24 C
Makassar
3 February 2026, 8:08 AM WITA

Terobosan Pencetakan Logam 3D China Menandai Era Baru Industri Antariksa Global

Ia menambahkan bahwa kemampuan memproduksi dan memperbaiki aset di orbit baik satelit pengintai, sistem komunikasi, maupun platform pendukung stecara langsung meningkatkan ketahanan dan kelangsungan operasional aset strategis, karena perawatan dan pencetakan suku cadang di orbit mengurangi kerentanan rantai pasok dari Bumi.

Kesimpulannya, kata dia, terobosan ini harus dibaca sebagai langkah signifikan menuju strategic parity atau bahkan keunggulan China di domain antariksa yang akan berdampak pada keseimbangan kekuatan global yang lebih luas.

Dalam ranah ekonomi dan industri, ia menyebut peristiwa ini sebagai katalis percepatan New Space Economy karena manufaktur di orbit membuka cabang ekonomi baru (in-space manufacturing) di luar model yang selama ini bertumpu pada peluncuran, satelit telekomunikasi, dan penginderaan jauh.

Ia memaparkan bahwa potensinya meliputi produksi paduan logam atau semikonduktor berkualitas unggul karena dibuat dalam mikrogravitasi vakum tinggi, fabrikasi struktur optik raksasa untuk teleskop generasi berikutnya, hingga pencetakan habitat dan infrastruktur pangkalan di Bulan atau Mars.

Amijoyo mengungkapkan desain reusable Lihong-1 Y1 juga menjadi simbol konvergensi program antariksa nasional dan kewirausahaan komersial karena biaya peluncuran rendah dan fleksibilitas tinggi membuatnya menarik bagi riset pemerintah maupun perusahaan swasta yang ingin menguji material, biologi, atau prototipe produk di lingkungan antariksa.

Baca Juga: 
Pemerintah Telusuri Status WNI Kezia Syifa dan Muhammad Rio yang Dikabarkan Gabung Militer Asing

Ia menambahkan bahwa China melalui entitas seperti CAS Space, Galactic Energy, dan lainnya sedang membangun ekosistem antariksa komersial terintegrasi secara vertikal yang menyaingi model SpaceX dan perusahaan rintisan AS, sehingga terobosan ini dapat menarik investasi swasta, menciptakan siklus inovasi, menurunkan biaya, dan membuka pasar baru.

Meski demikian, dia memperingatkan bahwa dalam jangka panjang negara yang menguasai kemampuan produksi di orbit dapat menjadi pusat atau penentu rantai pasok industri antariksa global, sehingga kepemilikan kapabilitas ini akan menjadi isu strategis bagi banyak negara.

Pada dimensi hukum dan tata kelola global, ia menekankan kerangka hukum antariksa internasional terutama Outer Space Treaty 1967 lahir di era eksplorasi ilmiah dan tidak membayangkan skala komersialisasi serta industrialisasi hari ini, sehingga perjanjian itu ambigu soal hak kepemilikan atas sumber daya yang diekstraksi atau objek yang diproduksi di luar angkasa.

Ia menilai keberhasilan China dalam manufaktur orbital akan menantang ambiguitas itu dan menciptakan urgensi rezim tata kelola baru, karena muncul pertanyaan kompleks tentang kepemilikan komponen yang dicetak di orbit dengan wahana suatu negara namun desainnya mungkin berlisensi perusahaan multinasional, standar keamanan-kualitas produk di luar yurisdiksi teritorial Bumi, serta pencegahan konflik atau insiden dari aktivitas industri di orbit yang semakin padat.

Baca Juga: 
Potongan Video Karaoke Diduga Ricky Harun Bareng LC Hebohkan Media Sosial, Diduga Rekaman Lama

Amijoyo menegaskan China berpotensi bergerak dari rule-taker menjadi rule-maker melalui pembentukan standar teknis, protokol operasi, dan prinsip berbagi manfaat yang selaras kepentingan strategisnya, yang dapat memicu dinamika persaingan antara blok tata kelola Artemis Accords dan blok lain yang mungkin mengkristal di sekitar International Lunar Research Station (ILRS) yang dipimpin China dan Rusia.

Ia memperingatkan fragmentasi tata kelola antariksa berisiko menghambat kerja sama ilmiah, meningkatkan biaya operasi akibat ketidakcocokan standar, dan menciptakan sumber ketegangan baru, sehingga isu ini perlu menjadi perhatian serius masyarakat internasional.

Terakhir, dia menutup dengan kesimpulan bahwa eksperimen pencetakan logam 3D China adalah pernyataan multidimensional, teknis, geopolitik, ekonomi, dan normatif yang memfokuskan perhatian pada perlombaan mendefinisikan ekonomi orbit Bumi dan Bulan, kompetisi ketahanan strategis di domain baru, serta perjuangan merumuskan tata kelola bersama untuk lingkungan bersama umat manusia, karena masa depan antariksa kini ditulis bukan hanya oleh astronom dan insinyur roket tetapi juga oleh pembuat kebijakan, ekonom, ahli strategi, dan ahli hukum, dengan terobosan China sebagai babak pembuka yang dramatis. (ali)

Baca Juga: 
Prabowo Buka Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Tekankan Pemimpin yang Jujur dan Adil

Ia menambahkan bahwa kemampuan memproduksi dan memperbaiki aset di orbit baik satelit pengintai, sistem komunikasi, maupun platform pendukung stecara langsung meningkatkan ketahanan dan kelangsungan operasional aset strategis, karena perawatan dan pencetakan suku cadang di orbit mengurangi kerentanan rantai pasok dari Bumi.

Kesimpulannya, kata dia, terobosan ini harus dibaca sebagai langkah signifikan menuju strategic parity atau bahkan keunggulan China di domain antariksa yang akan berdampak pada keseimbangan kekuatan global yang lebih luas.

Dalam ranah ekonomi dan industri, ia menyebut peristiwa ini sebagai katalis percepatan New Space Economy karena manufaktur di orbit membuka cabang ekonomi baru (in-space manufacturing) di luar model yang selama ini bertumpu pada peluncuran, satelit telekomunikasi, dan penginderaan jauh.

Ia memaparkan bahwa potensinya meliputi produksi paduan logam atau semikonduktor berkualitas unggul karena dibuat dalam mikrogravitasi vakum tinggi, fabrikasi struktur optik raksasa untuk teleskop generasi berikutnya, hingga pencetakan habitat dan infrastruktur pangkalan di Bulan atau Mars.

Amijoyo mengungkapkan desain reusable Lihong-1 Y1 juga menjadi simbol konvergensi program antariksa nasional dan kewirausahaan komersial karena biaya peluncuran rendah dan fleksibilitas tinggi membuatnya menarik bagi riset pemerintah maupun perusahaan swasta yang ingin menguji material, biologi, atau prototipe produk di lingkungan antariksa.

Baca Juga: 
Kepala Daerah Pati dan Madiun Kena OTT, KPK Tegaskan Pengawasan Proyek dan Dana CSR

Ia menambahkan bahwa China melalui entitas seperti CAS Space, Galactic Energy, dan lainnya sedang membangun ekosistem antariksa komersial terintegrasi secara vertikal yang menyaingi model SpaceX dan perusahaan rintisan AS, sehingga terobosan ini dapat menarik investasi swasta, menciptakan siklus inovasi, menurunkan biaya, dan membuka pasar baru.

Meski demikian, dia memperingatkan bahwa dalam jangka panjang negara yang menguasai kemampuan produksi di orbit dapat menjadi pusat atau penentu rantai pasok industri antariksa global, sehingga kepemilikan kapabilitas ini akan menjadi isu strategis bagi banyak negara.

Pada dimensi hukum dan tata kelola global, ia menekankan kerangka hukum antariksa internasional terutama Outer Space Treaty 1967 lahir di era eksplorasi ilmiah dan tidak membayangkan skala komersialisasi serta industrialisasi hari ini, sehingga perjanjian itu ambigu soal hak kepemilikan atas sumber daya yang diekstraksi atau objek yang diproduksi di luar angkasa.

Ia menilai keberhasilan China dalam manufaktur orbital akan menantang ambiguitas itu dan menciptakan urgensi rezim tata kelola baru, karena muncul pertanyaan kompleks tentang kepemilikan komponen yang dicetak di orbit dengan wahana suatu negara namun desainnya mungkin berlisensi perusahaan multinasional, standar keamanan-kualitas produk di luar yurisdiksi teritorial Bumi, serta pencegahan konflik atau insiden dari aktivitas industri di orbit yang semakin padat.

Baca Juga: 
KPK Tetapkan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Kuota Haji

Amijoyo menegaskan China berpotensi bergerak dari rule-taker menjadi rule-maker melalui pembentukan standar teknis, protokol operasi, dan prinsip berbagi manfaat yang selaras kepentingan strategisnya, yang dapat memicu dinamika persaingan antara blok tata kelola Artemis Accords dan blok lain yang mungkin mengkristal di sekitar International Lunar Research Station (ILRS) yang dipimpin China dan Rusia.

Ia memperingatkan fragmentasi tata kelola antariksa berisiko menghambat kerja sama ilmiah, meningkatkan biaya operasi akibat ketidakcocokan standar, dan menciptakan sumber ketegangan baru, sehingga isu ini perlu menjadi perhatian serius masyarakat internasional.

Terakhir, dia menutup dengan kesimpulan bahwa eksperimen pencetakan logam 3D China adalah pernyataan multidimensional, teknis, geopolitik, ekonomi, dan normatif yang memfokuskan perhatian pada perlombaan mendefinisikan ekonomi orbit Bumi dan Bulan, kompetisi ketahanan strategis di domain baru, serta perjuangan merumuskan tata kelola bersama untuk lingkungan bersama umat manusia, karena masa depan antariksa kini ditulis bukan hanya oleh astronom dan insinyur roket tetapi juga oleh pembuat kebijakan, ekonom, ahli strategi, dan ahli hukum, dengan terobosan China sebagai babak pembuka yang dramatis. (ali)

Baca Juga: 
Kementan Buka Dokumen Klarifikasi RS Usai Indah Megahwati Sebarkan Narasi Menyesatkan ke Publik

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/