28 C
Makassar
6 February 2026, 11:52 AM WITA

Pavel Durov Ungkit Pesan Lawas Mark Zuckerberg saat Meta Platforms Digugat soal Privasi WhatsApp

Pada 2025, WhatsApp bahkan memenangkan putusan juri senilai 168 juta dolar AS melawan NSO Group terkait peretasan massal tahun 2019 yang memanfaatkan celah sistem panggilan aplikasi tersebut.

Zuckerberg sendiri pernah menyatakan penyesalan atas komentar masa mudanya dan dalam wawancara dengan The New Yorker pada 2010 menegaskan bahwa dirinya telah banyak berubah sejak usia remaja serta tidak seharusnya dinilai dari pernyataan ketika berumur 19 tahun.

Di pasar keuangan, saham Meta tercatat turun 1,41 persen pada penutupan perdagangan Senin di level 706,41 dolar AS dan kembali melemah tipis setelah jam bursa, mencerminkan sensitivitas investor terhadap isu regulasi, reputasi, dan risiko privasi data.

Para analis keamanan siber menilai polemik ini menegaskan persoalan mendasar ekonomi digital modern, yakni akumulasi data miliaran manusia oleh segelintir korporasi global yang berpotensi memengaruhi kebebasan sipil, demokrasi, dan hak privasi.

Analisis Dr. Alem Febri Sonni: Krisis Kepercayaan dalam Ekonomi Perhatian Digital

Menurut Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si., pakar Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, kasus ini memperlihatkan paradoks fundamental dalam ekonomi perhatian digital ketika kepercayaan pengguna menjadi komoditas yang secara simultan diminta sekaligus dieksploitasi oleh platform media sosial.

Baca Juga: 
Baharkam Polri Selenggarakan Festival Polisi Penolong di Car Free Day
Pakar Ilmu Kominikasi Universitas Hasanuddin, Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si
Pakar Ilmu Kominikasi Universitas Hasanuddin, Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si

Ia menjelaskan bahwa dari perspektif komunikasi strategis, langkah Durov menghidupkan kembali percakapan lama Zuckerberg merupakan strategi retoris berbasis ethos attack yang memanfaatkan momentum gugatan hukum untuk mendelegitimasi narasi keamanan WhatsApp di ruang publik global.

Secara akademis, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan digital bersifat asimetris karena pengguna diminta menyerahkan data pribadi secara penuh, sementara platform tidak memiliki kewajiban transparansi timbal balik yang setara dalam pengelolaan metadata dan algoritma.

Ketimpangan itu, menurutnya, mencerminkan relasi kuasa komunikasi antara korporasi teknologi dan individu, di mana literasi privasi masyarakat belum mampu mengimbangi kompleksitas arsitektur pengawasan yang terselubung di balik antarmuka aplikasi yang tampak sederhana.

Dr. Alem menilai Meta saat ini menghadapi krisis komunikasi korporat karena terjebak di antara retorika “privasi sebagai hak asasi” dan realitas model bisnis berbasis monetisasi metadata, sehingga klaim enkripsi end-to-end lebih berfungsi sebagai pesan pemasaran ketimbang jaminan perlindungan menyeluruh.

“Penekanan pada aspek teknis enkripsi isi pesan sering mengaburkan fakta bahwa metadata, pola perilaku, dan jejak digital tetap memiliki nilai ekonomi tinggi serta dapat diproses untuk kepentingan periklanan maupun analisis perilaku,” jelasnya.

Baca Juga: 
Catat Jadwal Penting SNBP 2026: Registrasi Akun Siswa Dimulai Hari Ini!

Pada 2025, WhatsApp bahkan memenangkan putusan juri senilai 168 juta dolar AS melawan NSO Group terkait peretasan massal tahun 2019 yang memanfaatkan celah sistem panggilan aplikasi tersebut.

Zuckerberg sendiri pernah menyatakan penyesalan atas komentar masa mudanya dan dalam wawancara dengan The New Yorker pada 2010 menegaskan bahwa dirinya telah banyak berubah sejak usia remaja serta tidak seharusnya dinilai dari pernyataan ketika berumur 19 tahun.

Di pasar keuangan, saham Meta tercatat turun 1,41 persen pada penutupan perdagangan Senin di level 706,41 dolar AS dan kembali melemah tipis setelah jam bursa, mencerminkan sensitivitas investor terhadap isu regulasi, reputasi, dan risiko privasi data.

Para analis keamanan siber menilai polemik ini menegaskan persoalan mendasar ekonomi digital modern, yakni akumulasi data miliaran manusia oleh segelintir korporasi global yang berpotensi memengaruhi kebebasan sipil, demokrasi, dan hak privasi.

Analisis Dr. Alem Febri Sonni: Krisis Kepercayaan dalam Ekonomi Perhatian Digital

Menurut Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si., pakar Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, kasus ini memperlihatkan paradoks fundamental dalam ekonomi perhatian digital ketika kepercayaan pengguna menjadi komoditas yang secara simultan diminta sekaligus dieksploitasi oleh platform media sosial.

Baca Juga: 
Baharkam Polri Selenggarakan Festival Polisi Penolong di Car Free Day
Pakar Ilmu Kominikasi Universitas Hasanuddin, Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si
Pakar Ilmu Kominikasi Universitas Hasanuddin, Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si

Ia menjelaskan bahwa dari perspektif komunikasi strategis, langkah Durov menghidupkan kembali percakapan lama Zuckerberg merupakan strategi retoris berbasis ethos attack yang memanfaatkan momentum gugatan hukum untuk mendelegitimasi narasi keamanan WhatsApp di ruang publik global.

Secara akademis, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan digital bersifat asimetris karena pengguna diminta menyerahkan data pribadi secara penuh, sementara platform tidak memiliki kewajiban transparansi timbal balik yang setara dalam pengelolaan metadata dan algoritma.

Ketimpangan itu, menurutnya, mencerminkan relasi kuasa komunikasi antara korporasi teknologi dan individu, di mana literasi privasi masyarakat belum mampu mengimbangi kompleksitas arsitektur pengawasan yang terselubung di balik antarmuka aplikasi yang tampak sederhana.

Dr. Alem menilai Meta saat ini menghadapi krisis komunikasi korporat karena terjebak di antara retorika “privasi sebagai hak asasi” dan realitas model bisnis berbasis monetisasi metadata, sehingga klaim enkripsi end-to-end lebih berfungsi sebagai pesan pemasaran ketimbang jaminan perlindungan menyeluruh.

“Penekanan pada aspek teknis enkripsi isi pesan sering mengaburkan fakta bahwa metadata, pola perilaku, dan jejak digital tetap memiliki nilai ekonomi tinggi serta dapat diproses untuk kepentingan periklanan maupun analisis perilaku,” jelasnya.

Baca Juga: 
Prabowo Sebut Indonesia Tidak Bisa Merdeka Tanpa jasa Petani di Acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/