalui peningkatan produktivitas, perluasan lahan, benih unggul, dan modernisasi industri gula.
  • Target produksi gula nasional dipatok 3,27 juta ton pada 2027 sesuai roadmap swasembada gula nasional.

SulawesiPos.com – Kementerian Pertanian mencatat kinerja positif produksi tebu dan gula nasional sepanjang 2025 yang dinilai menjadi fondasi penting menuju swasembada gula.

Berdasarkan evaluasi akhir musim giling 2025, produksi gula nasional mencapai 2,67 juta ton atau sekitar 97,54 persen dari target, menunjukkan tren peningkatan produksi dalam negeri.

Capaian tersebut selaras dengan peningkatan produksi tebu nasional yang pada 2025 menembus 39,07 juta ton dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare.

Angka ini melampaui target Rencana Strategis (Renstra) Perkebunan dan mencerminkan keberhasilan berbagai intervensi pemerintah di sektor hulu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan produksi tebu akan terus dipercepat guna mewujudkan swasembada gula sekaligus menekan ketergantungan impor.

Baca Juga: 
Mentan Amran: Tanam Jagung Upaya Cegah Kejahatan Sejak di Hulu

Pemerintah, ujarnya, berfokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi dari hulu hingga hilir. Mengacu Roadmap Swasembada Gula Nasional sesuai Kepmenko Nomor 418 Tahun 2023, produksi gula ditargetkan mencapai 3,27 juta ton pada 2027.

“Swasembada gula adalah keharusan. Pemerintah fokus meningkatkan produktivitas tebu, memperluas areal, menyediakan benih unggul, serta melakukan modernisasi industri gula,” kata Mentan Amran dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan, peningkatan produksi tebu 2025 didorong berbagai program strategis seperti bongkar ratoon, penggunaan varietas unggul, serta pendampingan teknis intensif kepada petani.

“Capaian ini didorong berbagai intervensi pemerintah, mulai dari bongkar ratoon, penggunaan varietas unggul, hingga pendampingan petani,” kata Roni.

Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong penguatan varietas unggul dan sistem perbenihan nasional guna menopang target swasembada gula. Dari sisi wilayah, Jawa Timur masih menjadi sentra utama produksi tebu, disusul Lampung dan Jawa Tengah.

Pengembangan kawasan tebu juga diperluas ke sejumlah daerah seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sebagai bagian strategi ekstensifikasi.

Baca Juga: 
Fakta-fakta Kasus Bupati Pati Sudewo: Dari LHKPN Rp31,5 Miliar hingga OTT KPK

Kementerian Pertanian turut memperkuat sistem perbenihan nasional untuk menjamin ketersediaan benih unggul, sekaligus meningkatkan efisiensi pabrik gula melalui program revitalisasi.

Dukungan lain diberikan melalui pembiayaan KUR Khusus Tebu, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta penguatan kelembagaan petani sebagai upaya terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Meski masih menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan efisiensi industri gula, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat peningkatan produksi.

Respons petani terhadap program pengembangan tebu dinilai positif karena berdampak pada produktivitas, efisiensi biaya, serta peluang peningkatan pendapatan.

Dengan tren produksi tebu dan gula yang terus meningkat sepanjang 2025, Kementerian Pertanian optimistis target swasembada gula nasional dapat tercapai sesuai peta jalan.

Pemerintah memastikan penguatan sektor dari hulu hingga hilir akan dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga kebutuhan gula domestik terpenuhi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu serta ketahanan pangan nasional.

Overview

  • Produksi gula nasional 2025 mencapai 2,67 juta ton atau 97,54 persen dari target, ditopang produksi tebu 39,07 juta ton.
  • Pemerintah mengakselerasi swasembada melalui peningkatan produktivitas, perluasan lahan, benih unggul, dan modernisasi industri gula.
  • Target produksi gula nasional dipatok 3,27 juta ton pada 2027 sesuai roadmap swasembada gula nasional.

SulawesiPos.com – Kementerian Pertanian mencatat kinerja positif produksi tebu dan gula nasional sepanjang 2025 yang dinilai menjadi fondasi penting menuju swasembada gula.

Berdasarkan evaluasi akhir musim giling 2025, produksi gula nasional mencapai 2,67 juta ton atau sekitar 97,54 persen dari target, menunjukkan tren peningkatan produksi dalam negeri.

Capaian tersebut selaras dengan peningkatan produksi tebu nasional yang pada 2025 menembus 39,07 juta ton dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare.

Angka ini melampaui target Rencana Strategis (Renstra) Perkebunan dan mencerminkan keberhasilan berbagai intervensi pemerintah di sektor hulu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan produksi tebu akan terus dipercepat guna mewujudkan swasembada gula sekaligus menekan ketergantungan impor.

Baca Juga: 
Mentan Amran Tuai Apresiasi Komisi IV DPR RI Usai Capai Swasembada Pangan Lebih Cepat dari Target

Pemerintah, ujarnya, berfokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi dari hulu hingga hilir. Mengacu Roadmap Swasembada Gula Nasional sesuai Kepmenko Nomor 418 Tahun 2023, produksi gula ditargetkan mencapai 3,27 juta ton pada 2027.

“Swasembada gula adalah keharusan. Pemerintah fokus meningkatkan produktivitas tebu, memperluas areal, menyediakan benih unggul, serta melakukan modernisasi industri gula,” kata Mentan Amran dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan, peningkatan produksi tebu 2025 didorong berbagai program strategis seperti bongkar ratoon, penggunaan varietas unggul, serta pendampingan teknis intensif kepada petani.

“Capaian ini didorong berbagai intervensi pemerintah, mulai dari bongkar ratoon, penggunaan varietas unggul, hingga pendampingan petani,” kata Roni.

Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong penguatan varietas unggul dan sistem perbenihan nasional guna menopang target swasembada gula. Dari sisi wilayah, Jawa Timur masih menjadi sentra utama produksi tebu, disusul Lampung dan Jawa Tengah.

Pengembangan kawasan tebu juga diperluas ke sejumlah daerah seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sebagai bagian strategi ekstensifikasi.

Baca Juga: 
Mentan Amran Menolak Dicalonkan Lagi, Semua Ketua IKA Aklamasi Menjadikannya Calon Tunggal Ketua Umum IKA Unhas 2026-2030

Kementerian Pertanian turut memperkuat sistem perbenihan nasional untuk menjamin ketersediaan benih unggul, sekaligus meningkatkan efisiensi pabrik gula melalui program revitalisasi.

Dukungan lain diberikan melalui pembiayaan KUR Khusus Tebu, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta penguatan kelembagaan petani sebagai upaya terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Meski masih menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan efisiensi industri gula, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat peningkatan produksi.

Respons petani terhadap program pengembangan tebu dinilai positif karena berdampak pada produktivitas, efisiensi biaya, serta peluang peningkatan pendapatan.

Dengan tren produksi tebu dan gula yang terus meningkat sepanjang 2025, Kementerian Pertanian optimistis target swasembada gula nasional dapat tercapai sesuai peta jalan.

Pemerintah memastikan penguatan sektor dari hulu hingga hilir akan dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga kebutuhan gula domestik terpenuhi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu serta ketahanan pangan nasional.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/