24 C
Makassar
3 February 2026, 6:33 AM WITA

Virus Nipah Kembali Merebak di Asia, Indonesia Diminta Waspada Dini

Langkah Pencegahan Diperkuat Pemerintah

Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan melalui sejumlah langkah, antara lain:

  1. Memperkuat surveilans sindromik di pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan
  2. Mensosialisasikan pedoman pencegahan kepada dinas kesehatan daerah
  3. Mengimbau masyarakat menghindari kontak dengan kelelawar dan hewan liar, serta mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi

Meski belum ada kasus terdeteksi di Indonesia, kewaspadaan dini, riset berkelanjutan, dan kesiapan respons dinilai menjadi kunci menghadapi potensi penyakit infeksi baru.

Virus Nipah Berdampak Serius, Namun Risiko Penyebaran Dinilai Rendah

Penyebaran virus Nipah juga menjadi perhatian di sejumlah negara Asia Tenggara. Ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, mengingatkan bahwa virus ini bukan ancaman baru.

Nipah pertama kali muncul pada 1998–1999, dengan wabah terbesar terjadi di Malaysia sebelum menyebar ke Singapura.

Saat itu tercatat 265 kasus dengan 108 kematian, ditandai gejala awal demam tinggi dan ensefalitis. Virus dibawa oleh kelelawar buah dan menular ke manusia melalui babi.

Baca Juga: 
Mentan Amran Dorong Solusi Permanen Cegah Longsor Cisarua, Siapkan Perubahan Pola Tanam

“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan, gejala saat ini dapat berupa demam, pneumonia berat, serta penularan melalui kontak cairan tubuh.

“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

Langkah Pencegahan Diperkuat Pemerintah

Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan melalui sejumlah langkah, antara lain:

  1. Memperkuat surveilans sindromik di pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan
  2. Mensosialisasikan pedoman pencegahan kepada dinas kesehatan daerah
  3. Mengimbau masyarakat menghindari kontak dengan kelelawar dan hewan liar, serta mencuci buah hingga bersih sebelum dikonsumsi

Meski belum ada kasus terdeteksi di Indonesia, kewaspadaan dini, riset berkelanjutan, dan kesiapan respons dinilai menjadi kunci menghadapi potensi penyakit infeksi baru.

Virus Nipah Berdampak Serius, Namun Risiko Penyebaran Dinilai Rendah

Penyebaran virus Nipah juga menjadi perhatian di sejumlah negara Asia Tenggara. Ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, mengingatkan bahwa virus ini bukan ancaman baru.

Nipah pertama kali muncul pada 1998–1999, dengan wabah terbesar terjadi di Malaysia sebelum menyebar ke Singapura.

Saat itu tercatat 265 kasus dengan 108 kematian, ditandai gejala awal demam tinggi dan ensefalitis. Virus dibawa oleh kelelawar buah dan menular ke manusia melalui babi.

Baca Juga: 
Kejagung dan KPK Usut Dugaan Korupsi HGU Lahan TNI AU di Lampung

“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan, gejala saat ini dapat berupa demam, pneumonia berat, serta penularan melalui kontak cairan tubuh.

“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/