Ia menilai keberhasilan China mencetak logam 3D di luar angkasa sebagai bukti bahwa manufaktur logam di mikrogravitasi bukan lagi konsep di atas kertas, sebab prosesnya jauh lebih rumit dibandingkan di Bumi akibat suhu ekstrem dan perilaku logam cair yang sulit dikendalikan, namun sistem otomatis dan kendali yang cermat mulai mampu menaklukkan tantangan itu.
Syahid menutup dengan penekanan bahwa pencapaian ini membuka babak baru bagi pengembangan teknologi antariksa sekaligus memperkuat persaingan global di era eksplorasi ruang angkasa modern.
Penanda Air Industrialisasi Antariksa Dan Alarm Tata Kelola Global
Dr. Eng. Andi Amijoyo Mochtar, ST, M.Sc., Kepala Laboratorium Robotika Teknik Mesin Universitas Hasanuddin sendiri dalam kesempatan yang sama menilai keberhasilan China melakukan eksperimen pencetakan logam 3D pertama di luar angkasa pada Januari 2026 sebagai peristiwa yang jauh melampaui narasi pencapaian teknis belaka karena ia adalah penanda air (watershed moment) yang mengkonfirmasi transisi dari era eksplorasi menuju era industrialisasi dan pemukiman antariksa.

Ia menegaskan dampak dan implikasinya harus dibaca melalui lensa tekno-operasional, geopolitik-keamanan, ekonomi-industri, serta hukum dan tata kelola global, karena perubahan yang terjadi bersifat sistemik dan lintas-sektor.
Dari perspektif tekno-operasional, ia menilai capaian tim CAS bersama CAS Space merepresentasikan kematangan sistemik yang langka karena tantangan utama bukan sekadar pencetakan 3D yang sudah lumrah di Bumi, melainkan penguasaan seluruh rantai nilai manufaktur dalam lingkungan yang sangat bermusuhan.
Ia menjelaskan bahwa mikrogravitasi dengan ketiadaan konveksi alamiah dan dominannya gaya permukaan mengacaukan dinamika fluida material leleh sehingga berpotensi memicu cacat struktural fatal, sementara fluktuasi suhu ekstrem antara sinar matahari langsung dan bayangan dingin di ruang hampa menuntut kontrol termal yang presisi dan tangguh.
Lebih lanjut, Amijoyo menilai keberhasilan mengatasi tantangan tersebut melalui desain sistem tertutup, mekanisme umpan balik cerdas, dan koordinasi mulus dengan platform wahana menunjukkan China melampaui tahap riset dasar dan memasuki rekayasa keandalan tinggi untuk aplikasi dunia nyata.
Ia menambahkan bahwa fondasi ini membuka kapabilitas lebih ambisius seperti perakitan struktur besar di orbit (teleskop atau stasiun generasi mendatang), perbaikan dan fabrikasi ulang satelit secara on-orbit, hingga pemanfaatan sumber daya setempat (in-situ resource utilization/ISRU) di Bulan atau asteroid menggunakan regolith atau material lokal sebagai bahan baku pencetakan.
Menurutnya, perubahan itu menggeser paradigma logistik antariksa dari model “bawa semuanya dari Bumi” yang mahal dan rentan menjadi model “buat dan perbaiki di tempat” yang berkelanjutan dan tangguh.
Pada tataran geopolitik dan keamanan, ia menegaskan momentum ini tak terpisahkan dari persaingan strategis abad ke-21 antara Amerika Serikat dan China, ketika ruang angkasa menjadi domain prestise nasional dan proyeksi kekuatan.
Ia menilai Program Artemis pimpinan AS beserta Artemis Accords bertujuan bukan hanya mengembalikan manusia ke Bulan, tetapi membentuk konsensus global tentang norma, standar, dan prinsip eksplorasi serta pemanfaatan sumber daya antariksa, sehingga manufaktur orbital China muncul sebagai counter-narrative dan counter-capability yang kuat.
Dia menekankan bahwa capaian ini menunjukkan China bukan sekadar pengikut melainkan pemain inovatif yang mampu menetapkan tonggak sejarahnya sendiri, dan dalam doktrin civil-military fusion kemajuan sipil seperti ini memiliki jalur konversi cepat untuk aplikasi keamanan nasional.

