Sementara itu, Ketua Champion Bawang Merah Kabupaten Cirebon, Syaiful, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal produktivitas bawang merah dapat mencapai 12—14 ton per hektare.
Akibat cuaca ekstrem, rata-rata produksi berada di angka 10 ton per hektare.
“Meski turun, petani masih untung. Dengan luas panen sekitar 350 hektare dan produktivitas 10 ton per hektare, pasokan bawang merah Cirebon aman hingga pasca-Lebaran,” ujar Syaiful.
Ia menambahkan, harga bawang merah di tingkat petani untuk ukuran sedang berada di kisaran Rp25.000 per kilogram, sementara kualitas super di pasaran dapat mencapai Rp30.000 per kilogram.
Dengan biaya produksi sekitar Rp15.000–Rp18.000 per kilogram, margin keuntungan petani dinilai masih sangat layak. “Petani untung, konsumen tersenyum. Semua senang,” katanya.
Senada, Ketua Kelompok Tani Makam Wada, Nashori, menyampaikan bahwa pada kisaran harga Rp20.000–Rp25.000 per kilogram, petani sudah berada pada posisi menguntungkan.
Namun demikian, ia menyoroti masih kuatnya peran tengkulak dalam rantai perdagangan bawang merah di Cirebon.
Ia menyebut sebagian besar bawang merah Cirebon dibeli oleh tengkulak dari Brebes, sehingga di pasar sering dikenal sebagai bawang Brebes meski berasal dari Cirebon.
Ke depan, ia berharap adanya dukungan pemerintah berupa permodalan dan fasilitas pergudangan.
“Rata-rata bawang di sini sudah dibeli tengkulak sejak usia tanaman 45 hari, dan transaksi dilakukan langsung di lahan. Harapan kami, Cirebon bisa difasilitasi menjadi kawasan sentra bawang merah seperti Brebes, sehingga nilai tambahnya tetap berada di daerah,” ujarnya.

