Categories: News

Apa Itu Love Scamming? Pengertian, Modus, Ciri-ciri, dan Cara Menghindarinya

Overview

  • Love scamming adalah penipuan daring dengan modus membangun hubungan emosional untuk memeras korban secara finansial.
  • Pelaku memanfaatkan media sosial dengan identitas palsu dan skema manipulasi yang terstruktur.
  • Masyarakat diimbau mengenali ciri-ciri dan menerapkan langkah pencegahan agar terhindar dari love scamming.

SulawesiPos.com – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung mengungkap kasus love scamming yang menjerat seorang pria asal Makassar setelah memeras korbannya hingga mengalami kerugian mencapai Rp70 juta.

Korban diperas dengan ancaman penyebaran rekaman video call sex (VCS) yang direkam secara diam-diam oleh pelaku.

Meski pelaku telah diamankan polisi, kasus ini menunjukkan bahwa praktik love scamming masih marak terjadi dan menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat, khususnya perempuan.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung AKBP Yusriandi Yusrin mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat menjalin pertemanan dengan orang yang dikenal melalui media sosial.

“Kami juga menghimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjalin pertemanan di media sosial, khususnya dengan orang yang belum dikenal secara langsung, guna mengantisipasi risiko menjadi korban love scamming,” kata Yusriandi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang apa sebenarnya love scamming serta bagaimana mengenali dan menghindarinya.

Apa Itu Love Scamming?

Berdasarkan informasi dari laman resmi Diskominfo, love scamming merupakan bentuk penipuan daring di mana pelaku memalsukan identitas dan membangun hubungan emosional dengan korban untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Pelaku umumnya beroperasi jarak jauh, kerap menggunakan identitas palsu yang dirancang agar terlihat menarik dan meyakinkan.

Penipu love scamming biasanya menjalankan skema yang terstruktur dan dirancang untuk memanipulasi emosi korban secara bertahap.

1. Pencarian Target dan Pendekatan Awal

Pelaku aktif mencari calon korban melalui berbagai platform daring seperti media sosial dan forum online.

Target yang disasar biasanya individu yang terlihat kesepian, rentan secara emosional, atau dinilai memiliki kestabilan finansial.

Setelah menemukan target, pelaku memulai komunikasi menggunakan profil palsu dengan foto menarik dan latar belakang yang tampak sempurna.

Identitas palsu tersebut sering kali menampilkan profesi bergengsi seperti tentara, dokter, insinyur, atau pebisnis sukses dengan kisah hidup yang menyentuh.

2. Pembangunan Hubungan dan Kepercayaan

Pada tahap ini, pelaku mulai membangun kedekatan emosional dengan memberikan perhatian intens, pujian berlebihan, dan komunikasi yang rutin.

Pelaku kerap membagikan cerita pribadi atau masalah hidup untuk menciptakan kesan saling percaya dan kedekatan emosional.

Korban dibuat merasa dicintai, dihargai, dan diyakinkan dengan janji masa depan seperti pertemuan hingga pernikahan.

Seluruh rangkaian tersebut bertujuan membuat korban bergantung secara emosional kepada pelaku.

3. Meminta Bantuan Finansial dengan Berbagai Dalih

Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai meminta uang dengan alasan mendesak dan bersifat dramatis.

Dalih yang digunakan beragam, mulai dari biaya medis darurat, masalah bisnis, biaya perjalanan dan visa, hingga urusan hukum dan bea cukai.

Pelaku biasanya menekan korban agar segera mengirim uang dengan memanfaatkan rasa takut, simpati, atau ancaman emosional.

4. Menghilang Setelah Mendapat Keuntungan

Usai memperoleh uang, pelaku biasanya memutus seluruh komunikasi dan menghilang tanpa jejak.

Korban baru menyadari telah menjadi korban penipuan setelah mengalami kerugian finansial dan tekanan emosional yang mendalam.

Ciri-ciri Pelaku Love Scamming

  1. Terlalu Sempurna: Profil menampilkan foto sangat menarik, profesi bergengsi, dan gaya hidup mewah.
  2. Bahasa Indonesia Kaku atau Tidak Alami: Penggunaan bahasa sering tidak konsisten akibat bantuan aplikasi penerjemah.
  3. Menolak Panggilan Video atau Suara: Pelaku selalu menghindari verifikasi identitas secara langsung.
  4. Cepat Mengungkapkan Cinta: Pelaku tergesa-gesa menyatakan perasaan dan komitmen meski baru berkenalan.
  5. Sering Mengalami Masalah Mendesak: Pelaku terus-menerus mengaku menghadapi situasi darurat.
  6. Mendesak Mengirim Uang: Pelaku memaksa korban untuk segera mentransfer dana.
  7. Rekening Tidak Wajar: Uang diminta dikirim ke rekening pribadi atau atas nama pihak lain, termasuk rekening luar negeri.

Tips Melindungi Diri dari Love Scamming

  1. Berhati-hati Membagikan Data Pribadi: Hindari memberikan informasi sensitif seperti alamat, rekening, atau data keuangan.
  2. Lakukan Verifikasi Identitas: Waspadai orang yang menolak panggilan video dan lakukan pencarian gambar terbalik pada foto profil.
  3. Waspadai Cerita Terlalu Dramatis: Cerita emosional berlebihan sering menjadi pintu masuk permintaan uang.
  4. Jangan Pernah Mengirim Uang: Jangan mengirim dana kepada orang yang belum pernah ditemui secara langsung.
  5. Diskusikan dengan Orang Terpercaya: Mintalah pendapat keluarga atau teman jika merasa ragu.
  6. Laporkan ke Pihak Berwajib: Segera laporkan ke polisi dan platform terkait jika menjadi korban love scamming.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Kejahatan Siber penipuan online love scamming kasus ITE pemerasan digital