Secara keseluruhan, India melaporkan lima kasus terbaru virus Nipah di wilayah Barasat per 25 Januari 2026.
Sementara itu, Thailand merespons dengan memilih langkah antisipatif yakni kembali menerapkan protokol kesehatan ala pandemi Covid-19.
Ancaman Regional, Seberapa Siap Indonesia?
Menyadur laman resmi Rumah Sakit Pertamina, kemunculan kembali virus Nipah di Asia memicu kewaspadaan global, termasuk di Indonesia.
Posisi geografis yang berdekatan dengan wilayah endemis membuat potensi risiko tidak bisa diabaikan.
Virus Nipah (NiV) dikenal sebagai patogen zoonosis berbahaya dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 40 hingga 75 persen, menurut WHO.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar pemakan buah atau babi, konsumsi makanan dan minuman terkontaminasi, hingga penularan antarmanusia.
Potensi Risiko bagi Indonesia
Sejumlah faktor dinilai membuat Indonesia perlu tetap siaga terhadap virus Nipah:
- Keberadaan reservoir alami
Kelelawar pemakan buah dari famili Pteropodidae yang menjadi inang alami virus Nipah tersebar luas di wilayah tropis, termasuk Indonesia. - Mobilitas dan perdagangan lintas negara
Perjalanan manusia dan perdagangan hewan berpotensi menjadi jalur masuk virus. - Tantangan deteksi dini
Gejala awal seperti demam, sakit kepala, dan muntah sering menyerupai penyakit umum, sehingga berisiko menyebabkan keterlambatan diagnosis.

