24 C
Makassar
3 February 2026, 8:07 AM WITA

Terobosan Pencetakan Logam 3D China Menandai Era Baru Industri Antariksa Global

Wahana Lihong-1 Y1, yang dikenal berbiaya peluncuran rendah dan fleksibilitas tinggi, kini dipandang sebagai platform uji yang andal bagi berbagai eksperimen ilmiah suborbital di masa depan.

Benih Mawar Dan Masa Depan Ketahanan Pangan Di Luar Bumi

Selain fasilitas pencetakan logam 3D, muatan wahana juga membawa benih mawar untuk proyek riset pertanian antariksa, yang bertujuan memahami adaptasi biologis tanaman terhadap kondisi mikrogravitasi dan radiasi kosmik.

Pengembangan pertanian antariksa ini dinilai relevan bagi ketahanan pangan jangka panjang umat manusia, khususnya dalam konteks misi luar angkasa berdurasi panjang dan kolonisasi planet lain.

Wahana tersebut dirancang untuk penggunaan ulang berkali-kali, dan Wakil Kepala Perancangnya, Wang Yingcheng, menyatakan bahwa pengujian lanjutan tengah dilakukan untuk menambahkan sistem pendukung kehidupan awak dan teknologi pelolosan berkeandalan tinggi.

Menurut Wang, pengembangan ini akan memperkuat kemampuan eksperimen ilmiah suborbital berbiaya rendah sekaligus membuka peluang baru bagi wisata antariksa komersial, menandai konvergensi antara kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan aplikasi kemanusiaan di era eksplorasi ruang angkasa modern.

Baca Juga: 
Ancaman Tarif Trump Picu Perlawanan Kolektif Uni Eropa

Pandangan Akademisi Unhas: Dari Imajinasi Ilmiah Menjadi Kenyataan Rekayasa

Dr. Muhammad Syahid Arsyad, ST., MT., Ketua Departemen Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, dalam wawancaranya kepada SulawesiPos.com pada Senin (26/1/2026), menilai fenomena ini sebagai momen penting dalam perkembangan teknologi antariksa dunia, khususnya pada pencetakan logam 3D di lingkungan tanpa gravitasi, karena sejak lama para ilmuwan membayangkan masa depan ketika sumber daya luar angkasa seperti logam dari asteroid atau benda

Dr. Muhammad Syahid Arsyad, ST., MT., Ketua Departemen Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, yang menyoroti pencetakan logam 3D di luar angkasa sebagai tonggak transisi dari imajinasi ilmiah menuju kemandirian teknologi dan manufaktur antariksa global.
Dr. Muhammad Syahid Arsyad, ST., MT., Ketua Departemen Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, yang menyoroti pencetakan logam 3D di luar angkasa sebagai tonggak transisi dari imajinasi ilmiah menuju kemandirian teknologi dan manufaktur antariksa global.

Ia menegaskan bahwa meski gagasan tersebut selama ini dihadapkan pada tantangan besar dari sisi teknologi, biaya, maupun aturan internasional, kemajuan terbaru menunjukkan ide itu bergerak dari ranah imajinasi menuju kenyataan ilmiah.

Syahid juga memperkirakan kebutuhan produk manufaktur di luar angkasa akan terus meningkat karena pembangunan stasiun orbital, misi eksplorasi jarak jauh, hingga wacana pabrik dan permukiman antariksa menuntut ketersediaan komponen dan peralatan yang andal.

Menurutnya, jika seluruh kebutuhan itu harus dikirim dari Bumi maka biaya dan risikonya akan sangat tinggi sehingga kemampuan memproduksi komponen langsung di orbit menjadi solusi strategis, walau masih menghadapi kendala seperti efisiensi energi dan keselamatan proses.

Baca Juga: 
Di Rakornas Pemerintah Pusat–Daerah 2026, Presiden Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan Pilar Utama Bangsa

Wahana Lihong-1 Y1, yang dikenal berbiaya peluncuran rendah dan fleksibilitas tinggi, kini dipandang sebagai platform uji yang andal bagi berbagai eksperimen ilmiah suborbital di masa depan.

Benih Mawar Dan Masa Depan Ketahanan Pangan Di Luar Bumi

Selain fasilitas pencetakan logam 3D, muatan wahana juga membawa benih mawar untuk proyek riset pertanian antariksa, yang bertujuan memahami adaptasi biologis tanaman terhadap kondisi mikrogravitasi dan radiasi kosmik.

Pengembangan pertanian antariksa ini dinilai relevan bagi ketahanan pangan jangka panjang umat manusia, khususnya dalam konteks misi luar angkasa berdurasi panjang dan kolonisasi planet lain.

Wahana tersebut dirancang untuk penggunaan ulang berkali-kali, dan Wakil Kepala Perancangnya, Wang Yingcheng, menyatakan bahwa pengujian lanjutan tengah dilakukan untuk menambahkan sistem pendukung kehidupan awak dan teknologi pelolosan berkeandalan tinggi.

Menurut Wang, pengembangan ini akan memperkuat kemampuan eksperimen ilmiah suborbital berbiaya rendah sekaligus membuka peluang baru bagi wisata antariksa komersial, menandai konvergensi antara kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan aplikasi kemanusiaan di era eksplorasi ruang angkasa modern.

Baca Juga: 
Mendes Yandri Sebut Telah Susun 12 Rencana Aksi untuk Wujudkan Asta Cita Prabowo dalam Perayaan Hari Desa Nasional

Pandangan Akademisi Unhas: Dari Imajinasi Ilmiah Menjadi Kenyataan Rekayasa

Dr. Muhammad Syahid Arsyad, ST., MT., Ketua Departemen Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, dalam wawancaranya kepada SulawesiPos.com pada Senin (26/1/2026), menilai fenomena ini sebagai momen penting dalam perkembangan teknologi antariksa dunia, khususnya pada pencetakan logam 3D di lingkungan tanpa gravitasi, karena sejak lama para ilmuwan membayangkan masa depan ketika sumber daya luar angkasa seperti logam dari asteroid atau benda

Dr. Muhammad Syahid Arsyad, ST., MT., Ketua Departemen Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, yang menyoroti pencetakan logam 3D di luar angkasa sebagai tonggak transisi dari imajinasi ilmiah menuju kemandirian teknologi dan manufaktur antariksa global.
Dr. Muhammad Syahid Arsyad, ST., MT., Ketua Departemen Teknik Mesin Universitas Hasanuddin, yang menyoroti pencetakan logam 3D di luar angkasa sebagai tonggak transisi dari imajinasi ilmiah menuju kemandirian teknologi dan manufaktur antariksa global.

Ia menegaskan bahwa meski gagasan tersebut selama ini dihadapkan pada tantangan besar dari sisi teknologi, biaya, maupun aturan internasional, kemajuan terbaru menunjukkan ide itu bergerak dari ranah imajinasi menuju kenyataan ilmiah.

Syahid juga memperkirakan kebutuhan produk manufaktur di luar angkasa akan terus meningkat karena pembangunan stasiun orbital, misi eksplorasi jarak jauh, hingga wacana pabrik dan permukiman antariksa menuntut ketersediaan komponen dan peralatan yang andal.

Menurutnya, jika seluruh kebutuhan itu harus dikirim dari Bumi maka biaya dan risikonya akan sangat tinggi sehingga kemampuan memproduksi komponen langsung di orbit menjadi solusi strategis, walau masih menghadapi kendala seperti efisiensi energi dan keselamatan proses.

Baca Juga: 
Ancaman Tarif Trump Picu Perlawanan Kolektif Uni Eropa

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/