Data International Monetary Fund menunjukkan hingga kuartal ketiga 2025 dolar masih mendominasi sekitar 57 persen cadangan devisa global, euro sekitar 20 persen, sedangkan renminbi baru mencapai 1,93 persen dan berada di peringkat keenam.
Para analis menekankan bahwa agar investor global dan bank sentral bersedia memegang yuan lebih besar, Tiongkok harus membuka rekening modal sepenuhnya serta memastikan konvertibilitas penuh mata uangnya.
Sejumlah mitra dagang juga mendesak Beijing membiarkan yuan terapresiasi lebih tajam karena dinilai masih undervalued sehingga membuat ekspor Tiongkok terlalu murah dan memicu surplus perdagangan yang pada 2025 menembus sekitar 1,2 triliun dolar AS.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva sebelumnya meminta Tiongkok memperbaiki ketidakseimbangan ekonomi domestik termasuk tekanan deflasi yang menyebabkan depresiasi nilai tukar riil secara signifikan.
Pejabat bank sentral Tiongkok menegaskan pemerintah tidak berniat melemahkan yuan demi keuntungan perdagangan dan justru menunjukkan toleransi terhadap penguatan moderat seiring pelemahan dolar global.
Kendati demikian, yuan masih berfluktuasi terhadap euro dan mata uang utama lain sehingga perjalanan menuju status mata uang cadangan global tetap menghadapi tantangan struktural dan politik yang kompleks.
Pandangan akademik atas dinamika tersebut diperkuat oleh wawancara eksklusif wartawan SulawesiPos.com dengan Hamid Paddu, Profesor dalam Bidang Ilmu Ekonomi Keuangan Negara/Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin pada Selasa (4/2/2026) di Makassar.

Dalam wawancara itu, Paddu menilai seruan Xi bukan sekadar soal kurs atau inflasi, melainkan pernyataan tentang status dan pengakuan geopolitik atas mata uang yang ingin dipercaya, disimpan, dan dijadikan jangkar stabilitas oleh dunia.
Menurutnya, selama lebih dari tujuh dekade sistem moneter internasional bertumpu pada dolar sebagai alat tukar sekaligus alat kuasa yang memungkinkan Amerika Serikat membiayai defisit, mengekspor volatilitas, dan menjadikan kebijakan finansial sebagai instrumen geopolitik global.
Ia menilai stabilitas dolar kini tampak rapuh bukan karena runtuh, melainkan karena kepercayaan global tidak lagi eksklusif sehingga banyak negara mulai mencari alternatif lindung nilai.

