Target yang disasar biasanya individu yang terlihat kesepian, rentan secara emosional, atau dinilai memiliki kestabilan finansial.
Setelah menemukan target, pelaku memulai komunikasi menggunakan profil palsu dengan foto menarik dan latar belakang yang tampak sempurna.
Identitas palsu tersebut sering kali menampilkan profesi bergengsi seperti tentara, dokter, insinyur, atau pebisnis sukses dengan kisah hidup yang menyentuh.
2. Pembangunan Hubungan dan Kepercayaan
Pada tahap ini, pelaku mulai membangun kedekatan emosional dengan memberikan perhatian intens, pujian berlebihan, dan komunikasi yang rutin.
Pelaku kerap membagikan cerita pribadi atau masalah hidup untuk menciptakan kesan saling percaya dan kedekatan emosional.
Korban dibuat merasa dicintai, dihargai, dan diyakinkan dengan janji masa depan seperti pertemuan hingga pernikahan.
Seluruh rangkaian tersebut bertujuan membuat korban bergantung secara emosional kepada pelaku.
3. Meminta Bantuan Finansial dengan Berbagai Dalih
Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai meminta uang dengan alasan mendesak dan bersifat dramatis.
Dalih yang digunakan beragam, mulai dari biaya medis darurat, masalah bisnis, biaya perjalanan dan visa, hingga urusan hukum dan bea cukai.

